Selasa, 13 Agustus 2019

MACAM-MACAM IHSAN (KELAS XII IPA 5-IPA 4-IPA 3-IPA 7)


Macam – Macam Ihsan

A.      Ihsan kepada Allah

 Ihsan di dalam beribadah kepada Al-khaliq memiliki dua tingkatan:
§  Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, ini adalah ibadah dari seseorang yang mengharapkan rahmat dan ampunan-Nya. Nama lain dari perbuatan ini disebut Maqam al-Musyahadah (مقام المشاهدة). Dan keadaan ini merupakan tingkatan ihsan yang paling tinggi, karena dia berangkat dari sikap membutuhkan, harapan dan kerinduan. Dia menuju dan berupaya mendekatkan diri kepada-Nya. Sikap seperti ini membuat hatinya terang-benderang dengan cahaya iman dan merefleksikan pengetahuan hati menjadi ilmu pengetahuan, sehingga yang abstrak menjadi nyata.
§  Jika kamu tidak mampu beribadah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu, dan ini ibadah dari seseorang yang lari dari adzab dan siksanya. Dan hal ini lebih rendah tingkatannya daripada tingkatan yang pertama, karena sikap ihsannya didorong dari rasa diawasi, takut akan hukuman. Sehingga, dari sini, ulama salaf berpendapat bahwa, "Barangsiaa yang beramal atas dasar melihat Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka dia seorang yang arif, sedang siapapun yang bermal karena merasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka dia seorang yang ikhlas (mukhlis)."
§  Maka suatu ibadah dibangun atas dua hal ini, puncak kecintaan dan kerendahan, maka pelakunya akan menjadi orang yang ikhlas kepada Allah. Dengan ibadah yang seperti itu seseorang tidak akan bermaksud supaya di lihat orang (riya'), di dengar orang (sum'ah) maupun menginginkan pujian dari orang atas ibadahnya tersebut. Tidak peduli ibadahnya itu tampak oleh orang maupun tidak diketahui orang, sama saja kualitas kebagusan ibadahnya. Muhsinin (seseorang yang berbuat ihsan) akan selalu membaguskan ibadahnya disetiap keadaan.

B.      Ihsan kepada makhluk ciptaan Allah

Berbuat ihsan kepada makhluk ciptaan Allah dalam empat hal, yaitu:
·         Harta
Yaitu dengan cara berinfak, bersedekah dan mengeluarkan zakat. Jenis perbuatan ihsan dengan harta yang paling mulia adalah mengeluarkan zakat karena dia termasuk di dalam Rukun Islam. Kemudian juga nafkah yang wajib diberikan kepada orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya seperti istri, anak, orang-tua, dll. Kemudian sedekah bagi orang miskin dan orang yang membutuhkan lainnya.
·         Kedudukan
Manusia itu bertingkat-tingkat jabatannya. Sehingga apabila dia memiliki kedudukan yang berwenang maka digunakannya untuk membantu orang lain dalam hal menolak bahaya ataupun memberikan manfaat kepada orang lain dengan kekusaannya tersebut.
·         Ilmu
Yakni memberikan ilmu bermanfaat yang diketahuinya kepada orang lain, dengan cara mengajarkannya.
·         Badan
Yakni menolong seseorang dengan tenaganya. membawakan barang-barang orang yang keberatan, mengantarkan orang untuk menunjukan jalan, dan ini termasuk bentuk sedekah dan bentuk ihsan kepada makhluk Tuhan.

Jumat, 09 Agustus 2019

QS Luqman ayat 13-14 dan Al Baqoroh 83 tentang berbuat baik kepada orang lain kelas 12 ipa3 dan 12 ips 2


Ayat dan Hadis tentang Ihsan
Dalam Shahih Muslim dari Umar bin Khattab dan dua riwayat dari Abu Hurairah pada Shahihain:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: "Pada suatu hari, rasulullah S.A.W muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seseorang dan berkata: 'Wahai rasulullah, apakah Iman itu?' Rasulullah S.A.W bersabda: 'Yaitu engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan beriman kepada Hari Kebangkitan akhir'.
Orang itu bertanya lagi: 'Wahai rasulullah, apakah Islam itu?' Rasulullah S.A.W bersabda: 'Islam, yaitu engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan salat fardhu, memberikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan'.
Orang itu kembali bertanya: 'Wahai rasulullah, apakah Ihsan itu?' Rasulullah S.A.W bersabda: 'Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu'.
Orang itu bertanya lagi: 'Wahai rasulullah, kapankah Hari Kiamat itu?' Rasulullah S.A.W bersabda: 'Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang menanya. Apabila ada budak perempuan melahirkan majikannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila ada orang yang semula miskin menjadi pimpinan manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila orang-orang yang tadinya menggembalakan ternak saling berlomba memperindah bangunan, maka itu termasuk di antara tandanya. Ada lima hal yang hanya diketahui oleh Allah'.
Kemudian rasulullah S.A.W membaca surat Luqman ayat 34: "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja lah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim, dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorang pun dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".
Kemudian orang itu berlalu. Lalu rasulullah S.A.W bersabda: 'Panggillah orang itu kembali!'. Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat sesuatu pun. Maka rasulullah S.A.W bersabda: 'Itu tadi adalah Jibril, yang datang untuk mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka'.

Surah Luqman ayat 13 dan 14

13. wa-idz qaala luqmaanu liibnihi wahuwa ya’izhuhu yaa bunayya laa tusyrik biallaahi inna alsysyirka lazhulmun ‘azhiimun
Terjemahan (artinya)
13.Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
14. wawashshaynaa al-insaana biwaalidayhi hamalat-hu ummuhu wahnan ‘alaa wahnin wafishaaluhu fii ‘aamayni ani usykur lii waliwaalidayka ilayya almashiiru
Terjemahan (artinya)
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
kanduagan:
1. Larangan menyekutukan Allah Ta’ala
2. Larangan berbuat Syirik
3.Kewajiban berbakti kepada ibu dan bapak
4. Menjalin hubungan baik dengan sesama manusia
5. Bersyukur kepada Allah SWT dan kedua orang tua
Surah Al Baqarah Ayat  83
 Wa iż akhażnā mīṡāqa banī isrā`īla lā ta'budụna illallāha wa bil-wālidaini iḥsānaw wa żil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wa qụlụ lin-nāsi ḥusnaw wa aqīmuṣ-ṣalāta wa ātuz-zakāh, ṡumma tawallaitum illā qalīlam mingkum wa antum mu'riḍụn
Terjemah Arti
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.
Kandungan:

Senin, 05 Agustus 2019

Soal bab 2
I. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e yang dianggap sebagai jawaban yang paling tepat!
1. Pada lafal إِسْرَائِيلَ terdapat hukum bacaan Mad . . . .
a. Tabi’i                 b. ‘Iwad                 c. Wajib Muttasil d. Jaiz Munfasil  e. ‘Arid Lissukun
2. Perhatikan potongan ayat berikut وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ  Potongan ayat di atas mengandung perintah … .
a. menyantuni anak yatim                b. berbicara sopan kepada guru       c. bersedekah kepada fakir miskin
d. berlaku sopan terhadap orangtua               e. berbicara santun dengan sesama manusia
3. Kata “Ihsan” dari sisi bahasa artinya . . . .
a. baik    b. indah                c. kebaikan           d. berbuat baik     e. berkata sopan
 4. Berikut ini yang tidak termasuk bentuk perilaku Ihsan kepada tetangga ialah . . . .
a. menjenguk tetangga yang sakit.  b. membayar hutang setelah ditagih .            c. menyapa dengan senyum yang ramah.
 d. berbagi oleh-oleh setelah pulang kampung.             e. mengembalikan piring dalam keadaan bersih.
5. Berikut ini yang merupakan perilaku Ihsan kepada alam ialah . . . .
 a. menebang pohon dan menjualnya.           b. memelihara kucing untuk menangkap tikus.
 c. menebang pohon dan menanam benih yang baru.                d. menjaring ikan dengan produk teknologi canggih.                
e. menyelamatkan gajah untuk dimanfaatkan gadingnya .
 II. Jawablah pertanyaan berikut dengan benar dan tepat!
1. Sebutkan pengertian Ihsan!
2. Jelaskan cara berlaku Ihsan kepada Allah Swt.!
3. Jelaskan cara berlaku Ihsan kepada binatang yang boleh dimakan!
4. Sebutkan 5 (lima) contoh perilaku manusia yang bertentangan dengan prinsip Ihsan terhadap alam!

 5. Berikan contoh-contoh Ihsan yang terkandung dalam ayat 83 surat al Baqarah!


Selasa, 30 Juli 2019


BAHAN AJAR


Sekolah                                                 :SMA Al Azhar 3 B. Lampung
Mata Pelajaran                    : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester                    : XII/Ganjil
Materi Pokok                       : Q.S. Ali Imran/3: 190-191, dan Q.S. Ali Imran/3: 159
Alokasi Waktu                     : 3 Minggu x 3 Jam Pelajaran @45 Menit

A.      Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
1.1       Terbiasa membaca al-Qur’an sebagai pengamalan dengan meyakini bahwa agama mengajarkan kepada umatnya untuk berpikir kritis dan bersikap demokratis
·        Terbiasa membaca al-Qur’an sebagai pengamalan dengan meyakini bahwa agama mengajarkan kepada umatnya untuk berpikir kritis dan bersikap demokratis
2.1       Bersikap kritis dan demokratis sesuai dengan pesan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan159, serta Hadis terkait
·        Bersikap kritis dan demokratis sesuai dengan pesan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan159, serta Hadis terkait
3.1       Menganalisis dan mengevaluasi makna Q.S. Ali Imran/3: 190-191, dan Q.S. Ali Imran/3: 159, serta Hadis tentang berpikir kritis dan bersikap demokratis
·        Menjelaskan cara membaca  Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 sesuai dengan kaidah tajwid;
·        Mengidentifikasi hukum bacaan (tajwid) Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·        Menterjemahkan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.
·        Menjelaskan asbabun nuzul Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·        Mengidentifikasi makna Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.
·        Menjelaskan pesan-pesan yang terkandung paqda Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait
·        Menjelaskan manfat berpikir kritis dan bersikap demokratis sesuai dengan kandungan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·        Menganalisis hukum bacaan, makna, pesan-pesan yang terdapat pada Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159
·        Menjelaskan sikap kritis dan demokratis dengan ciri orang-orang berakal (ulil albab) sesuai pesan  Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159
·        Menyimpulkan hukum bacaan, makna, pesan-pesan, hikmah dan manfaat yang terdapat pada Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159
4.1.1    Membaca Q.S. Ali Imran/3: 190-191, dan Q.S. Ali Imran/3: 159,; sesuai dengan kaidah tajwid dan makharijul-huruf

4.1.2    Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Ali Imran/3: 190-191, dan Q.S. Ali Imran/3: 159, dengan lancar

4.1.3    Menyajikan keterkaitan antara sikap kritis dengan ciri orang-orang berakal (ulil albab) sesuai pesan Q.S. Ali Imran/3: 190-191
·        Mendemonstrasikan bacaan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159, sesuai dengan kaidah tajwid dan makharijul huruf.
·        Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 dengan fasih dan lancar.
·        Menyajikan hukum bacaan yang terdapat pada Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·        Menyajikan makna Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.
·        Menyajikan pesan-pesan, hikmah dan manfaat yang terkandung dalam  Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait
·        Menyajikan paparan keterkaitan antara sikap kritis dengan ciri orang-orang berakal (ulil albab) sesuai dengan pesan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 serta hadits terkait.
·        Menyajikan paparan keterkaitan antara sikap demokratis dengan kandungan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.

B.      Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:
·         Terbiasa membaca al-Qur’an sebagai pengamalan dengan meyakini bahwa agama mengajarkan kepada umatnya untuk berpikir kritis dan bersikap demokratis
·         Bersikap kritis dan demokratis sesuai dengan pesan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan159, serta Hadis terkait
·         Menjelaskan cara membaca  Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 sesuai dengan kaidah tajwid;
·         Mengidentifikasi hukum bacaan (tajwid) Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·         Menterjemahkan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.
·         Menjelaskan asbabun nuzul Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·         Mengidentifikasi makna Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.
·         Menjelaskan pesan-pesan yang terkandung paqda Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait
·         Menjelaskan manfat berpikir kritis dan bersikap demokratis sesuai dengan kandungan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·         Menganalisis hukum bacaan, makna, pesan-pesan yang terdapat pada Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159
·         Menjelaskan sikap kritis dan demokratis dengan ciri orang-orang berakal (ulil albab) sesuai pesan  Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159
·         Menyimpulkan hukum bacaan, makna, pesan-pesan, hikmah dan manfaat yang terdapat pada Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159
·         Mendemonstrasikan bacaan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159, sesuai dengan kaidah tajwid dan makharijul huruf.
·         Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 dengan fasih dan lancar.
·         Menyajikan hukum bacaan yang terdapat pada Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·         Menyajikan makna Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.
·         Menyajikan pesan-pesan, hikmah dan manfaat yang terkandung dalam  Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait
·         Menyajikan paparan keterkaitan antara sikap kritis dengan ciri orang-orang berakal (ulil albab) sesuai dengan pesan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 serta hadits terkait.
·         Menyajikan paparan keterkaitan antara sikap demokratis dengan kandungan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.













C.      Materi Pembelajaran

‘BERPIKIR KRITIS DAN BERSIKAP DEMOKRATIS’
Makna Berpikir Kritis
Berpikir kritis, sifat ini adalah sikap dan perilaku yang berdasarkan data dan fakta yang valid (sah) serta argumen yang akurat. Warga negara yang demokrat hendaknya selalu bersikap kritis, baik terhadap kenyataan empiris (realitas sosial,budaya, dan politik) maupun terhadap kenyataan supraempiris (agama, mitologi, dan kepercayaan). Sikap kritis juga harus ditujukan pada diri sendiri. Sikap kritis pada diri sendiri itu tentu disertai sikap kritis terhadap pendapat yang berbeda.
Makna Bersikap Demokratis
Pengertian demokrasi dapat dilihat dari tinjauan (etimologis) dan istilah (terminologis).Dalam agama islam, sejatinya tidak dikenal istilah demokrasi. Orang-orang islam hanya mengenal kebebasan (al-hurriyah) yang merupakan pilar utama demokrasi yang diwarisi semenjak zaman nabi Muhammad saw., termasuk didalamnya kebebasan memilih pemimpin, mengelola negara secara bersama-sama (syura), kebebasan mengkritisi penguasa, dan kebebasan berpendapat.
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah swt-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, dan apabila kamu telah membulatkan tekad maka berdakwahlah kepada Allah swt, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali Imran: 159).Surah Ali ‘Imran ayat 159 membahas tentang tata cara melakukan musyawarah. Ayat ini diturunkan sebagai teguran terhadap sikap para sahabat Rasulullah Saw. yang telah menyepakati keputusan musyawarah dalam menerapkan strategi Perang Uhud, tetapi mereka melanggar kesepakatan tersebut. Oleh karena sikap melanggar dari keputusan musyawarah dalam Perang Uhud, kaum muslimin menjadi sulit mengalahkan musuh.
Ayat-ayat Alquran tentang Berpikir Kritis dan Bersikap Demokratis
1. Surah Ali ‘Imran Ayat 190-191
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
190-191رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).
  Dalam ayat 190 menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam tatanan langit dan bumi serta keindahan perkiraan dan keajaiban ciptaan-Nya juga dalam silih bergantinya siang dan malam secara teratur sepanjang tahun yang dapat kita rasakan langsung pengaruhnya pada tubuh kita dan cara berpikir kita karena pengaruh panas matahari, dinginnya malam, dan pengaruhnya yang ada pada dunia flora dan fauna merupakan tanda bukti yang menunjukan keesaan Allah Awt., kesempurnaan pengetahuan dan kekuasaannya.

  2. Surah Ali ‘Imran Ayat 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُعَنْ
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah swt-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, dan apabila kamu telah membulatkan tekad maka berdakwahlah kepada Allah swt, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali Imran: 159).
Surah Ali ‘Imran ayat 159 membahas tentang tata cara melakukan musyawarah. Ayat ini diturunkan sebagai teguran terhadap sikap para sahabat Rasulullah Saw. yang telah menyepakati keputusan musyawarah dalam menerapkan strategi Perang Uhud, tetapi mereka melanggar kesepakatan tersebut. Oleh karena sikap melanggar dari keputusan musyawarah dalam Perang Uhud, kaum muslimin menjadi sulit mengalahkan musuh.
Asababun nuzul turunnya ayat 190-191 :Ath-Thabrani dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “orang-orang Quraisy mendatangi orang-orang Yahudi dan bertanya kepada mereka, apa tanda-tanda yang dibawa Musa kepada kalian?” orang-orang Yahudi itu menjawab “Tongkat dan tangan yang putih bagi orang-orang yang melihatnya.” Lalu orang-orang Quraisy itu mendatangi orang-orang Nasrani, lalu bertanya kepada mereka, “apa tanda-tanda yang diperlihatkan Isa?.” Mereka menjawab, “Dia dulu menyembuhkan orang yang buta, orang yang sakit kista dan menghidupkan orang mati.” Lalu mereka mendatangi Nabi SAW. lalu berkata kepada beliau, “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk mengubah bukit shafa menjadi emas untuk kami’’. ayat ini turun karena kejahilan orang-orang Quraisy yang meminta bukti kenabian Rasulullah dan kebenaran ketuhanan ALLAH. Kemudian ALLAH menurunkan ayat ini untuk menajdai jawaban bagi Rasulullah bagi orangorang quraisy.
Isi Kandungan Al-Qur'an Surat Ali Imran: 190-191.
  Tujuan dari ayat ini adalah sebagai pembuktian tentang tauhid, keesaan, dan kekuasaan Allah Swt. Hukum-hukum alam yang melahirkan kebiasaan-kebiasaan pada hakikatnya ditetapkan dan diatur oleh Allah Swt Yang Maha Hidup lagi Qayyum (Maha Menguasai dan Maha Mengelola segala sesuatu). sesungguhnya dalam penciptaan, yakni kejadian benda-benda angkasa seperti matahari, bulan, dan jutaan gugusan bintang –bintang yang terdapat di langit, terdapat tanda-tanda kemahakuasaan allah bagi ulul yakni orang-orang yang memiliki akal yang murni.
Isi Kandungan Al-Qur'an Surat Ali Imran Ayat 159
  Ayat di atas menjelaskan bahwa meskipun dalam keadaan genting, seperti terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam perang Uhud sehingga menyebabkan kaum muslimin menderita kekalahan, tetapi Rasulullah saw. tetap lemah lembut dan tidak marah terhadap para pelanggar, bahkan memaafkan dan memohonkan ampun untuk mereka. Seandainya Rasulullah bersikap keras, tentu mereka akan menaruh benci kepada beliau. Dalam pergaulan sehari-hari, beliau juga senantiasa memberi maaf terhadap orang yang berbuat salah serta memohonkan ampun kepada Allah Swt. terhadap kesalahan-kesalahan mereka.
Perilaku yang mencerminkan sikap berpikir kritis dan bersikap demokratis dalam hidup sehari-hari
  Selalu melalukan tafakur dan tadabur untuk mengambil hikmah dari segala ciptaan Allah Ta’ala.
  Bersikap lemah lembut dalam menyelesaikan masalah dan tidak bertindak kasar.
  Berlapang dadam,pemaaf,dan memohonkan ampun kepada Allah Ta’ala.
  Mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan setiap persoalan.
  Menerima dan taat dalam melaksanakan keputusan musyawarah.
  Selalu berserah diri kepada Allah Ta’ala.

Hikmah sikap berpikir kritis dan bersikap demokratis dalam hidup sehari-hari.
  Berhati-hati dalam segala aktivitas
  Tidak mudah terpengaruh oleh isu dan provokasi.
  Tidak menghina kekurangan orang lain.
  Mempunyai banyak teman.
  Menghormati pendapat orang lain.
  Mengutamakan kepentingan bersama.
  Mudah memaafkan kesalahan orang lain.
  Berserah diri kepada Allah Ta’ala dan bertawakal dalam segala urusan