Senin, 03 Agustus 2026

KELAS 12 TENTANG IMAN PERTUAN KE 4

 MENYALAKAN IMAN SERTA PENGERTIANNYA

1. Identitas :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 3 Agustus 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : A. Menyalakan Iman serta Pengertiannya

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian iman menurut bahasa dan istilah.

2.Peserta didik mampu menjelaskan makna dan pentingnya menyalakan (menghidupkan) iman dalam kehidupan sehari-hari.

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi tanda-tanda iman yang kuat dan iman yang lemah.

4.Peserta didik mampu menerapkan cara-cara menyalakan iman agar senantiasa kokoh dan istiqamah.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Anfal (8) : 2

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”

Kaitan dengan materi :

Ayat ini menjelaskan bahwa iman bukanlah sesuatu yang tetap dan diam, melainkan dapat bertambah dan berkurang. Iman yang sejati ditandai dengan hati yang bergetar saat mengingat Allah dan bertambah keyakinannya ketika mendengar ayat-ayat-Nya. Hal ini menunjukkan pentingnya senantiasa 'menyalakan' atau menghidupkan iman agar tidak padam dan semakin kuat dari waktu ke waktu.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Menyalakan Iman serta Pengertiannya.

Berikut ini materinya :

A. Pengertian Iman

Secara bahasa, iman (al-iman) berasal dari kata amana-yu'minu yang berarti percaya atau membenarkan. Secara istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan (tashdiqun bil qalbi, wa iqrarun bil lisan, wa 'amalun bil arkan). Iman mencakup enam pokok keyakinan yang disebut rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qada dan qadar.

B. Iman Bersifat Fluktuatif (Yazidu wa Yanqusu)

Iman seorang muslim tidak selalu berada pada satu tingkatan yang sama, melainkan dapat bertambah (yazid) ketika seseorang rajin beribadah dan berbuat kebaikan, dan dapat berkurang (yanqus) ketika seseorang lalai, bermaksiat, atau jauh dari mengingat Allah. Oleh karena itu, iman perlu senantiasa dijaga, dirawat, dan 'dinyalakan' agar tidak meredup dan padam.

C. Makna Menyalakan Iman

Menyalakan iman berarti upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk menghidupkan, menguatkan, dan menumbuhkan kembali semangat keimanan dalam diri, terutama ketika iman terasa lemah, futur (menurun semangat ibadahnya), atau mulai lalai dari mengingat Allah. Sebagaimana api yang perlu terus dijaga agar tidak padam, iman juga memerlukan perawatan yang terus-menerus melalui berbagai amal saleh.

D. Tanda-Tanda Iman yang Kuat (Menyala)

•Hati merasa tenang dan bergetar ketika mendengar nama dan ayat-ayat Allah dibacakan.

•Bersemangat dan istiqamah dalam melaksanakan ibadah, seperti salat dan membaca Al-Qur'an.

•Senantiasa bertawakal dan berserah diri kepada Allah dalam segala urusan.

•Memiliki akhlak yang baik dan senang berbuat kebaikan kepada sesama.

E. Tanda-Tanda Iman yang Lemah (Padam)

•Malas dan sering menunda-nunda ibadah.

•Hati terasa keras dan tidak tersentuh ketika mendengar nasihat atau ayat Al-Qur'an.

•Mudah tergoda melakukan perbuatan maksiat tanpa rasa bersalah.

•Kurang peduli terhadap sesama dan mudah berputus asa dari rahmat Allah.

F. Cara-Cara Menyalakan Iman

•Membaca dan merenungkan (tadabbur) ayat-ayat Al-Qur'an secara rutin.

•Memperbanyak zikir dan mengingat Allah dalam setiap keadaan.

•Menjaga salat lima waktu dan memperbanyak ibadah sunnah.

•Bergaul dengan lingkungan dan teman yang saleh serta menghadiri majelis ilmu.

•Merenungkan nikmat, ujian, dan kekuasaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

•Menjauhi perbuatan maksiat dan segera bertaubat apabila melakukan kesalahan.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan menjadi motivasi bagi kalian untuk senantiasa menjaga dan menyalakan iman dalam kehidupan sehari-hari.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

5.Jelaskan pengertian iman menurut bahasa dan istilah!

6.Jelaskan mengapa iman disebut bersifat fluktuatif (dapat bertambah dan berkurang)!

7.Sebutkan minimal tiga tanda iman yang kuat dan tiga tanda iman yang lemah!

8.Uraikan minimal empat cara yang dapat dilakukan untuk menyalakan (menguatkan) iman!

9.Ceritakan satu pengalamanmu ketika berhasil mengembalikan semangat ibadah setelah merasa iman sedang lemah/futur!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

KELAS X PERTUAN KE 4

                                 SYU'ABUL IMAN: DEFINISI DAN DALIL NAQLI

1. Identitas :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 3 Agustus 2026

Kelas                 : X / Semester Ganjil

Materi                 : Syu'abul Iman: Definisi dan Dalil Naqli

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian syu'abul iman (cabang-cabang iman).

2.Peserta didik mampu menyebutkan dan menjelaskan dalil naqli yang berkaitan dengan syu'abul iman.

3.Peserta didik mampu mengklasifikasikan cabang-cabang iman berdasarkan kategori hati, lisan, dan perbuatan anggota badan.

4.Peserta didik mampu memberikan contoh penerapan cabang-cabang iman dalam kehidupan sehari-hari.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Baqarah (2) : 177

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Hadis Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam (Dalil Naqli Utama)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan la ilaha illallah, dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim)

Kaitan dengan materi :

Ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa iman bukan sekadar keyakinan dalam hati, melainkan terwujud dalam berbagai bentuk amal, mulai dari ucapan yang paling agung yaitu kalimat tauhid hingga perbuatan sederhana seperti menyingkirkan gangguan dari jalan. Hal ini menjadi dasar utama (dalil naqli) tentang adanya syu'abul iman, yaitu cabang-cabang iman yang jumlahnya sangat banyak dan meliputi seluruh aspek kehidupan seorang muslim.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Syu'abul Iman: Definisi dan Dalil Naqli.

Berikut ini materinya :

A. Pengertian Syu'abul Iman

Secara bahasa, syu'abul iman berasal dari kata syu'bah (cabang/bagian) dan iman (keyakinan). Secara istilah, syu'abul iman adalah cabang-cabang atau bagian-bagian dari iman yang mencakup seluruh bentuk keyakinan, ucapan, dan perbuatan yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang. Konsep ini menegaskan bahwa iman bukan hanya berada dalam hati, tetapi juga harus terwujud dalam ucapan lisan dan amal perbuatan anggota badan.

B. Dalil Naqli tentang Syu'abul Iman

Dasar utama tentang syu'abul iman terdapat dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, yang menjelaskan bahwa iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, dengan cabang tertinggi berupa kalimat tauhid (la ilaha illallah) dan cabang terendah berupa menyingkirkan gangguan dari jalan, serta rasa malu sebagai salah satu cabang iman. Selain itu, QS. Al-Baqarah ayat 177 juga menguraikan berbagai bentuk kebajikan yang termasuk cabang keimanan, seperti percaya kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab, nabi, berinfak, mendirikan salat, menunaikan zakat, menepati janji, dan bersabar.

C. Klasifikasi Cabang-Cabang Iman

•Amalan hati (qalbiyyah) — yaitu keyakinan batin, seperti iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, qada dan qadar, rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, ikhlas, tawakal, serta rasa takut dan berharap kepada Allah.

•Amalan lisan (qauliyyah) — yaitu ucapan yang menunjukkan keimanan, seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdakwah, dan menyampaikan kebenaran.

•Amalan anggota badan (amaliyyah) — yaitu perbuatan nyata sebagai wujud iman, seperti mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa, menuntut ilmu, menjaga kebersihan, berbuat baik kepada sesama, hingga menyingkirkan gangguan dari jalan.

D. Contoh Penerapan Cabang-Cabang Iman dalam Kehidupan Sehari-hari

•Mengucapkan kalimat tauhid dan menjaga keyakinan kepada Allah dalam setiap keadaan.

•Menjaga lisan dari perkataan dusta, ghibah, dan perkataan yang menyakiti orang lain.

•Rajin melaksanakan salat, membaca Al-Qur'an, dan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.

•Bersikap malu untuk melakukan perbuatan tercela sebagai bentuk kehalusan iman.

•Peduli terhadap lingkungan, misalnya dengan menyingkirkan benda berbahaya dari jalan umum.

E. Hikmah Mempelajari Syu'abul Iman

•Memahami bahwa iman mencakup seluruh aspek kehidupan, tidak hanya keyakinan hati semata.

•Memotivasi diri untuk senantiasa meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak.

•Menyadarkan bahwa amal sekecil apa pun, seperti menyingkirkan gangguan dari jalan, tetap bernilai sebagai bagian dari iman.

•Membentuk pribadi muslim yang utuh, baik dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan mendorong kalian untuk mengamalkan cabang-cabang iman dalam kehidupan sehari-hari.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

5.Jelaskan pengertian syu'abul iman menurut bahasa dan istilah!

6.Sebutkan dan jelaskan dalil naqli (hadis) yang menjadi dasar utama konsep syu'abul iman!

7.Jelaskan tiga klasifikasi cabang-cabang iman beserta masing-masing satu contohnya!

8.Mengapa cabang iman yang paling tinggi adalah kalimat tauhid dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan? Jelaskan maknanya!

9.Berikan satu contoh penerapan cabang iman dalam kehidupanmu sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

X – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

Kamis, 30 Juli 2026

MANFAAT HIDUP SABAR 12

 MANFAAT HIDUP SABAR

1. Identitas :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : KAMIS/ 30 Juli 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : Manfaat Hidup Sabar

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian sabar sebagai bagian dari akhlak mulia.

2.Peserta didik mampu mengidentifikasi manfaat hidup sabar bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

3.Peserta didik mampu menganalisis dampak buruk sikap tidak sabar dalam kehidupan sehari-hari.

4.Peserta didik mampu membiasakan diri menerapkan sikap sabar dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Ali 'Imran (3) : 200

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

QS. Az-Zumar (39) : 10

“Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.' Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Sesungguhnya orang-orang yang sabar disempurnakan pahalanya tanpa batas.”

Kaitan dengan materi :

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk terus bersabar dan menguatkan kesabaran, karena keberuntungan dan kesuksesan hidup, baik di dunia maupun akhirat, sangat berkaitan erat dengan sikap sabar. Allah bahkan menjanjikan pahala yang tidak terbatas bagi orang-orang yang sabar.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Manfaat Hidup Sabar.

Berikut ini materinya :

A. Sabar sebagai Bekal Hidup Seorang Muslim

Sabar merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari ujian, baik berupa kesenangan maupun kesulitan. Sikap sabar menjadi bekal penting agar seseorang tetap teguh, tenang, dan tidak mudah putus asa dalam menjalani berbagai keadaan tersebut.

B. Manfaat Hidup Sabar

•Mendekatkan diri kepada Allah — orang yang sabar senantiasa mengingat Allah dan yakin bahwa pertolongan-Nya akan datang, sehingga hatinya menjadi lebih dekat dengan-Nya.

•Menenangkan hati dan pikiran — sikap sabar membantu seseorang berpikir jernih dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan saat menghadapi masalah.

•Melatih pengendalian diri — orang yang sabar mampu mengendalikan emosi, amarah, dan hawa nafsu sehingga terhindar dari tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

•Membentuk pribadi yang kuat dan tangguh — kesabaran menjadikan seseorang tidak mudah menyerah dan mampu bangkit dari kegagalan atau musibah.

•Menjaga keharmonisan hubungan sosial — sikap sabar mencegah timbulnya konflik, pertengkaran, dan permusuhan dalam pergaulan sehari-hari.

•Mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah — sebagaimana dijelaskan dalam QS. Az-Zumar ayat 10, orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.

•Menjadi jalan keluar dari kesulitan — sabar yang disertai ikhtiar dan doa akan mengantarkan seseorang menemukan solusi terbaik atas persoalan yang dihadapinya.

C. Dampak Negatif Jika Tidak Memiliki Sikap Sabar

•Mudah marah, mengeluh, dan berputus asa dalam menghadapi masalah.

•Mengambil keputusan secara terburu-buru sehingga berisiko merugikan diri sendiri dan orang lain.

•Mudah terlibat konflik dan merusak hubungan dengan sesama.

•Menjauhkan diri dari sikap tawakal dan husnuzan kepada Allah.

D. Penerapan Sikap Sabar dalam Kehidupan Sehari-hari

•Sabar dalam belajar dan menuntut ilmu meskipun menghadapi kesulitan memahami pelajaran.

•Sabar dalam menghadapi perbedaan pendapat dengan teman maupun keluarga.

•Sabar dalam menunggu hasil dari usaha yang telah dilakukan.

•Sabar dalam menghadapi cobaan hidup, seperti sakit, kehilangan, atau kegagalan.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat bagi kalian dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kesabaran.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

1. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

2.Jelaskan pengertian sabar sebagai salah satu akhlak mulia dalam Islam!

3.Sebutkan dan jelaskan minimal empat manfaat hidup sabar bagi diri sendiri dan orang lain!

4.Analisislah dampak negatif yang dapat terjadi apabila seseorang tidak memiliki sikap sabar!

5.Jelaskan kaitan antara sikap sabar dengan datangnya pahala yang besar dari Allah berdasarkan QS. Az-Zumar ayat 10!

6.Berikan contoh penerapan sikap sabar yang pernah kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

Rabu, 29 Juli 2026

MANFAAT HIDUP SABAR KELAS 12

                                     MANFAAT HIDUP SABAR

1. Identitas             :

Nama Guru          : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Rabu/ 29 Juli 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : Manfaat Hidup Sabar

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian sabar sebagai bagian dari akhlak mulia.

2.Peserta didik mampu mengidentifikasi manfaat hidup sabar bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

3.Peserta didik mampu menganalisis dampak buruk sikap tidak sabar dalam kehidupan sehari-hari.

4.Peserta didik mampu membiasakan diri menerapkan sikap sabar dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Ali 'Imran (3) : 200

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

QS. Az-Zumar (39) : 10

“Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.' Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Sesungguhnya orang-orang yang sabar disempurnakan pahalanya tanpa batas.”

Kaitan dengan materi :

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk terus bersabar dan menguatkan kesabaran, karena keberuntungan dan kesuksesan hidup, baik di dunia maupun akhirat, sangat berkaitan erat dengan sikap sabar. Allah bahkan menjanjikan pahala yang tidak terbatas bagi orang-orang yang sabar.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Manfaat Hidup Sabar.

Berikut ini materinya :

A. Sabar sebagai Bekal Hidup Seorang Muslim

Sabar merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari ujian, baik berupa kesenangan maupun kesulitan. Sikap sabar menjadi bekal penting agar seseorang tetap teguh, tenang, dan tidak mudah putus asa dalam menjalani berbagai keadaan tersebut.

B. Manfaat Hidup Sabar

•Mendekatkan diri kepada Allah — orang yang sabar senantiasa mengingat Allah dan yakin bahwa pertolongan-Nya akan datang, sehingga hatinya menjadi lebih dekat dengan-Nya.

•Menenangkan hati dan pikiran — sikap sabar membantu seseorang berpikir jernih dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan saat menghadapi masalah.

•Melatih pengendalian diri — orang yang sabar mampu mengendalikan emosi, amarah, dan hawa nafsu sehingga terhindar dari tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

•Membentuk pribadi yang kuat dan tangguh — kesabaran menjadikan seseorang tidak mudah menyerah dan mampu bangkit dari kegagalan atau musibah.

•Menjaga keharmonisan hubungan sosial — sikap sabar mencegah timbulnya konflik, pertengkaran, dan permusuhan dalam pergaulan sehari-hari.

•Mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah — sebagaimana dijelaskan dalam QS. Az-Zumar ayat 10, orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.

•Menjadi jalan keluar dari kesulitan — sabar yang disertai ikhtiar dan doa akan mengantarkan seseorang menemukan solusi terbaik atas persoalan yang dihadapinya.

C. Dampak Negatif Jika Tidak Memiliki Sikap Sabar

•Mudah marah, mengeluh, dan berputus asa dalam menghadapi masalah.

•Mengambil keputusan secara terburu-buru sehingga berisiko merugikan diri sendiri dan orang lain.

•Mudah terlibat konflik dan merusak hubungan dengan sesama.

•Menjauhkan diri dari sikap tawakal dan husnuzan kepada Allah.

D. Penerapan Sikap Sabar dalam Kehidupan Sehari-hari

•Sabar dalam belajar dan menuntut ilmu meskipun menghadapi kesulitan memahami pelajaran.

•Sabar dalam menghadapi perbedaan pendapat dengan teman maupun keluarga.

•Sabar dalam menunggu hasil dari usaha yang telah dilakukan.

•Sabar dalam menghadapi cobaan hidup, seperti sakit, kehilangan, atau kegagalan.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat bagi kalian dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kesabaran.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

5.Jelaskan pengertian sabar sebagai salah satu akhlak mulia dalam Islam!

6.Sebutkan dan jelaskan minimal empat manfaat hidup sabar bagi diri sendiri dan orang lain!

7.Analisislah dampak negatif yang dapat terjadi apabila seseorang tidak memiliki sikap sabar!

8.Jelaskan kaitan antara sikap sabar dengan datangnya pahala yang besar dari Allah berdasarkan QS. Az-Zumar ayat 10!

9.Berikan contoh penerapan sikap sabar yang pernah kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

Selasa, 28 Juli 2026

KELAS 12 SABAR DAN PRINSIP SABAR

  BAGIAN-BAGIAN DAN PRINSIP-PRINSIP KESABARAN

1. Identitas            :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Selasa/ 28 Juli 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : Bagian-Bagian dan Prinsip-Prinsip Kesabaran

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian sabar menurut Al-Qur'an dan Hadis.

2.Peserta didik mampu menguraikan bagian-bagian (macam-macam) kesabaran.

3.Peserta didik mampu menjelaskan prinsip-prinsip kesabaran dalam ajaran Islam.

4.Peserta didik mampu menerapkan sikap sabar dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ketaatan, menjauhi maksiat, maupun menghadapi musibah.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Baqarah (2) : 153

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

QS. Al-Baqarah (2) : 155-156

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”

Kaitan dengan materi :

Kedua ayat di atas menegaskan bahwa sabar merupakan salah satu bekal utama seorang mukmin dalam menjalani kehidupan, baik dalam menghadapi ujian berupa ketakutan, kekurangan harta, maupun kehilangan orang yang dicintai. Allah menjanjikan kebersamaan dan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Bagian-Bagian dan Prinsip-Prinsip Kesabaran.

Berikut ini materinya :

A. Pengertian Sabar

Secara bahasa, sabar (ash-shabr) berarti menahan diri. Secara istilah, sabar adalah menahan diri dari sikap keluh kesah, menahan lisan dari keluhan, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang tidak baik, dalam rangka mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sikap teguh, tenang, dan konsisten dalam menghadapi berbagai keadaan.

B. Bagian-Bagian (Macam-Macam) Kesabaran

•Sabar dalam ketaatan kepada Allah (sabar fi ath-tha'ah) — yaitu kesabaran dalam menjalankan perintah Allah, seperti sabar melaksanakan salat lima waktu, berpuasa, menuntut ilmu, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.

•Sabar dalam menjauhi maksiat (sabar 'an al-ma'shiyah) — yaitu kesabaran menahan diri dari perbuatan yang dilarang Allah, seperti menahan hawa nafsu, godaan, dan hal-hal yang dapat menjerumuskan pada dosa.

•Sabar dalam menghadapi musibah (sabar 'ala al-mushibah) — yaitu kesabaran ketika ditimpa ujian, cobaan, atau kesulitan hidup, seperti sakit, kehilangan, kemiskinan, maupun bencana.

C. Prinsip-Prinsip Kesabaran

•Ikhlas karena Allah — kesabaran dilakukan semata-mata mengharap ridha Allah, bukan karena dilihat atau dipuji orang lain.

•Yakin akan pertolongan dan janji Allah — meyakini bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Insyirah ayat 5-6.

•Tidak berkeluh kesah dan tidak menampakkan kemarahan — menahan lisan dan sikap dari keluhan yang berlebihan atau menyalahkan takdir.

•Konsisten dan istiqamah — sabar dilakukan secara terus-menerus, tidak hanya sesaat, hingga masalah terselesaikan atau ujian berlalu.

•Disertai usaha dan doa — sabar tidak berarti diam tanpa ikhtiar, tetapi tetap diiringi dengan usaha maksimal dan doa kepada Allah.

•Berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah — meyakini bahwa segala ketentuan Allah mengandung hikmah dan kebaikan, meskipun belum tentu dipahami saat itu juga.

D. Keutamaan Sabar

•Allah bersama orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 153).

•Mendapatkan pahala tanpa batas (QS. Az-Zumar: 10).

•Menjadi sebab datangnya pertolongan Allah dalam berbagai urusan.

•Melatih kekuatan mental dan ketenangan jiwa dalam menghadapi kehidupan.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat bagi kalian dalam menerapkan sikap sabar di kehidupan sehari-hari.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

1.Jelaskan pengertian sabar menurut bahasa dan istilah!

2.Sebutkan dan jelaskan tiga bagian (macam) kesabaran beserta contohnya masing-masing!

3.Uraikan minimal empat prinsip kesabaran yang harus dimiliki seorang muslim!

4.Jelaskan hikmah/keutamaan bersikap sabar berdasarkan QS. Al-Baqarah ayat 153 dan 155-156!

5.Berikan satu contoh penerapan sikap sabar dalam kehidupanmu sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : 

Senin, 27 Juli 2026

kelas 10

 QS. AL-MA'IDAH : 48 — PERILAKU BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN

1. Identitas :

Nama Guru : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 27 Juli 2026

Kelas : XII / Semester Ganjil

Materi : QS. Al-Ma'idah : 48 tentang Perilaku Berlomba-lomba dalam Kebaikan (Fastabiqul Khairat)

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu membaca dan menjelaskan kandungan QS. Al-Ma'idah ayat 48 dengan benar.

2.Peserta didik mampu menjelaskan makna berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk perilaku berlomba-lomba dalam kebaikan pada kehidupan sehari-hari.

4.Peserta didik mampu membiasakan diri berperilaku berlomba-lomba dalam kebaikan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Ma'idah (5) : 48

“...Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.”

Kaitan dengan materi :

Penggalan ayat ini merupakan bagian dari QS. Al-Ma'idah ayat 48 yang menjelaskan bahwa Allah menurunkan syariat yang berbeda-beda kepada setiap umat sesuai dengan zamannya, namun tujuan akhirnya sama, yaitu kebaikan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar manusia tidak berselisih karena perbedaan, melainkan saling berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), karena semua akan kembali kepada Allah dan dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang QS. Al-Ma'idah Ayat 48 mengenai Perilaku Berlomba-lomba dalam Kebaikan.

Berikut ini materinya :

A. Kandungan QS. Al-Ma'idah Ayat 48

QS. Al-Ma'idah ayat 48 menjelaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan sebagai kitab yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjadi batu ujian (mengoreksi) terhadapnya. Allah menegaskan bahwa setiap umat diberikan syariat dan jalan yang berbeda sesuai dengan kondisi zamannya, dan seandainya Allah menghendaki, niscaya seluruh manusia dijadikan satu umat saja. Namun Allah hendak menguji manusia melalui apa yang telah diberikan kepada mereka. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan agar manusia tidak sibuk berselisih karena perbedaan syariat, tetapi justru saling berlomba-lomba dalam kebaikan.

B. Makna Fastabiqul Khairat (Berlomba-lomba dalam Kebaikan)

Fastabiqul khairat berarti bersegera dan bersungguh-sungguh dalam melakukan berbagai amal kebaikan, tanpa menunda-nunda dan tanpa merasa cukup dengan kebaikan yang telah dilakukan. Sikap ini mendorong seorang muslim untuk senantiasa aktif, produktif, dan kompetitif secara positif dalam berbuat kebaikan, bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.

C. Bentuk-Bentuk Perilaku Berlomba-lomba dalam Kebaikan

•Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan meningkatkan prestasi belajar.

•Bersegera melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah, seperti salat tepat waktu dan memperbanyak sedekah.

•Aktif membantu sesama yang membutuhkan, baik berupa tenaga, harta, maupun pikiran.

•Menjaga persaudaraan dan tidak mudah berselisih karena perbedaan pendapat atau latar belakang.

•Menjadi teladan yang baik dalam bersikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

D. Hikmah Berlomba-lomba dalam Kebaikan

•Mendorong seseorang untuk selalu produktif dan tidak menunda-nunda kebaikan.

•Menumbuhkan semangat positif dalam meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak.

•Mempererat ukhuwah dan mengurangi perselisihan di tengah perbedaan yang ada.

•Menjadi sebab diperolehnya kebaikan di dunia dan pahala di akhirat.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan mendorong kalian untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

1.Jelaskan kandungan pokok yang terdapat dalam QS. Al-Ma'idah ayat 48!

2.Jelaskan makna fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) menurut pemahamanmu!

3.Sebutkan minimal empat bentuk perilaku berlomba-lomba dalam kebaikan yang dapat diterapkan oleh pelajar!

4.Jelaskan hikmah yang dapat diperoleh seseorang yang membiasakan diri berlomba-lomba dalam kebaikan!

5.aBerikan satu contoh nyata perilaku berlomba-lomba dalam kebaikan yang pernah kamu lakukan di sekolah atau di rumah!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

KELAS 12 BAGIAN DAN PRINSIP SABAR

 BAGIAN-BAGIAN DAN PRINSIP-PRINSIP KESABARAN

1. Identitas            :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 27 Juli 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : Bagian-Bagian dan Prinsip-Prinsip Kesabaran

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian sabar menurut Al-Qur'an dan Hadis.

2.Peserta didik mampu menguraikan bagian-bagian (macam-macam) kesabaran.

3.Peserta didik mampu menjelaskan prinsip-prinsip kesabaran dalam ajaran Islam.

4.Peserta didik mampu menerapkan sikap sabar dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ketaatan, menjauhi maksiat, maupun menghadapi musibah.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Baqarah (2) : 153

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

QS. Al-Baqarah (2) : 155-156

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”

Kaitan dengan materi :

Kedua ayat di atas menegaskan bahwa sabar merupakan salah satu bekal utama seorang mukmin dalam menjalani kehidupan, baik dalam menghadapi ujian berupa ketakutan, kekurangan harta, maupun kehilangan orang yang dicintai. Allah menjanjikan kebersamaan dan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Bagian-Bagian dan Prinsip-Prinsip Kesabaran.

Berikut ini materinya :

A. Pengertian Sabar

Secara bahasa, sabar (ash-shabr) berarti menahan diri. Secara istilah, sabar adalah menahan diri dari sikap keluh kesah, menahan lisan dari keluhan, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang tidak baik, dalam rangka mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sikap teguh, tenang, dan konsisten dalam menghadapi berbagai keadaan.

B. Bagian-Bagian (Macam-Macam) Kesabaran

•Sabar dalam ketaatan kepada Allah (sabar fi ath-tha'ah) — yaitu kesabaran dalam menjalankan perintah Allah, seperti sabar melaksanakan salat lima waktu, berpuasa, menuntut ilmu, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.

•Sabar dalam menjauhi maksiat (sabar 'an al-ma'shiyah) — yaitu kesabaran menahan diri dari perbuatan yang dilarang Allah, seperti menahan hawa nafsu, godaan, dan hal-hal yang dapat menjerumuskan pada dosa.

•Sabar dalam menghadapi musibah (sabar 'ala al-mushibah) — yaitu kesabaran ketika ditimpa ujian, cobaan, atau kesulitan hidup, seperti sakit, kehilangan, kemiskinan, maupun bencana.

C. Prinsip-Prinsip Kesabaran

•Ikhlas karena Allah — kesabaran dilakukan semata-mata mengharap ridha Allah, bukan karena dilihat atau dipuji orang lain.

•Yakin akan pertolongan dan janji Allah — meyakini bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Insyirah ayat 5-6.

•Tidak berkeluh kesah dan tidak menampakkan kemarahan — menahan lisan dan sikap dari keluhan yang berlebihan atau menyalahkan takdir.

•Konsisten dan istiqamah — sabar dilakukan secara terus-menerus, tidak hanya sesaat, hingga masalah terselesaikan atau ujian berlalu.

•Disertai usaha dan doa — sabar tidak berarti diam tanpa ikhtiar, tetapi tetap diiringi dengan usaha maksimal dan doa kepada Allah.

•Berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah — meyakini bahwa segala ketentuan Allah mengandung hikmah dan kebaikan, meskipun belum tentu dipahami saat itu juga.

D. Keutamaan Sabar

•Allah bersama orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 153).

•Mendapatkan pahala tanpa batas (QS. Az-Zumar: 10).

•Menjadi sebab datangnya pertolongan Allah dalam berbagai urusan.

•Melatih kekuatan mental dan ketenangan jiwa dalam menghadapi kehidupan.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat bagi kalian dalam menerapkan sikap sabar di kehidupan sehari-hari.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

1.Jelaskan pengertian sabar menurut bahasa dan istilah!

2.Sebutkan dan jelaskan tiga bagian (macam) kesabaran beserta contohnya masing-masing!

3.Uraikan minimal empat prinsip kesabaran yang harus dimiliki seorang muslim!

4.Jelaskan hikmah/keutamaan bersikap sabar berdasarkan QS. Al-Baqarah ayat 153 dan 155-156!

5.Berikan satu contoh penerapan sikap sabar dalam kehidupanmu sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : 

Jumat, 24 Juli 2026

12

                                        MATERI AJAR

Nama                             : Rahmattulloh,S.Pd.I ,M.Pd. Gr

Satuan Pendidikan : SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung

Mata Pelajaran         : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Kelas / Semester         : XII (Dua Belas) / Ganjil

Materi Pokok         : Sabar sebagai Kunci Menghadapi Cobaan dan Ujian

Dasar Ayat                 : QS. Al-Baqarah (2): 155-156

Alokasi Waktu         : 2 x 45 menit (1 pertemuan)


A. Capaian Pembelajaran

Peserta didik mampu membaca, menghafal, menganalisis makna, serta mengaitkan kandungan QS. Al-Baqarah (2): 155-156 tentang sabar dengan sikap dan perilaku menghadapi cobaan, ujian, dan musibah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah Swt. dan akan kembali kepada-Nya.

B. Tujuan Pembelajaran

1.Peserta didik dapat membaca QS. Al-Baqarah (2): 155-156 dengan tartil sesuai kaidah tajwid.

2.Peserta didik dapat mengidentifikasi hukum bacaan (tajwid) yang terdapat pada QS. Al-Baqarah (2): 155-156.

3.Peserta didik dapat menerjemahkan dan menjelaskan kandungan makna QS. Al-Baqarah (2): 155-156 berdasarkan tafsir.

4.Peserta didik dapat menganalisis konsep sabar dan macam-macamnya dalam ajaran Islam.

5.Peserta didik dapat menunjukkan contoh perilaku sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian di kehidupan sehari-hari.

6.Peserta didik dapat membiasakan sikap sabar sebagai cerminan keimanan kepada Allah Swt.

C. Peta Konsep

Sabar sebagai Kunci Menghadapi Ujian  →  QS. Al-Baqarah 155-156  →  Tajwid & Terjemah  →  Tafsir & Asbabun Nuzul  →  Macam-Macam Sabar  →  Hikmah & Penerapan dalam Kehidupan.

D. Uraian Materi

1. Pengertian Sabar

Kata sabar berasal dari bahasa Arab صَبَرَ - يَصْبِرُ - صَبْرًا yang berarti menahan diri. Secara istilah, sabar adalah menahan diri dari sikap keluh kesah, menahan lisan dari keluhan, serta menahan anggota badan dari tindakan yang tidak dibenarkan syariat ketika menghadapi kesulitan, cobaan, maupun godaan. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sikap tabah dan tetap istiqamah di jalan Allah Swt. sambil terus berikhtiar dan bertawakal.

2. Teks Ayat, Tajwid, dan Terjemah QS. Al-Baqarah (2): 155-156

Ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-ju'i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt(i), wa basysyiriṣ-ṣābirīn(a).

“Dan sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah/2: 155)

Ayat 156:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوْا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Al-lażīna iżā aṣābat-hum muṣībatun qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn(a).

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, berkata, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah/2: 156)

3. Contoh Kajian Tajwid

Lafal Hukum Bacaan Keterangan

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ Gunnah Nun bertasydid dibaca dengung ± 2 harakat.

مِّنَ الْخَوْفِ Alif Lam Qamariyah Alif lam diikuti huruf qamariyah (kha), dibaca jelas.

وَنَقْصٍ مِّنَ Idgham Bighunnah Tanwin bertemu huruf mim, dilebur disertai dengung.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ Alif Lam Syamsiyah Alif lam diikuti huruf syamsiyah (shad), dibaca melebur/tidak jelas.

إِنَّا لِلَّهِ Tafkhim pada lafal Allah Lafal Allah dibaca tebal karena huruf sebelumnya berharakat fathah.

4. Asbabun Nuzul dan Tafsir Ayat

Menurut para mufasir, ayat ini turun sebagai penguat bagi kaum muslimin di Madinah yang mengalami berbagai kesulitan pada masa awal Islam, seperti tekanan ekonomi, peperangan, dan berbagai bentuk ancaman dari kaum musyrikin. Allah Swt. menegaskan bahwa ujian dan cobaan merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap orang beriman untuk menguji kadar keimanan dan kesabarannya.

Pada ayat 155, Allah Swt. menyebutkan lima bentuk ujian yang mungkin menimpa manusia, yaitu:

•Al-khauf (rasa takut), misalnya takut terhadap musuh, bencana, atau ancaman keselamatan.

•Al-ju’ (kelaparan), berupa kekurangan pangan atau kesulitan ekonomi.

•Naqshim minal-amwal (kekurangan harta), seperti kerugian usaha atau kehilangan harta benda.

•Al-anfus (jiwa), berupa kematian, sakit, atau kehilangan orang-orang yang dicintai.

•Ats-tsamarat (buah-buahan/hasil bumi), berupa gagal panen atau berkurangnya hasil usaha.

Ayat ini menegaskan bahwa ujian tersebut sifatnya “sedikit” (bisyai'in), artinya seberat apa pun ujian yang dirasakan manusia, pada hakikatnya Allah Swt. Maha Mengetahui batas kemampuan hamba-Nya dan tidak akan memberi cobaan melebihi kesanggupannya. Allah kemudian memberikan kabar gembira (busyra) khusus bagi orang-orang yang sabar (ash-shabirin), bukan bagi selainnya, sebagai bentuk penghargaan atas ketabahan mereka.

Pada ayat 156, Allah Swt. menjelaskan ciri utama orang-orang yang sabar, yaitu ketika tertimpa musibah mereka segera mengucapkan kalimat istirja’: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Ucapan ini mengandung dua makna penting: pertama, pengakuan bahwa seluruh yang dimiliki manusia — harta, jiwa, keluarga — pada hakikatnya adalah milik Allah Swt. yang dititipkan; kedua, keyakinan bahwa semuanya pasti akan kembali kepada Allah Swt. Kesadaran ini melahirkan ketenangan batin (ridha) karena musibah dipahami sebagai bagian dari qadha dan qadar Allah Swt., bukan sesuatu yang terjadi sia-sia.

5. Macam-Macam Sabar

7.Sabar dalam ketaatan (sabar fi ath-tha’ah), yaitu tabah dalam menjalankan perintah Allah Swt. seperti sabar mendirikan salat lima waktu dan menuntut ilmu.

8.Sabar dalam menghadapi musibah (sabar 'alal-mushibah), yaitu tabah ketika ditimpa ujian seperti sakit, kehilangan, atau kegagalan, disertai ucapan istirja’.

9.Sabar dalam menjauhi maksiat (sabar 'anil-ma’shiyah), yaitu menahan diri dari perbuatan dosa dan godaan hawa nafsu.

6. Hikmah dan Penerapan Sabar dalam Kehidupan

•Menumbuhkan ketenangan hati dan jauh dari sikap putus asa saat menghadapi kesulitan.

•Melatih pengendalian diri (mujahadah an-nafs) sehingga tidak mudah mengeluh atau berputus asa.

•Meningkatkan keimanan dan ketakwaan karena meyakini bahwa setiap ujian datang dari Allah Swt. dan mengandung hikmah.

•Mendorong semangat untuk tetap berikhtiar dan berdoa meskipun berada dalam kesulitan, misalnya tetap belajar dengan sungguh-sungguh menjelang ujian sekolah walau menghadapi banyak tekanan.

•Menjadi teladan sikap sosial, seperti tetap ramah dan tidak mudah marah ketika menghadapi masalah dengan teman atau keluarga.

•Mendapatkan balasan pahala tanpa batas, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Az-Zumar/39: 10 bahwa orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa hisab.

E. Rangkuman

QS. Al-Baqarah (2): 155-156 mengajarkan bahwa ujian dan cobaan — baik berupa rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, maupun berkurangnya hasil usaha — merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap mukmin. Allah Swt. menjanjikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah mengucapkan kalimat istirja’ sebagai bentuk pengakuan dan penyerahan diri kepada Allah Swt. Sabar terbagi menjadi tiga: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam menjauhi maksiat. Dengan membiasakan sikap sabar, peserta didik diharapkan mampu menghadapi berbagai cobaan dan ujian kehidupan, termasuk ujian akademik di sekolah, dengan hati yang tenang dan tetap berikhtiar.

F. Evaluasi

I. Pilihan Ganda

10.Jelaskan pengertian sabar menurut bahasa dan istilah!

11.Sebutkan lima bentuk ujian yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 155!

12.Tuliskan bunyi kalimat istirja’ beserta artinya!

13.Jelaskan kandungan makna QS. Al-Baqarah ayat 156!

14.Sebutkan dan jelaskan tiga macam sabar dalam ajaran Islam!

II. Uraian/Refleksi

15.Ceritakan pengalaman pribadi ketika menghadapi ujian atau cobaan dan bagaimana sikap sabar diterapkan!

16.Bagaimana sikap sabar dapat diterapkan dalam menghadapi ujian sekolah atau Ujian Nasional?

17.Analisislah keterkaitan antara sikap sabar dengan sikap ridha kepada qadha dan qadar Allah Swt.!

G. Daftar Pustaka

Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Buku Guru dan Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XII.

Tafsir Al-Muyassar dan Tafsir Ibnu Katsir (ringkasan), pada penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 155-156.

Kamis, 23 Juli 2026

kelas 12

                                        MATERI AJAR

Nama                             : Rahmattulloh,S.Pd.I ,M.Pd. Gr

Satuan Pendidikan : SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung

Mata Pelajaran         : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Kelas / Semester         : XII (Dua Belas) / Ganjil

Materi Pokok         : Sabar sebagai Kunci Menghadapi Cobaan dan Ujian

Dasar Ayat                 : QS. Al-Baqarah (2): 155-156

Alokasi Waktu         : 2 x 45 menit (1 pertemuan)


A. Capaian Pembelajaran

Peserta didik mampu membaca, menghafal, menganalisis makna, serta mengaitkan kandungan QS. Al-Baqarah (2): 155-156 tentang sabar dengan sikap dan perilaku menghadapi cobaan, ujian, dan musibah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah Swt. dan akan kembali kepada-Nya.

B. Tujuan Pembelajaran

1.Peserta didik dapat membaca QS. Al-Baqarah (2): 155-156 dengan tartil sesuai kaidah tajwid.

2.Peserta didik dapat mengidentifikasi hukum bacaan (tajwid) yang terdapat pada QS. Al-Baqarah (2): 155-156.

3.Peserta didik dapat menerjemahkan dan menjelaskan kandungan makna QS. Al-Baqarah (2): 155-156 berdasarkan tafsir.

4.Peserta didik dapat menganalisis konsep sabar dan macam-macamnya dalam ajaran Islam.

5.Peserta didik dapat menunjukkan contoh perilaku sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian di kehidupan sehari-hari.

6.Peserta didik dapat membiasakan sikap sabar sebagai cerminan keimanan kepada Allah Swt.

C. Peta Konsep

Sabar sebagai Kunci Menghadapi Ujian  →  QS. Al-Baqarah 155-156  →  Tajwid & Terjemah  →  Tafsir & Asbabun Nuzul  →  Macam-Macam Sabar  →  Hikmah & Penerapan dalam Kehidupan.

D. Uraian Materi

1. Pengertian Sabar

Kata sabar berasal dari bahasa Arab صَبَرَ - يَصْبِرُ - صَبْرًا yang berarti menahan diri. Secara istilah, sabar adalah menahan diri dari sikap keluh kesah, menahan lisan dari keluhan, serta menahan anggota badan dari tindakan yang tidak dibenarkan syariat ketika menghadapi kesulitan, cobaan, maupun godaan. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sikap tabah dan tetap istiqamah di jalan Allah Swt. sambil terus berikhtiar dan bertawakal.

2. Teks Ayat, Tajwid, dan Terjemah QS. Al-Baqarah (2): 155-156

Ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-ju'i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt(i), wa basysyiriṣ-ṣābirīn(a).

“Dan sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah/2: 155)

Ayat 156:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوْا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Al-lażīna iżā aṣābat-hum muṣībatun qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn(a).

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, berkata, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah/2: 156)

3. Contoh Kajian Tajwid

Lafal Hukum Bacaan Keterangan

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ Gunnah Nun bertasydid dibaca dengung ± 2 harakat.

مِّنَ الْخَوْفِ Alif Lam Qamariyah Alif lam diikuti huruf qamariyah (kha), dibaca jelas.

وَنَقْصٍ مِّنَ Idgham Bighunnah Tanwin bertemu huruf mim, dilebur disertai dengung.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ Alif Lam Syamsiyah Alif lam diikuti huruf syamsiyah (shad), dibaca melebur/tidak jelas.

إِنَّا لِلَّهِ Tafkhim pada lafal Allah Lafal Allah dibaca tebal karena huruf sebelumnya berharakat fathah.

4. Asbabun Nuzul dan Tafsir Ayat

Menurut para mufasir, ayat ini turun sebagai penguat bagi kaum muslimin di Madinah yang mengalami berbagai kesulitan pada masa awal Islam, seperti tekanan ekonomi, peperangan, dan berbagai bentuk ancaman dari kaum musyrikin. Allah Swt. menegaskan bahwa ujian dan cobaan merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap orang beriman untuk menguji kadar keimanan dan kesabarannya.

Pada ayat 155, Allah Swt. menyebutkan lima bentuk ujian yang mungkin menimpa manusia, yaitu:

•Al-khauf (rasa takut), misalnya takut terhadap musuh, bencana, atau ancaman keselamatan.

•Al-ju’ (kelaparan), berupa kekurangan pangan atau kesulitan ekonomi.

•Naqshim minal-amwal (kekurangan harta), seperti kerugian usaha atau kehilangan harta benda.

•Al-anfus (jiwa), berupa kematian, sakit, atau kehilangan orang-orang yang dicintai.

•Ats-tsamarat (buah-buahan/hasil bumi), berupa gagal panen atau berkurangnya hasil usaha.

Ayat ini menegaskan bahwa ujian tersebut sifatnya “sedikit” (bisyai'in), artinya seberat apa pun ujian yang dirasakan manusia, pada hakikatnya Allah Swt. Maha Mengetahui batas kemampuan hamba-Nya dan tidak akan memberi cobaan melebihi kesanggupannya. Allah kemudian memberikan kabar gembira (busyra) khusus bagi orang-orang yang sabar (ash-shabirin), bukan bagi selainnya, sebagai bentuk penghargaan atas ketabahan mereka.

Pada ayat 156, Allah Swt. menjelaskan ciri utama orang-orang yang sabar, yaitu ketika tertimpa musibah mereka segera mengucapkan kalimat istirja’: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Ucapan ini mengandung dua makna penting: pertama, pengakuan bahwa seluruh yang dimiliki manusia — harta, jiwa, keluarga — pada hakikatnya adalah milik Allah Swt. yang dititipkan; kedua, keyakinan bahwa semuanya pasti akan kembali kepada Allah Swt. Kesadaran ini melahirkan ketenangan batin (ridha) karena musibah dipahami sebagai bagian dari qadha dan qadar Allah Swt., bukan sesuatu yang terjadi sia-sia.

5. Macam-Macam Sabar

7.Sabar dalam ketaatan (sabar fi ath-tha’ah), yaitu tabah dalam menjalankan perintah Allah Swt. seperti sabar mendirikan salat lima waktu dan menuntut ilmu.

8.Sabar dalam menghadapi musibah (sabar 'alal-mushibah), yaitu tabah ketika ditimpa ujian seperti sakit, kehilangan, atau kegagalan, disertai ucapan istirja’.

9.Sabar dalam menjauhi maksiat (sabar 'anil-ma’shiyah), yaitu menahan diri dari perbuatan dosa dan godaan hawa nafsu.

6. Hikmah dan Penerapan Sabar dalam Kehidupan

•Menumbuhkan ketenangan hati dan jauh dari sikap putus asa saat menghadapi kesulitan.

•Melatih pengendalian diri (mujahadah an-nafs) sehingga tidak mudah mengeluh atau berputus asa.

•Meningkatkan keimanan dan ketakwaan karena meyakini bahwa setiap ujian datang dari Allah Swt. dan mengandung hikmah.

•Mendorong semangat untuk tetap berikhtiar dan berdoa meskipun berada dalam kesulitan, misalnya tetap belajar dengan sungguh-sungguh menjelang ujian sekolah walau menghadapi banyak tekanan.

•Menjadi teladan sikap sosial, seperti tetap ramah dan tidak mudah marah ketika menghadapi masalah dengan teman atau keluarga.

•Mendapatkan balasan pahala tanpa batas, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Az-Zumar/39: 10 bahwa orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa hisab.

E. Rangkuman

QS. Al-Baqarah (2): 155-156 mengajarkan bahwa ujian dan cobaan — baik berupa rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, maupun berkurangnya hasil usaha — merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap mukmin. Allah Swt. menjanjikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah mengucapkan kalimat istirja’ sebagai bentuk pengakuan dan penyerahan diri kepada Allah Swt. Sabar terbagi menjadi tiga: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam menjauhi maksiat. Dengan membiasakan sikap sabar, peserta didik diharapkan mampu menghadapi berbagai cobaan dan ujian kehidupan, termasuk ujian akademik di sekolah, dengan hati yang tenang dan tetap berikhtiar.

F. Evaluasi

I. Pilihan Ganda

10.Jelaskan pengertian sabar menurut bahasa dan istilah!

11.Sebutkan lima bentuk ujian yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 155!

12.Tuliskan bunyi kalimat istirja’ beserta artinya!

13.Jelaskan kandungan makna QS. Al-Baqarah ayat 156!

14.Sebutkan dan jelaskan tiga macam sabar dalam ajaran Islam!

II. Uraian/Refleksi

15.Ceritakan pengalaman pribadi ketika menghadapi ujian atau cobaan dan bagaimana sikap sabar diterapkan!

16.Bagaimana sikap sabar dapat diterapkan dalam menghadapi ujian sekolah atau Ujian Nasional?

17.Analisislah keterkaitan antara sikap sabar dengan sikap ridha kepada qadha dan qadar Allah Swt.!

G. Daftar Pustaka

Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Buku Guru dan Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XII.

Tafsir Al-Muyassar dan Tafsir Ibnu Katsir (ringkasan), pada penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 155-156.

Rabu, 22 Juli 2026

kelas 12, SABAR

                                       MATERI AJAR

Nama                             : Rahmattulloh,S.Pd.I ,M.Pd. Gr

Satuan Pendidikan : SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung

Mata Pelajaran         : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Kelas / Semester         : XII (Dua Belas) / Ganjil

Materi Pokok         : Sabar sebagai Kunci Menghadapi Cobaan dan Ujian

Dasar Ayat                 : QS. Al-Baqarah (2): 155-156

Alokasi Waktu         : 2 x 45 menit (1 pertemuan)


A. Capaian Pembelajaran

Peserta didik mampu membaca, menghafal, menganalisis makna, serta mengaitkan kandungan QS. Al-Baqarah (2): 155-156 tentang sabar dengan sikap dan perilaku menghadapi cobaan, ujian, dan musibah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah Swt. dan akan kembali kepada-Nya.

B. Tujuan Pembelajaran

1.Peserta didik dapat membaca QS. Al-Baqarah (2): 155-156 dengan tartil sesuai kaidah tajwid.

2.Peserta didik dapat mengidentifikasi hukum bacaan (tajwid) yang terdapat pada QS. Al-Baqarah (2): 155-156.

3.Peserta didik dapat menerjemahkan dan menjelaskan kandungan makna QS. Al-Baqarah (2): 155-156 berdasarkan tafsir.

4.Peserta didik dapat menganalisis konsep sabar dan macam-macamnya dalam ajaran Islam.

5.Peserta didik dapat menunjukkan contoh perilaku sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian di kehidupan sehari-hari.

6.Peserta didik dapat membiasakan sikap sabar sebagai cerminan keimanan kepada Allah Swt.

C. Peta Konsep

Sabar sebagai Kunci Menghadapi Ujian  →  QS. Al-Baqarah 155-156  →  Tajwid & Terjemah  →  Tafsir & Asbabun Nuzul  →  Macam-Macam Sabar  →  Hikmah & Penerapan dalam Kehidupan.

D. Uraian Materi

1. Pengertian Sabar

Kata sabar berasal dari bahasa Arab صَبَرَ - يَصْبِرُ - صَبْرًا yang berarti menahan diri. Secara istilah, sabar adalah menahan diri dari sikap keluh kesah, menahan lisan dari keluhan, serta menahan anggota badan dari tindakan yang tidak dibenarkan syariat ketika menghadapi kesulitan, cobaan, maupun godaan. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sikap tabah dan tetap istiqamah di jalan Allah Swt. sambil terus berikhtiar dan bertawakal.

2. Teks Ayat, Tajwid, dan Terjemah QS. Al-Baqarah (2): 155-156

Ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-ju'i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt(i), wa basysyiriṣ-ṣābirīn(a).

“Dan sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah/2: 155)

Ayat 156:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوْا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Al-lażīna iżā aṣābat-hum muṣībatun qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn(a).

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, berkata, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah/2: 156)

3. Contoh Kajian Tajwid

Lafal Hukum Bacaan Keterangan

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ Gunnah Nun bertasydid dibaca dengung ± 2 harakat.

مِّنَ الْخَوْفِ Alif Lam Qamariyah Alif lam diikuti huruf qamariyah (kha), dibaca jelas.

وَنَقْصٍ مِّنَ Idgham Bighunnah Tanwin bertemu huruf mim, dilebur disertai dengung.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ Alif Lam Syamsiyah Alif lam diikuti huruf syamsiyah (shad), dibaca melebur/tidak jelas.

إِنَّا لِلَّهِ Tafkhim pada lafal Allah Lafal Allah dibaca tebal karena huruf sebelumnya berharakat fathah.

4. Asbabun Nuzul dan Tafsir Ayat

Menurut para mufasir, ayat ini turun sebagai penguat bagi kaum muslimin di Madinah yang mengalami berbagai kesulitan pada masa awal Islam, seperti tekanan ekonomi, peperangan, dan berbagai bentuk ancaman dari kaum musyrikin. Allah Swt. menegaskan bahwa ujian dan cobaan merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap orang beriman untuk menguji kadar keimanan dan kesabarannya.

Pada ayat 155, Allah Swt. menyebutkan lima bentuk ujian yang mungkin menimpa manusia, yaitu:

•Al-khauf (rasa takut), misalnya takut terhadap musuh, bencana, atau ancaman keselamatan.

•Al-ju’ (kelaparan), berupa kekurangan pangan atau kesulitan ekonomi.

•Naqshim minal-amwal (kekurangan harta), seperti kerugian usaha atau kehilangan harta benda.

•Al-anfus (jiwa), berupa kematian, sakit, atau kehilangan orang-orang yang dicintai.

•Ats-tsamarat (buah-buahan/hasil bumi), berupa gagal panen atau berkurangnya hasil usaha.

Ayat ini menegaskan bahwa ujian tersebut sifatnya “sedikit” (bisyai'in), artinya seberat apa pun ujian yang dirasakan manusia, pada hakikatnya Allah Swt. Maha Mengetahui batas kemampuan hamba-Nya dan tidak akan memberi cobaan melebihi kesanggupannya. Allah kemudian memberikan kabar gembira (busyra) khusus bagi orang-orang yang sabar (ash-shabirin), bukan bagi selainnya, sebagai bentuk penghargaan atas ketabahan mereka.

Pada ayat 156, Allah Swt. menjelaskan ciri utama orang-orang yang sabar, yaitu ketika tertimpa musibah mereka segera mengucapkan kalimat istirja’: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Ucapan ini mengandung dua makna penting: pertama, pengakuan bahwa seluruh yang dimiliki manusia — harta, jiwa, keluarga — pada hakikatnya adalah milik Allah Swt. yang dititipkan; kedua, keyakinan bahwa semuanya pasti akan kembali kepada Allah Swt. Kesadaran ini melahirkan ketenangan batin (ridha) karena musibah dipahami sebagai bagian dari qadha dan qadar Allah Swt., bukan sesuatu yang terjadi sia-sia.

5. Macam-Macam Sabar

7.Sabar dalam ketaatan (sabar fi ath-tha’ah), yaitu tabah dalam menjalankan perintah Allah Swt. seperti sabar mendirikan salat lima waktu dan menuntut ilmu.

8.Sabar dalam menghadapi musibah (sabar 'alal-mushibah), yaitu tabah ketika ditimpa ujian seperti sakit, kehilangan, atau kegagalan, disertai ucapan istirja’.

9.Sabar dalam menjauhi maksiat (sabar 'anil-ma’shiyah), yaitu menahan diri dari perbuatan dosa dan godaan hawa nafsu.

6. Hikmah dan Penerapan Sabar dalam Kehidupan

•Menumbuhkan ketenangan hati dan jauh dari sikap putus asa saat menghadapi kesulitan.

•Melatih pengendalian diri (mujahadah an-nafs) sehingga tidak mudah mengeluh atau berputus asa.

•Meningkatkan keimanan dan ketakwaan karena meyakini bahwa setiap ujian datang dari Allah Swt. dan mengandung hikmah.

•Mendorong semangat untuk tetap berikhtiar dan berdoa meskipun berada dalam kesulitan, misalnya tetap belajar dengan sungguh-sungguh menjelang ujian sekolah walau menghadapi banyak tekanan.

•Menjadi teladan sikap sosial, seperti tetap ramah dan tidak mudah marah ketika menghadapi masalah dengan teman atau keluarga.

•Mendapatkan balasan pahala tanpa batas, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Az-Zumar/39: 10 bahwa orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa hisab.

E. Rangkuman

QS. Al-Baqarah (2): 155-156 mengajarkan bahwa ujian dan cobaan — baik berupa rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, maupun berkurangnya hasil usaha — merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap mukmin. Allah Swt. menjanjikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah mengucapkan kalimat istirja’ sebagai bentuk pengakuan dan penyerahan diri kepada Allah Swt. Sabar terbagi menjadi tiga: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam menjauhi maksiat. Dengan membiasakan sikap sabar, peserta didik diharapkan mampu menghadapi berbagai cobaan dan ujian kehidupan, termasuk ujian akademik di sekolah, dengan hati yang tenang dan tetap berikhtiar.

F. Evaluasi

I. Pilihan Ganda

10.Jelaskan pengertian sabar menurut bahasa dan istilah!

11.Sebutkan lima bentuk ujian yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 155!

12.Tuliskan bunyi kalimat istirja’ beserta artinya!

13.Jelaskan kandungan makna QS. Al-Baqarah ayat 156!

14.Sebutkan dan jelaskan tiga macam sabar dalam ajaran Islam!

II. Uraian/Refleksi

15.Ceritakan pengalaman pribadi ketika menghadapi ujian atau cobaan dan bagaimana sikap sabar diterapkan!

16.Bagaimana sikap sabar dapat diterapkan dalam menghadapi ujian sekolah atau Ujian Nasional?

17.Analisislah keterkaitan antara sikap sabar dengan sikap ridha kepada qadha dan qadar Allah Swt.!

G. Daftar Pustaka

Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Buku Guru dan Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XII.

Tafsir Al-Muyassar dan Tafsir Ibnu Katsir (ringkasan), pada penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 155-156.

Senin, 20 Juli 2026

MATERI KELAS 10

 


                                            MATERI AJAR 

Mata Pelajaran: Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP)

Satuan Pendidikan: SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung

Kelas / Semester: X (Sepuluh) / Ganjil

Materi Pokok: Meraih Kesuksesan dengan Kerja Keras dan Etos Kerja Tinggi

Guru Pengampu: Rahmattulloh, S.Pd.I.


1. Pengantar & Definisi

Dalam Islam, bekerja bukan sekadar mencari nafkah untuk menyambung hidup, melainkan bagian dari ibadah.

Kerja Keras: Bersungguh-sungguh, gigih, dan tidak mudah menyerah dalam melakukan suatu kebaikan atau mencapai cita-cita, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.

Etos Kerja: Sikap, pandangan, dan keyakinan seseorang terhadap kerja sebagai sesuatu yang luhur, berharga, dan harus dilakukan dengan tanggung jawab yang tinggi (profesional).

2.Landasan Al-Qur'an dan Hadis


Sebagai pedoman hidup, Allah SWT dan Rasulullah SAW telah memberikan arahan tegas mengenai pentingnya memiliki etos kerja.

A. Al-Qur'an Surat At-Taubah Ayat 105

{وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ}

Artinya: "Dan Katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.'" 

Poin Penting Ayat:

Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk aktif bekerja dan beraktivitas, bukan bermalas-malasan.

Setiap amal atau pekerjaan manusia tidak ada yang tersembunyi; semuanya diawasi oleh Allah, Rasul, dan kaum mukmin.

Di akhirat kelak, seluruh hasil kerja keras kita akan dimintai pertanggungjawaban.


B. Hadis Nabi SAW tentang Etos Kerja

{مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ}

Artinya: "Tidak ada seseorang yang memakan makanan yang lebih baik daripada memakan hasil usaha tangannya sendiri." (HR. Bukhari)

Poin Penting Hadis:

Islam sangat menghargai kemandirian ekonomi.

Menghindari meminta-minta atau menjadi beban bagi orang lain merupakan bagian dari menjaga kehormatan diri (muru'ah).


3. Karakteristik Muslim yang Memiliki Etos Kerja

Untuk siswa kelas 10 SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung, etos kerja islami dapat diterapkan melalui formula 4 As

Kerja Ikhlas: Meniatkan sekolah dan belajar semata-mata karena beribadah kepada Allah SWT.

Kerja Cerdas: Menggunakan akal, kreativitas, dan teknologi secara optimal untuk menyelesaikan tugas sekolah dengan efektif.

Kerja Keras: Pantang menyerah saat menghadapi materi pelajaran yang sulit atau ujian.

Kerja Tuntas: Menyelesaikan apa yang sudah dimulai (tidak menunda-nunda tugas kelompok maupun individu).


4. Manfaat Kerja Keras & Etos Kerja

Mengapa kita harus lelah bekerja keras sekarang? Berikut dampak positif yang akan didapatkan:

Mengembangkan Potensi Diri: Bakat dan kecerdasan hanya akan tajam jika diasah dengan latihan yang konsisten.

Membentuk Pribadi Tanggung Jawab: Dipercaya oleh guru, orang tua, dan teman sejawat.

Mendapatkan Keberkahan: Rezeki atau nilai yang diperoleh dari hasil kejujuran dan kerja keras jauh lebih berkah serta menenangkan hati.

Menghindari Kemiskinan & Ketergantungan: Menjadi individu mandiri yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat luas di masa depan.


Tugas Diskusi Kelas X:

Bersama kelompokmu, analisislah tantangan terbesar apa yang sering membuat pelajar SMA kehilangan motivasi/etos belajar di era digital saat ini, dan bagaimana solusi Islami untuk mengatasinya? 


Selasa, 28 April 2026

 


*MATERI AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM* 


*A. IDENTITAS*  

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti  

Kelas/Semester : XII / Genap  

Materi Pokok    : Pentingnya Belajar di Waktu Muda  

Alokasi Waktu  : 2 x 45 Menit  

Nama Guru        : Rahmattulloh,S.Pd.I,Gr,M.Pd

Tahun                  : 2025/2026  


*B. TUJUAN PEMBELAJARAN*  

Setelah pembelajaran, peserta didik mampu:  

1. Menjelaskan dalil naqli tentang keutamaan menuntut ilmu di usia muda. C2  

2. Menganalisis manfaat belajar di waktu muda bagi masa depan dunia & akhirat. C4  

3. Menunjukkan sikap semangat belajar sebagai wujud syukur atas nikmat muda. A3  


*C. URAIAN MATERI: “MASA MUDA, MASA EMAS MENUNTUT ILMU”*


*1. Dalil Keutamaan Belajar di Waktu Muda*  

a. *Hadis Nabi SAW*:  

_“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: mudamu sebelum tuamu...”_ HR. Hakim  

Muda = modal utama. Energi, daya ingat, waktu luang masih banyak.  


b. *Q.S. Al-Mujadalah: 11*  

_“...niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”_  

Ilmu jadi wasilah naik derajat, dan waktu muda adalah waktu terbaik mengejarnya.


c. *Kisah Sahabat*: Ibnu Abbas r.a. dijuluki _Turjumanul Qur’an_ karena sejak kecil rajin mencatat ilmu dari Rasulullah. Imam Syafi’i hafal Al-Qur’an usia 7 tahun, hafal _Al-Muwaththa’_ usia 10 tahun.


*2. Mengapa Harus Belajar Saat Muda?*

Aspek Waktu Muda Waktu Tua

**Daya Ingat** Kuat, cepat hafal Menurun, mudah lupa

**Tenaga** Prima, bisa begadang halal untuk ngaji Mudah lelah, ngantuk

**Tanggungan** Masih sedikit Sudah banyak: anak, kerja, utang

**Peluang** Banyak beasiswa, lomba, karier Terbatas, persaingan lebih berat

**Dosa** Belum banyak maksiat, hati bersih Bisa jadi sudah keras hati

*3. Akibat Malas Belajar Saat Muda*  

1. *Menyesal di hari tua* – “Andai dulu aku rajin...”  

2. *Jadi beban orang lain* – Tidak punya skill, susah mandiri.  

3. *Mudah dibodohi* – Hoax, investasi bodong, paham sesat masuk karena awam.  

4. *Hisab lebih berat* – Umur muda ditanya khusus. HR. Tirmidzi


*4. Kiat Sukses Belajar di Usia Muda*  

1. *Niat karena Allah* – Ikhlas, bukan sekadar nilai. Q.S. Al-Bayyinah:5  

2. *Manajemen Waktu* – Kurangi _scroll_ medsos, buat jadwal _ngaji + sekolah_.  

3. *Pilih Lingkungan* – Teman shalih mengajak ke majelis ilmu. Q.S. Al-Kahfi:28  

4. *Adab ke Guru* – Hormat, catat, amalkan. Imam Malik tidak berani buka kitab kecuali berwudhu.  

5. *Istiqamah Meski Sedikit* – 1 hari 1 halaman lebih baik daripada 1 juz tapi setahun sekali.


*5. Belajar = Investasi Akhirat*  

Ilmu yang diamalkan jadi amal jariyah. “Jika manusia mati, terputus amalnya kecuali 3: ...ilmu yang bermanfaat” HR. Muslim.  

Muda + berilmu = pemimpin umat. Pemuda Ashabul Kahfi, Muhammad Al-Fatih taklukkan Konstantinopel usia 21 tahun.


*D. METODE & KEGIATAN PEMBELAJARAN*  

1. *Apersepsi*: Tayang gambar animasi “Penyesalan Kakek” – lihat poin E.  

2. *Inti*: Tadarus Q.S. Al-Mujadalah:11, diskusi kelompok: “Kalau aku gak kuliah, 10 tahun lagi jadi apa?”  

Senin, 27 April 2026



*MATERI AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM* 


*A. IDENTITAS*  

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti  

Kelas/Semester : XII / Genap  

Materi Pokok    : Pentingnya Belajar di Waktu Muda  

Alokasi Waktu  : 2 x 45 Menit  

Nama Guru        : Rahmattulloh,S.Pd.I,Gr,M.Pd

Tahun                  : 2025/2026  


*B. TUJUAN PEMBELAJARAN*  

Setelah pembelajaran, peserta didik mampu:  

1. Menjelaskan dalil naqli tentang keutamaan menuntut ilmu di usia muda. C2  

2. Menganalisis manfaat belajar di waktu muda bagi masa depan dunia & akhirat. C4  

3. Menunjukkan sikap semangat belajar sebagai wujud syukur atas nikmat muda. A3  


*C. URAIAN MATERI: “MASA MUDA, MASA EMAS MENUNTUT ILMU”*


*1. Dalil Keutamaan Belajar di Waktu Muda*  

a. *Hadis Nabi SAW*:  

_“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: mudamu sebelum tuamu...”_ HR. Hakim  

Muda = modal utama. Energi, daya ingat, waktu luang masih banyak.  


b. *Q.S. Al-Mujadalah: 11*  

_“...niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”_  

Ilmu jadi wasilah naik derajat, dan waktu muda adalah waktu terbaik mengejarnya.


c. *Kisah Sahabat*: Ibnu Abbas r.a. dijuluki _Turjumanul Qur’an_ karena sejak kecil rajin mencatat ilmu dari Rasulullah. Imam Syafi’i hafal Al-Qur’an usia 7 tahun, hafal _Al-Muwaththa’_ usia 10 tahun.


*2. Mengapa Harus Belajar Saat Muda?*

Aspek Waktu Muda Waktu Tua

**Daya Ingat** Kuat, cepat hafal Menurun, mudah lupa

**Tenaga** Prima, bisa begadang halal untuk ngaji Mudah lelah, ngantuk

**Tanggungan** Masih sedikit Sudah banyak: anak, kerja, utang

**Peluang** Banyak beasiswa, lomba, karier Terbatas, persaingan lebih berat

**Dosa** Belum banyak maksiat, hati bersih Bisa jadi sudah keras hati

*3. Akibat Malas Belajar Saat Muda*  

1. *Menyesal di hari tua* – “Andai dulu aku rajin...”  

2. *Jadi beban orang lain* – Tidak punya skill, susah mandiri.  

3. *Mudah dibodohi* – Hoax, investasi bodong, paham sesat masuk karena awam.  

4. *Hisab lebih berat* – Umur muda ditanya khusus. HR. Tirmidzi


*4. Kiat Sukses Belajar di Usia Muda*  

1. *Niat karena Allah* – Ikhlas, bukan sekadar nilai. Q.S. Al-Bayyinah:5  

2. *Manajemen Waktu* – Kurangi _scroll_ medsos, buat jadwal _ngaji + sekolah_.  

3. *Pilih Lingkungan* – Teman shalih mengajak ke majelis ilmu. Q.S. Al-Kahfi:28  

4. *Adab ke Guru* – Hormat, catat, amalkan. Imam Malik tidak berani buka kitab kecuali berwudhu.  

5. *Istiqamah Meski Sedikit* – 1 hari 1 halaman lebih baik daripada 1 juz tapi setahun sekali.


*5. Belajar = Investasi Akhirat*  

Ilmu yang diamalkan jadi amal jariyah. “Jika manusia mati, terputus amalnya kecuali 3: ...ilmu yang bermanfaat” HR. Muslim.  

Muda + berilmu = pemimpin umat. Pemuda Ashabul Kahfi, Muhammad Al-Fatih taklukkan Konstantinopel usia 21 tahun.


*D. METODE & KEGIATAN PEMBELAJARAN*  

1. *Apersepsi*: Tayang gambar animasi “Penyesalan Kakek” – lihat poin E.  

2. *Inti*: Tadarus Q.S. Al-Mujadalah:11, diskusi kelompok: “Kalau aku gak kuliah, 10 tahun lagi jadi apa?”