Senin, 27 Juli 2026

kelas 10

 QS. AL-MA'IDAH : 48 — PERILAKU BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN

1. Identitas :

Nama Guru : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 27 Juli 2026

Kelas : XII / Semester Ganjil

Materi : QS. Al-Ma'idah : 48 tentang Perilaku Berlomba-lomba dalam Kebaikan (Fastabiqul Khairat)

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu membaca dan menjelaskan kandungan QS. Al-Ma'idah ayat 48 dengan benar.

2.Peserta didik mampu menjelaskan makna berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk perilaku berlomba-lomba dalam kebaikan pada kehidupan sehari-hari.

4.Peserta didik mampu membiasakan diri berperilaku berlomba-lomba dalam kebaikan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Ma'idah (5) : 48

“...Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.”

Kaitan dengan materi :

Penggalan ayat ini merupakan bagian dari QS. Al-Ma'idah ayat 48 yang menjelaskan bahwa Allah menurunkan syariat yang berbeda-beda kepada setiap umat sesuai dengan zamannya, namun tujuan akhirnya sama, yaitu kebaikan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar manusia tidak berselisih karena perbedaan, melainkan saling berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), karena semua akan kembali kepada Allah dan dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang QS. Al-Ma'idah Ayat 48 mengenai Perilaku Berlomba-lomba dalam Kebaikan.

Berikut ini materinya :

A. Kandungan QS. Al-Ma'idah Ayat 48

QS. Al-Ma'idah ayat 48 menjelaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan sebagai kitab yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjadi batu ujian (mengoreksi) terhadapnya. Allah menegaskan bahwa setiap umat diberikan syariat dan jalan yang berbeda sesuai dengan kondisi zamannya, dan seandainya Allah menghendaki, niscaya seluruh manusia dijadikan satu umat saja. Namun Allah hendak menguji manusia melalui apa yang telah diberikan kepada mereka. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan agar manusia tidak sibuk berselisih karena perbedaan syariat, tetapi justru saling berlomba-lomba dalam kebaikan.

B. Makna Fastabiqul Khairat (Berlomba-lomba dalam Kebaikan)

Fastabiqul khairat berarti bersegera dan bersungguh-sungguh dalam melakukan berbagai amal kebaikan, tanpa menunda-nunda dan tanpa merasa cukup dengan kebaikan yang telah dilakukan. Sikap ini mendorong seorang muslim untuk senantiasa aktif, produktif, dan kompetitif secara positif dalam berbuat kebaikan, bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.

C. Bentuk-Bentuk Perilaku Berlomba-lomba dalam Kebaikan

•Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan meningkatkan prestasi belajar.

•Bersegera melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah, seperti salat tepat waktu dan memperbanyak sedekah.

•Aktif membantu sesama yang membutuhkan, baik berupa tenaga, harta, maupun pikiran.

•Menjaga persaudaraan dan tidak mudah berselisih karena perbedaan pendapat atau latar belakang.

•Menjadi teladan yang baik dalam bersikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

D. Hikmah Berlomba-lomba dalam Kebaikan

•Mendorong seseorang untuk selalu produktif dan tidak menunda-nunda kebaikan.

•Menumbuhkan semangat positif dalam meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak.

•Mempererat ukhuwah dan mengurangi perselisihan di tengah perbedaan yang ada.

•Menjadi sebab diperolehnya kebaikan di dunia dan pahala di akhirat.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan mendorong kalian untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

1.Jelaskan kandungan pokok yang terdapat dalam QS. Al-Ma'idah ayat 48!

2.Jelaskan makna fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) menurut pemahamanmu!

3.Sebutkan minimal empat bentuk perilaku berlomba-lomba dalam kebaikan yang dapat diterapkan oleh pelajar!

4.Jelaskan hikmah yang dapat diperoleh seseorang yang membiasakan diri berlomba-lomba dalam kebaikan!

5.aBerikan satu contoh nyata perilaku berlomba-lomba dalam kebaikan yang pernah kamu lakukan di sekolah atau di rumah!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

KELAS 12 BAGIAN DAN PRINSIP SABAR

 BAGIAN-BAGIAN DAN PRINSIP-PRINSIP KESABARAN

1. Identitas            :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 27 Juli 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : Bagian-Bagian dan Prinsip-Prinsip Kesabaran

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian sabar menurut Al-Qur'an dan Hadis.

2.Peserta didik mampu menguraikan bagian-bagian (macam-macam) kesabaran.

3.Peserta didik mampu menjelaskan prinsip-prinsip kesabaran dalam ajaran Islam.

4.Peserta didik mampu menerapkan sikap sabar dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ketaatan, menjauhi maksiat, maupun menghadapi musibah.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Baqarah (2) : 153

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

QS. Al-Baqarah (2) : 155-156

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”

Kaitan dengan materi :

Kedua ayat di atas menegaskan bahwa sabar merupakan salah satu bekal utama seorang mukmin dalam menjalani kehidupan, baik dalam menghadapi ujian berupa ketakutan, kekurangan harta, maupun kehilangan orang yang dicintai. Allah menjanjikan kebersamaan dan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Bagian-Bagian dan Prinsip-Prinsip Kesabaran.

Berikut ini materinya :

A. Pengertian Sabar

Secara bahasa, sabar (ash-shabr) berarti menahan diri. Secara istilah, sabar adalah menahan diri dari sikap keluh kesah, menahan lisan dari keluhan, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang tidak baik, dalam rangka mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sikap teguh, tenang, dan konsisten dalam menghadapi berbagai keadaan.

B. Bagian-Bagian (Macam-Macam) Kesabaran

•Sabar dalam ketaatan kepada Allah (sabar fi ath-tha'ah) — yaitu kesabaran dalam menjalankan perintah Allah, seperti sabar melaksanakan salat lima waktu, berpuasa, menuntut ilmu, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.

•Sabar dalam menjauhi maksiat (sabar 'an al-ma'shiyah) — yaitu kesabaran menahan diri dari perbuatan yang dilarang Allah, seperti menahan hawa nafsu, godaan, dan hal-hal yang dapat menjerumuskan pada dosa.

•Sabar dalam menghadapi musibah (sabar 'ala al-mushibah) — yaitu kesabaran ketika ditimpa ujian, cobaan, atau kesulitan hidup, seperti sakit, kehilangan, kemiskinan, maupun bencana.

C. Prinsip-Prinsip Kesabaran

•Ikhlas karena Allah — kesabaran dilakukan semata-mata mengharap ridha Allah, bukan karena dilihat atau dipuji orang lain.

•Yakin akan pertolongan dan janji Allah — meyakini bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Insyirah ayat 5-6.

•Tidak berkeluh kesah dan tidak menampakkan kemarahan — menahan lisan dan sikap dari keluhan yang berlebihan atau menyalahkan takdir.

•Konsisten dan istiqamah — sabar dilakukan secara terus-menerus, tidak hanya sesaat, hingga masalah terselesaikan atau ujian berlalu.

•Disertai usaha dan doa — sabar tidak berarti diam tanpa ikhtiar, tetapi tetap diiringi dengan usaha maksimal dan doa kepada Allah.

•Berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah — meyakini bahwa segala ketentuan Allah mengandung hikmah dan kebaikan, meskipun belum tentu dipahami saat itu juga.

D. Keutamaan Sabar

•Allah bersama orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 153).

•Mendapatkan pahala tanpa batas (QS. Az-Zumar: 10).

•Menjadi sebab datangnya pertolongan Allah dalam berbagai urusan.

•Melatih kekuatan mental dan ketenangan jiwa dalam menghadapi kehidupan.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat bagi kalian dalam menerapkan sikap sabar di kehidupan sehari-hari.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

1.Jelaskan pengertian sabar menurut bahasa dan istilah!

2.Sebutkan dan jelaskan tiga bagian (macam) kesabaran beserta contohnya masing-masing!

3.Uraikan minimal empat prinsip kesabaran yang harus dimiliki seorang muslim!

4.Jelaskan hikmah/keutamaan bersikap sabar berdasarkan QS. Al-Baqarah ayat 153 dan 155-156!

5.Berikan satu contoh penerapan sikap sabar dalam kehidupanmu sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : 

Jumat, 24 Juli 2026

12

                                        MATERI AJAR

Nama                             : Rahmattulloh,S.Pd.I ,M.Pd. Gr

Satuan Pendidikan : SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung

Mata Pelajaran         : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Kelas / Semester         : XII (Dua Belas) / Ganjil

Materi Pokok         : Sabar sebagai Kunci Menghadapi Cobaan dan Ujian

Dasar Ayat                 : QS. Al-Baqarah (2): 155-156

Alokasi Waktu         : 2 x 45 menit (1 pertemuan)


A. Capaian Pembelajaran

Peserta didik mampu membaca, menghafal, menganalisis makna, serta mengaitkan kandungan QS. Al-Baqarah (2): 155-156 tentang sabar dengan sikap dan perilaku menghadapi cobaan, ujian, dan musibah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah Swt. dan akan kembali kepada-Nya.

B. Tujuan Pembelajaran

1.Peserta didik dapat membaca QS. Al-Baqarah (2): 155-156 dengan tartil sesuai kaidah tajwid.

2.Peserta didik dapat mengidentifikasi hukum bacaan (tajwid) yang terdapat pada QS. Al-Baqarah (2): 155-156.

3.Peserta didik dapat menerjemahkan dan menjelaskan kandungan makna QS. Al-Baqarah (2): 155-156 berdasarkan tafsir.

4.Peserta didik dapat menganalisis konsep sabar dan macam-macamnya dalam ajaran Islam.

5.Peserta didik dapat menunjukkan contoh perilaku sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian di kehidupan sehari-hari.

6.Peserta didik dapat membiasakan sikap sabar sebagai cerminan keimanan kepada Allah Swt.

C. Peta Konsep

Sabar sebagai Kunci Menghadapi Ujian  →  QS. Al-Baqarah 155-156  →  Tajwid & Terjemah  →  Tafsir & Asbabun Nuzul  →  Macam-Macam Sabar  →  Hikmah & Penerapan dalam Kehidupan.

D. Uraian Materi

1. Pengertian Sabar

Kata sabar berasal dari bahasa Arab صَبَرَ - يَصْبِرُ - صَبْرًا yang berarti menahan diri. Secara istilah, sabar adalah menahan diri dari sikap keluh kesah, menahan lisan dari keluhan, serta menahan anggota badan dari tindakan yang tidak dibenarkan syariat ketika menghadapi kesulitan, cobaan, maupun godaan. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sikap tabah dan tetap istiqamah di jalan Allah Swt. sambil terus berikhtiar dan bertawakal.

2. Teks Ayat, Tajwid, dan Terjemah QS. Al-Baqarah (2): 155-156

Ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-ju'i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt(i), wa basysyiriṣ-ṣābirīn(a).

“Dan sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah/2: 155)

Ayat 156:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوْا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Al-lażīna iżā aṣābat-hum muṣībatun qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn(a).

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, berkata, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah/2: 156)

3. Contoh Kajian Tajwid

Lafal Hukum Bacaan Keterangan

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ Gunnah Nun bertasydid dibaca dengung ± 2 harakat.

مِّنَ الْخَوْفِ Alif Lam Qamariyah Alif lam diikuti huruf qamariyah (kha), dibaca jelas.

وَنَقْصٍ مِّنَ Idgham Bighunnah Tanwin bertemu huruf mim, dilebur disertai dengung.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ Alif Lam Syamsiyah Alif lam diikuti huruf syamsiyah (shad), dibaca melebur/tidak jelas.

إِنَّا لِلَّهِ Tafkhim pada lafal Allah Lafal Allah dibaca tebal karena huruf sebelumnya berharakat fathah.

4. Asbabun Nuzul dan Tafsir Ayat

Menurut para mufasir, ayat ini turun sebagai penguat bagi kaum muslimin di Madinah yang mengalami berbagai kesulitan pada masa awal Islam, seperti tekanan ekonomi, peperangan, dan berbagai bentuk ancaman dari kaum musyrikin. Allah Swt. menegaskan bahwa ujian dan cobaan merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap orang beriman untuk menguji kadar keimanan dan kesabarannya.

Pada ayat 155, Allah Swt. menyebutkan lima bentuk ujian yang mungkin menimpa manusia, yaitu:

•Al-khauf (rasa takut), misalnya takut terhadap musuh, bencana, atau ancaman keselamatan.

•Al-ju’ (kelaparan), berupa kekurangan pangan atau kesulitan ekonomi.

•Naqshim minal-amwal (kekurangan harta), seperti kerugian usaha atau kehilangan harta benda.

•Al-anfus (jiwa), berupa kematian, sakit, atau kehilangan orang-orang yang dicintai.

•Ats-tsamarat (buah-buahan/hasil bumi), berupa gagal panen atau berkurangnya hasil usaha.

Ayat ini menegaskan bahwa ujian tersebut sifatnya “sedikit” (bisyai'in), artinya seberat apa pun ujian yang dirasakan manusia, pada hakikatnya Allah Swt. Maha Mengetahui batas kemampuan hamba-Nya dan tidak akan memberi cobaan melebihi kesanggupannya. Allah kemudian memberikan kabar gembira (busyra) khusus bagi orang-orang yang sabar (ash-shabirin), bukan bagi selainnya, sebagai bentuk penghargaan atas ketabahan mereka.

Pada ayat 156, Allah Swt. menjelaskan ciri utama orang-orang yang sabar, yaitu ketika tertimpa musibah mereka segera mengucapkan kalimat istirja’: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Ucapan ini mengandung dua makna penting: pertama, pengakuan bahwa seluruh yang dimiliki manusia — harta, jiwa, keluarga — pada hakikatnya adalah milik Allah Swt. yang dititipkan; kedua, keyakinan bahwa semuanya pasti akan kembali kepada Allah Swt. Kesadaran ini melahirkan ketenangan batin (ridha) karena musibah dipahami sebagai bagian dari qadha dan qadar Allah Swt., bukan sesuatu yang terjadi sia-sia.

5. Macam-Macam Sabar

7.Sabar dalam ketaatan (sabar fi ath-tha’ah), yaitu tabah dalam menjalankan perintah Allah Swt. seperti sabar mendirikan salat lima waktu dan menuntut ilmu.

8.Sabar dalam menghadapi musibah (sabar 'alal-mushibah), yaitu tabah ketika ditimpa ujian seperti sakit, kehilangan, atau kegagalan, disertai ucapan istirja’.

9.Sabar dalam menjauhi maksiat (sabar 'anil-ma’shiyah), yaitu menahan diri dari perbuatan dosa dan godaan hawa nafsu.

6. Hikmah dan Penerapan Sabar dalam Kehidupan

•Menumbuhkan ketenangan hati dan jauh dari sikap putus asa saat menghadapi kesulitan.

•Melatih pengendalian diri (mujahadah an-nafs) sehingga tidak mudah mengeluh atau berputus asa.

•Meningkatkan keimanan dan ketakwaan karena meyakini bahwa setiap ujian datang dari Allah Swt. dan mengandung hikmah.

•Mendorong semangat untuk tetap berikhtiar dan berdoa meskipun berada dalam kesulitan, misalnya tetap belajar dengan sungguh-sungguh menjelang ujian sekolah walau menghadapi banyak tekanan.

•Menjadi teladan sikap sosial, seperti tetap ramah dan tidak mudah marah ketika menghadapi masalah dengan teman atau keluarga.

•Mendapatkan balasan pahala tanpa batas, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Az-Zumar/39: 10 bahwa orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa hisab.

E. Rangkuman

QS. Al-Baqarah (2): 155-156 mengajarkan bahwa ujian dan cobaan — baik berupa rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, maupun berkurangnya hasil usaha — merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap mukmin. Allah Swt. menjanjikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah mengucapkan kalimat istirja’ sebagai bentuk pengakuan dan penyerahan diri kepada Allah Swt. Sabar terbagi menjadi tiga: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam menjauhi maksiat. Dengan membiasakan sikap sabar, peserta didik diharapkan mampu menghadapi berbagai cobaan dan ujian kehidupan, termasuk ujian akademik di sekolah, dengan hati yang tenang dan tetap berikhtiar.

F. Evaluasi

I. Pilihan Ganda

10.Jelaskan pengertian sabar menurut bahasa dan istilah!

11.Sebutkan lima bentuk ujian yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 155!

12.Tuliskan bunyi kalimat istirja’ beserta artinya!

13.Jelaskan kandungan makna QS. Al-Baqarah ayat 156!

14.Sebutkan dan jelaskan tiga macam sabar dalam ajaran Islam!

II. Uraian/Refleksi

15.Ceritakan pengalaman pribadi ketika menghadapi ujian atau cobaan dan bagaimana sikap sabar diterapkan!

16.Bagaimana sikap sabar dapat diterapkan dalam menghadapi ujian sekolah atau Ujian Nasional?

17.Analisislah keterkaitan antara sikap sabar dengan sikap ridha kepada qadha dan qadar Allah Swt.!

G. Daftar Pustaka

Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Buku Guru dan Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XII.

Tafsir Al-Muyassar dan Tafsir Ibnu Katsir (ringkasan), pada penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 155-156.

Kamis, 23 Juli 2026

kelas 12

                                        MATERI AJAR

Nama                             : Rahmattulloh,S.Pd.I ,M.Pd. Gr

Satuan Pendidikan : SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung

Mata Pelajaran         : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Kelas / Semester         : XII (Dua Belas) / Ganjil

Materi Pokok         : Sabar sebagai Kunci Menghadapi Cobaan dan Ujian

Dasar Ayat                 : QS. Al-Baqarah (2): 155-156

Alokasi Waktu         : 2 x 45 menit (1 pertemuan)


A. Capaian Pembelajaran

Peserta didik mampu membaca, menghafal, menganalisis makna, serta mengaitkan kandungan QS. Al-Baqarah (2): 155-156 tentang sabar dengan sikap dan perilaku menghadapi cobaan, ujian, dan musibah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah Swt. dan akan kembali kepada-Nya.

B. Tujuan Pembelajaran

1.Peserta didik dapat membaca QS. Al-Baqarah (2): 155-156 dengan tartil sesuai kaidah tajwid.

2.Peserta didik dapat mengidentifikasi hukum bacaan (tajwid) yang terdapat pada QS. Al-Baqarah (2): 155-156.

3.Peserta didik dapat menerjemahkan dan menjelaskan kandungan makna QS. Al-Baqarah (2): 155-156 berdasarkan tafsir.

4.Peserta didik dapat menganalisis konsep sabar dan macam-macamnya dalam ajaran Islam.

5.Peserta didik dapat menunjukkan contoh perilaku sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian di kehidupan sehari-hari.

6.Peserta didik dapat membiasakan sikap sabar sebagai cerminan keimanan kepada Allah Swt.

C. Peta Konsep

Sabar sebagai Kunci Menghadapi Ujian  →  QS. Al-Baqarah 155-156  →  Tajwid & Terjemah  →  Tafsir & Asbabun Nuzul  →  Macam-Macam Sabar  →  Hikmah & Penerapan dalam Kehidupan.

D. Uraian Materi

1. Pengertian Sabar

Kata sabar berasal dari bahasa Arab صَبَرَ - يَصْبِرُ - صَبْرًا yang berarti menahan diri. Secara istilah, sabar adalah menahan diri dari sikap keluh kesah, menahan lisan dari keluhan, serta menahan anggota badan dari tindakan yang tidak dibenarkan syariat ketika menghadapi kesulitan, cobaan, maupun godaan. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sikap tabah dan tetap istiqamah di jalan Allah Swt. sambil terus berikhtiar dan bertawakal.

2. Teks Ayat, Tajwid, dan Terjemah QS. Al-Baqarah (2): 155-156

Ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-ju'i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt(i), wa basysyiriṣ-ṣābirīn(a).

“Dan sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah/2: 155)

Ayat 156:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوْا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Al-lażīna iżā aṣābat-hum muṣībatun qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn(a).

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, berkata, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah/2: 156)

3. Contoh Kajian Tajwid

Lafal Hukum Bacaan Keterangan

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ Gunnah Nun bertasydid dibaca dengung ± 2 harakat.

مِّنَ الْخَوْفِ Alif Lam Qamariyah Alif lam diikuti huruf qamariyah (kha), dibaca jelas.

وَنَقْصٍ مِّنَ Idgham Bighunnah Tanwin bertemu huruf mim, dilebur disertai dengung.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ Alif Lam Syamsiyah Alif lam diikuti huruf syamsiyah (shad), dibaca melebur/tidak jelas.

إِنَّا لِلَّهِ Tafkhim pada lafal Allah Lafal Allah dibaca tebal karena huruf sebelumnya berharakat fathah.

4. Asbabun Nuzul dan Tafsir Ayat

Menurut para mufasir, ayat ini turun sebagai penguat bagi kaum muslimin di Madinah yang mengalami berbagai kesulitan pada masa awal Islam, seperti tekanan ekonomi, peperangan, dan berbagai bentuk ancaman dari kaum musyrikin. Allah Swt. menegaskan bahwa ujian dan cobaan merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap orang beriman untuk menguji kadar keimanan dan kesabarannya.

Pada ayat 155, Allah Swt. menyebutkan lima bentuk ujian yang mungkin menimpa manusia, yaitu:

•Al-khauf (rasa takut), misalnya takut terhadap musuh, bencana, atau ancaman keselamatan.

•Al-ju’ (kelaparan), berupa kekurangan pangan atau kesulitan ekonomi.

•Naqshim minal-amwal (kekurangan harta), seperti kerugian usaha atau kehilangan harta benda.

•Al-anfus (jiwa), berupa kematian, sakit, atau kehilangan orang-orang yang dicintai.

•Ats-tsamarat (buah-buahan/hasil bumi), berupa gagal panen atau berkurangnya hasil usaha.

Ayat ini menegaskan bahwa ujian tersebut sifatnya “sedikit” (bisyai'in), artinya seberat apa pun ujian yang dirasakan manusia, pada hakikatnya Allah Swt. Maha Mengetahui batas kemampuan hamba-Nya dan tidak akan memberi cobaan melebihi kesanggupannya. Allah kemudian memberikan kabar gembira (busyra) khusus bagi orang-orang yang sabar (ash-shabirin), bukan bagi selainnya, sebagai bentuk penghargaan atas ketabahan mereka.

Pada ayat 156, Allah Swt. menjelaskan ciri utama orang-orang yang sabar, yaitu ketika tertimpa musibah mereka segera mengucapkan kalimat istirja’: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Ucapan ini mengandung dua makna penting: pertama, pengakuan bahwa seluruh yang dimiliki manusia — harta, jiwa, keluarga — pada hakikatnya adalah milik Allah Swt. yang dititipkan; kedua, keyakinan bahwa semuanya pasti akan kembali kepada Allah Swt. Kesadaran ini melahirkan ketenangan batin (ridha) karena musibah dipahami sebagai bagian dari qadha dan qadar Allah Swt., bukan sesuatu yang terjadi sia-sia.

5. Macam-Macam Sabar

7.Sabar dalam ketaatan (sabar fi ath-tha’ah), yaitu tabah dalam menjalankan perintah Allah Swt. seperti sabar mendirikan salat lima waktu dan menuntut ilmu.

8.Sabar dalam menghadapi musibah (sabar 'alal-mushibah), yaitu tabah ketika ditimpa ujian seperti sakit, kehilangan, atau kegagalan, disertai ucapan istirja’.

9.Sabar dalam menjauhi maksiat (sabar 'anil-ma’shiyah), yaitu menahan diri dari perbuatan dosa dan godaan hawa nafsu.

6. Hikmah dan Penerapan Sabar dalam Kehidupan

•Menumbuhkan ketenangan hati dan jauh dari sikap putus asa saat menghadapi kesulitan.

•Melatih pengendalian diri (mujahadah an-nafs) sehingga tidak mudah mengeluh atau berputus asa.

•Meningkatkan keimanan dan ketakwaan karena meyakini bahwa setiap ujian datang dari Allah Swt. dan mengandung hikmah.

•Mendorong semangat untuk tetap berikhtiar dan berdoa meskipun berada dalam kesulitan, misalnya tetap belajar dengan sungguh-sungguh menjelang ujian sekolah walau menghadapi banyak tekanan.

•Menjadi teladan sikap sosial, seperti tetap ramah dan tidak mudah marah ketika menghadapi masalah dengan teman atau keluarga.

•Mendapatkan balasan pahala tanpa batas, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Az-Zumar/39: 10 bahwa orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa hisab.

E. Rangkuman

QS. Al-Baqarah (2): 155-156 mengajarkan bahwa ujian dan cobaan — baik berupa rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, maupun berkurangnya hasil usaha — merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap mukmin. Allah Swt. menjanjikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah mengucapkan kalimat istirja’ sebagai bentuk pengakuan dan penyerahan diri kepada Allah Swt. Sabar terbagi menjadi tiga: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam menjauhi maksiat. Dengan membiasakan sikap sabar, peserta didik diharapkan mampu menghadapi berbagai cobaan dan ujian kehidupan, termasuk ujian akademik di sekolah, dengan hati yang tenang dan tetap berikhtiar.

F. Evaluasi

I. Pilihan Ganda

10.Jelaskan pengertian sabar menurut bahasa dan istilah!

11.Sebutkan lima bentuk ujian yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 155!

12.Tuliskan bunyi kalimat istirja’ beserta artinya!

13.Jelaskan kandungan makna QS. Al-Baqarah ayat 156!

14.Sebutkan dan jelaskan tiga macam sabar dalam ajaran Islam!

II. Uraian/Refleksi

15.Ceritakan pengalaman pribadi ketika menghadapi ujian atau cobaan dan bagaimana sikap sabar diterapkan!

16.Bagaimana sikap sabar dapat diterapkan dalam menghadapi ujian sekolah atau Ujian Nasional?

17.Analisislah keterkaitan antara sikap sabar dengan sikap ridha kepada qadha dan qadar Allah Swt.!

G. Daftar Pustaka

Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Buku Guru dan Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XII.

Tafsir Al-Muyassar dan Tafsir Ibnu Katsir (ringkasan), pada penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 155-156.

Rabu, 22 Juli 2026

kelas 12, SABAR

                                       MATERI AJAR

Nama                             : Rahmattulloh,S.Pd.I ,M.Pd. Gr

Satuan Pendidikan : SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung

Mata Pelajaran         : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Kelas / Semester         : XII (Dua Belas) / Ganjil

Materi Pokok         : Sabar sebagai Kunci Menghadapi Cobaan dan Ujian

Dasar Ayat                 : QS. Al-Baqarah (2): 155-156

Alokasi Waktu         : 2 x 45 menit (1 pertemuan)


A. Capaian Pembelajaran

Peserta didik mampu membaca, menghafal, menganalisis makna, serta mengaitkan kandungan QS. Al-Baqarah (2): 155-156 tentang sabar dengan sikap dan perilaku menghadapi cobaan, ujian, dan musibah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah Swt. dan akan kembali kepada-Nya.

B. Tujuan Pembelajaran

1.Peserta didik dapat membaca QS. Al-Baqarah (2): 155-156 dengan tartil sesuai kaidah tajwid.

2.Peserta didik dapat mengidentifikasi hukum bacaan (tajwid) yang terdapat pada QS. Al-Baqarah (2): 155-156.

3.Peserta didik dapat menerjemahkan dan menjelaskan kandungan makna QS. Al-Baqarah (2): 155-156 berdasarkan tafsir.

4.Peserta didik dapat menganalisis konsep sabar dan macam-macamnya dalam ajaran Islam.

5.Peserta didik dapat menunjukkan contoh perilaku sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian di kehidupan sehari-hari.

6.Peserta didik dapat membiasakan sikap sabar sebagai cerminan keimanan kepada Allah Swt.

C. Peta Konsep

Sabar sebagai Kunci Menghadapi Ujian  →  QS. Al-Baqarah 155-156  →  Tajwid & Terjemah  →  Tafsir & Asbabun Nuzul  →  Macam-Macam Sabar  →  Hikmah & Penerapan dalam Kehidupan.

D. Uraian Materi

1. Pengertian Sabar

Kata sabar berasal dari bahasa Arab صَبَرَ - يَصْبِرُ - صَبْرًا yang berarti menahan diri. Secara istilah, sabar adalah menahan diri dari sikap keluh kesah, menahan lisan dari keluhan, serta menahan anggota badan dari tindakan yang tidak dibenarkan syariat ketika menghadapi kesulitan, cobaan, maupun godaan. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sikap tabah dan tetap istiqamah di jalan Allah Swt. sambil terus berikhtiar dan bertawakal.

2. Teks Ayat, Tajwid, dan Terjemah QS. Al-Baqarah (2): 155-156

Ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-ju'i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt(i), wa basysyiriṣ-ṣābirīn(a).

“Dan sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah/2: 155)

Ayat 156:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوْا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Al-lażīna iżā aṣābat-hum muṣībatun qālū innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn(a).

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, berkata, ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah/2: 156)

3. Contoh Kajian Tajwid

Lafal Hukum Bacaan Keterangan

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ Gunnah Nun bertasydid dibaca dengung ± 2 harakat.

مِّنَ الْخَوْفِ Alif Lam Qamariyah Alif lam diikuti huruf qamariyah (kha), dibaca jelas.

وَنَقْصٍ مِّنَ Idgham Bighunnah Tanwin bertemu huruf mim, dilebur disertai dengung.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ Alif Lam Syamsiyah Alif lam diikuti huruf syamsiyah (shad), dibaca melebur/tidak jelas.

إِنَّا لِلَّهِ Tafkhim pada lafal Allah Lafal Allah dibaca tebal karena huruf sebelumnya berharakat fathah.

4. Asbabun Nuzul dan Tafsir Ayat

Menurut para mufasir, ayat ini turun sebagai penguat bagi kaum muslimin di Madinah yang mengalami berbagai kesulitan pada masa awal Islam, seperti tekanan ekonomi, peperangan, dan berbagai bentuk ancaman dari kaum musyrikin. Allah Swt. menegaskan bahwa ujian dan cobaan merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap orang beriman untuk menguji kadar keimanan dan kesabarannya.

Pada ayat 155, Allah Swt. menyebutkan lima bentuk ujian yang mungkin menimpa manusia, yaitu:

•Al-khauf (rasa takut), misalnya takut terhadap musuh, bencana, atau ancaman keselamatan.

•Al-ju’ (kelaparan), berupa kekurangan pangan atau kesulitan ekonomi.

•Naqshim minal-amwal (kekurangan harta), seperti kerugian usaha atau kehilangan harta benda.

•Al-anfus (jiwa), berupa kematian, sakit, atau kehilangan orang-orang yang dicintai.

•Ats-tsamarat (buah-buahan/hasil bumi), berupa gagal panen atau berkurangnya hasil usaha.

Ayat ini menegaskan bahwa ujian tersebut sifatnya “sedikit” (bisyai'in), artinya seberat apa pun ujian yang dirasakan manusia, pada hakikatnya Allah Swt. Maha Mengetahui batas kemampuan hamba-Nya dan tidak akan memberi cobaan melebihi kesanggupannya. Allah kemudian memberikan kabar gembira (busyra) khusus bagi orang-orang yang sabar (ash-shabirin), bukan bagi selainnya, sebagai bentuk penghargaan atas ketabahan mereka.

Pada ayat 156, Allah Swt. menjelaskan ciri utama orang-orang yang sabar, yaitu ketika tertimpa musibah mereka segera mengucapkan kalimat istirja’: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Ucapan ini mengandung dua makna penting: pertama, pengakuan bahwa seluruh yang dimiliki manusia — harta, jiwa, keluarga — pada hakikatnya adalah milik Allah Swt. yang dititipkan; kedua, keyakinan bahwa semuanya pasti akan kembali kepada Allah Swt. Kesadaran ini melahirkan ketenangan batin (ridha) karena musibah dipahami sebagai bagian dari qadha dan qadar Allah Swt., bukan sesuatu yang terjadi sia-sia.

5. Macam-Macam Sabar

7.Sabar dalam ketaatan (sabar fi ath-tha’ah), yaitu tabah dalam menjalankan perintah Allah Swt. seperti sabar mendirikan salat lima waktu dan menuntut ilmu.

8.Sabar dalam menghadapi musibah (sabar 'alal-mushibah), yaitu tabah ketika ditimpa ujian seperti sakit, kehilangan, atau kegagalan, disertai ucapan istirja’.

9.Sabar dalam menjauhi maksiat (sabar 'anil-ma’shiyah), yaitu menahan diri dari perbuatan dosa dan godaan hawa nafsu.

6. Hikmah dan Penerapan Sabar dalam Kehidupan

•Menumbuhkan ketenangan hati dan jauh dari sikap putus asa saat menghadapi kesulitan.

•Melatih pengendalian diri (mujahadah an-nafs) sehingga tidak mudah mengeluh atau berputus asa.

•Meningkatkan keimanan dan ketakwaan karena meyakini bahwa setiap ujian datang dari Allah Swt. dan mengandung hikmah.

•Mendorong semangat untuk tetap berikhtiar dan berdoa meskipun berada dalam kesulitan, misalnya tetap belajar dengan sungguh-sungguh menjelang ujian sekolah walau menghadapi banyak tekanan.

•Menjadi teladan sikap sosial, seperti tetap ramah dan tidak mudah marah ketika menghadapi masalah dengan teman atau keluarga.

•Mendapatkan balasan pahala tanpa batas, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Az-Zumar/39: 10 bahwa orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa hisab.

E. Rangkuman

QS. Al-Baqarah (2): 155-156 mengajarkan bahwa ujian dan cobaan — baik berupa rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa, maupun berkurangnya hasil usaha — merupakan sunnatullah yang pasti dialami setiap mukmin. Allah Swt. menjanjikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ketika ditimpa musibah mengucapkan kalimat istirja’ sebagai bentuk pengakuan dan penyerahan diri kepada Allah Swt. Sabar terbagi menjadi tiga: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam menjauhi maksiat. Dengan membiasakan sikap sabar, peserta didik diharapkan mampu menghadapi berbagai cobaan dan ujian kehidupan, termasuk ujian akademik di sekolah, dengan hati yang tenang dan tetap berikhtiar.

F. Evaluasi

I. Pilihan Ganda

10.Jelaskan pengertian sabar menurut bahasa dan istilah!

11.Sebutkan lima bentuk ujian yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 155!

12.Tuliskan bunyi kalimat istirja’ beserta artinya!

13.Jelaskan kandungan makna QS. Al-Baqarah ayat 156!

14.Sebutkan dan jelaskan tiga macam sabar dalam ajaran Islam!

II. Uraian/Refleksi

15.Ceritakan pengalaman pribadi ketika menghadapi ujian atau cobaan dan bagaimana sikap sabar diterapkan!

16.Bagaimana sikap sabar dapat diterapkan dalam menghadapi ujian sekolah atau Ujian Nasional?

17.Analisislah keterkaitan antara sikap sabar dengan sikap ridha kepada qadha dan qadar Allah Swt.!

G. Daftar Pustaka

Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Buku Guru dan Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XII.

Tafsir Al-Muyassar dan Tafsir Ibnu Katsir (ringkasan), pada penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 155-156.

Senin, 20 Juli 2026

MATERI KELAS 10

 


                                            MATERI AJAR 

Mata Pelajaran: Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP)

Satuan Pendidikan: SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung

Kelas / Semester: X (Sepuluh) / Ganjil

Materi Pokok: Meraih Kesuksesan dengan Kerja Keras dan Etos Kerja Tinggi

Guru Pengampu: Rahmattulloh, S.Pd.I.


1. Pengantar & Definisi

Dalam Islam, bekerja bukan sekadar mencari nafkah untuk menyambung hidup, melainkan bagian dari ibadah.

Kerja Keras: Bersungguh-sungguh, gigih, dan tidak mudah menyerah dalam melakukan suatu kebaikan atau mencapai cita-cita, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.

Etos Kerja: Sikap, pandangan, dan keyakinan seseorang terhadap kerja sebagai sesuatu yang luhur, berharga, dan harus dilakukan dengan tanggung jawab yang tinggi (profesional).

2.Landasan Al-Qur'an dan Hadis


Sebagai pedoman hidup, Allah SWT dan Rasulullah SAW telah memberikan arahan tegas mengenai pentingnya memiliki etos kerja.

A. Al-Qur'an Surat At-Taubah Ayat 105

{وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ}

Artinya: "Dan Katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.'" 

Poin Penting Ayat:

Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk aktif bekerja dan beraktivitas, bukan bermalas-malasan.

Setiap amal atau pekerjaan manusia tidak ada yang tersembunyi; semuanya diawasi oleh Allah, Rasul, dan kaum mukmin.

Di akhirat kelak, seluruh hasil kerja keras kita akan dimintai pertanggungjawaban.


B. Hadis Nabi SAW tentang Etos Kerja

{مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ}

Artinya: "Tidak ada seseorang yang memakan makanan yang lebih baik daripada memakan hasil usaha tangannya sendiri." (HR. Bukhari)

Poin Penting Hadis:

Islam sangat menghargai kemandirian ekonomi.

Menghindari meminta-minta atau menjadi beban bagi orang lain merupakan bagian dari menjaga kehormatan diri (muru'ah).


3. Karakteristik Muslim yang Memiliki Etos Kerja

Untuk siswa kelas 10 SMA Al Azhar 3 Bandar Lampung, etos kerja islami dapat diterapkan melalui formula 4 As

Kerja Ikhlas: Meniatkan sekolah dan belajar semata-mata karena beribadah kepada Allah SWT.

Kerja Cerdas: Menggunakan akal, kreativitas, dan teknologi secara optimal untuk menyelesaikan tugas sekolah dengan efektif.

Kerja Keras: Pantang menyerah saat menghadapi materi pelajaran yang sulit atau ujian.

Kerja Tuntas: Menyelesaikan apa yang sudah dimulai (tidak menunda-nunda tugas kelompok maupun individu).


4. Manfaat Kerja Keras & Etos Kerja

Mengapa kita harus lelah bekerja keras sekarang? Berikut dampak positif yang akan didapatkan:

Mengembangkan Potensi Diri: Bakat dan kecerdasan hanya akan tajam jika diasah dengan latihan yang konsisten.

Membentuk Pribadi Tanggung Jawab: Dipercaya oleh guru, orang tua, dan teman sejawat.

Mendapatkan Keberkahan: Rezeki atau nilai yang diperoleh dari hasil kejujuran dan kerja keras jauh lebih berkah serta menenangkan hati.

Menghindari Kemiskinan & Ketergantungan: Menjadi individu mandiri yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat luas di masa depan.


Tugas Diskusi Kelas X:

Bersama kelompokmu, analisislah tantangan terbesar apa yang sering membuat pelajar SMA kehilangan motivasi/etos belajar di era digital saat ini, dan bagaimana solusi Islami untuk mengatasinya? 


Selasa, 28 April 2026

 


*MATERI AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM* 


*A. IDENTITAS*  

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti  

Kelas/Semester : XII / Genap  

Materi Pokok    : Pentingnya Belajar di Waktu Muda  

Alokasi Waktu  : 2 x 45 Menit  

Nama Guru        : Rahmattulloh,S.Pd.I,Gr,M.Pd

Tahun                  : 2025/2026  


*B. TUJUAN PEMBELAJARAN*  

Setelah pembelajaran, peserta didik mampu:  

1. Menjelaskan dalil naqli tentang keutamaan menuntut ilmu di usia muda. C2  

2. Menganalisis manfaat belajar di waktu muda bagi masa depan dunia & akhirat. C4  

3. Menunjukkan sikap semangat belajar sebagai wujud syukur atas nikmat muda. A3  


*C. URAIAN MATERI: “MASA MUDA, MASA EMAS MENUNTUT ILMU”*


*1. Dalil Keutamaan Belajar di Waktu Muda*  

a. *Hadis Nabi SAW*:  

_“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: mudamu sebelum tuamu...”_ HR. Hakim  

Muda = modal utama. Energi, daya ingat, waktu luang masih banyak.  


b. *Q.S. Al-Mujadalah: 11*  

_“...niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”_  

Ilmu jadi wasilah naik derajat, dan waktu muda adalah waktu terbaik mengejarnya.


c. *Kisah Sahabat*: Ibnu Abbas r.a. dijuluki _Turjumanul Qur’an_ karena sejak kecil rajin mencatat ilmu dari Rasulullah. Imam Syafi’i hafal Al-Qur’an usia 7 tahun, hafal _Al-Muwaththa’_ usia 10 tahun.


*2. Mengapa Harus Belajar Saat Muda?*

Aspek Waktu Muda Waktu Tua

**Daya Ingat** Kuat, cepat hafal Menurun, mudah lupa

**Tenaga** Prima, bisa begadang halal untuk ngaji Mudah lelah, ngantuk

**Tanggungan** Masih sedikit Sudah banyak: anak, kerja, utang

**Peluang** Banyak beasiswa, lomba, karier Terbatas, persaingan lebih berat

**Dosa** Belum banyak maksiat, hati bersih Bisa jadi sudah keras hati

*3. Akibat Malas Belajar Saat Muda*  

1. *Menyesal di hari tua* – “Andai dulu aku rajin...”  

2. *Jadi beban orang lain* – Tidak punya skill, susah mandiri.  

3. *Mudah dibodohi* – Hoax, investasi bodong, paham sesat masuk karena awam.  

4. *Hisab lebih berat* – Umur muda ditanya khusus. HR. Tirmidzi


*4. Kiat Sukses Belajar di Usia Muda*  

1. *Niat karena Allah* – Ikhlas, bukan sekadar nilai. Q.S. Al-Bayyinah:5  

2. *Manajemen Waktu* – Kurangi _scroll_ medsos, buat jadwal _ngaji + sekolah_.  

3. *Pilih Lingkungan* – Teman shalih mengajak ke majelis ilmu. Q.S. Al-Kahfi:28  

4. *Adab ke Guru* – Hormat, catat, amalkan. Imam Malik tidak berani buka kitab kecuali berwudhu.  

5. *Istiqamah Meski Sedikit* – 1 hari 1 halaman lebih baik daripada 1 juz tapi setahun sekali.


*5. Belajar = Investasi Akhirat*  

Ilmu yang diamalkan jadi amal jariyah. “Jika manusia mati, terputus amalnya kecuali 3: ...ilmu yang bermanfaat” HR. Muslim.  

Muda + berilmu = pemimpin umat. Pemuda Ashabul Kahfi, Muhammad Al-Fatih taklukkan Konstantinopel usia 21 tahun.


*D. METODE & KEGIATAN PEMBELAJARAN*  

1. *Apersepsi*: Tayang gambar animasi “Penyesalan Kakek” – lihat poin E.  

2. *Inti*: Tadarus Q.S. Al-Mujadalah:11, diskusi kelompok: “Kalau aku gak kuliah, 10 tahun lagi jadi apa?”  

Senin, 27 April 2026



*MATERI AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM* 


*A. IDENTITAS*  

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti  

Kelas/Semester : XII / Genap  

Materi Pokok    : Pentingnya Belajar di Waktu Muda  

Alokasi Waktu  : 2 x 45 Menit  

Nama Guru        : Rahmattulloh,S.Pd.I,Gr,M.Pd

Tahun                  : 2025/2026  


*B. TUJUAN PEMBELAJARAN*  

Setelah pembelajaran, peserta didik mampu:  

1. Menjelaskan dalil naqli tentang keutamaan menuntut ilmu di usia muda. C2  

2. Menganalisis manfaat belajar di waktu muda bagi masa depan dunia & akhirat. C4  

3. Menunjukkan sikap semangat belajar sebagai wujud syukur atas nikmat muda. A3  


*C. URAIAN MATERI: “MASA MUDA, MASA EMAS MENUNTUT ILMU”*


*1. Dalil Keutamaan Belajar di Waktu Muda*  

a. *Hadis Nabi SAW*:  

_“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: mudamu sebelum tuamu...”_ HR. Hakim  

Muda = modal utama. Energi, daya ingat, waktu luang masih banyak.  


b. *Q.S. Al-Mujadalah: 11*  

_“...niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”_  

Ilmu jadi wasilah naik derajat, dan waktu muda adalah waktu terbaik mengejarnya.


c. *Kisah Sahabat*: Ibnu Abbas r.a. dijuluki _Turjumanul Qur’an_ karena sejak kecil rajin mencatat ilmu dari Rasulullah. Imam Syafi’i hafal Al-Qur’an usia 7 tahun, hafal _Al-Muwaththa’_ usia 10 tahun.


*2. Mengapa Harus Belajar Saat Muda?*

Aspek Waktu Muda Waktu Tua

**Daya Ingat** Kuat, cepat hafal Menurun, mudah lupa

**Tenaga** Prima, bisa begadang halal untuk ngaji Mudah lelah, ngantuk

**Tanggungan** Masih sedikit Sudah banyak: anak, kerja, utang

**Peluang** Banyak beasiswa, lomba, karier Terbatas, persaingan lebih berat

**Dosa** Belum banyak maksiat, hati bersih Bisa jadi sudah keras hati

*3. Akibat Malas Belajar Saat Muda*  

1. *Menyesal di hari tua* – “Andai dulu aku rajin...”  

2. *Jadi beban orang lain* – Tidak punya skill, susah mandiri.  

3. *Mudah dibodohi* – Hoax, investasi bodong, paham sesat masuk karena awam.  

4. *Hisab lebih berat* – Umur muda ditanya khusus. HR. Tirmidzi


*4. Kiat Sukses Belajar di Usia Muda*  

1. *Niat karena Allah* – Ikhlas, bukan sekadar nilai. Q.S. Al-Bayyinah:5  

2. *Manajemen Waktu* – Kurangi _scroll_ medsos, buat jadwal _ngaji + sekolah_.  

3. *Pilih Lingkungan* – Teman shalih mengajak ke majelis ilmu. Q.S. Al-Kahfi:28  

4. *Adab ke Guru* – Hormat, catat, amalkan. Imam Malik tidak berani buka kitab kecuali berwudhu.  

5. *Istiqamah Meski Sedikit* – 1 hari 1 halaman lebih baik daripada 1 juz tapi setahun sekali.


*5. Belajar = Investasi Akhirat*  

Ilmu yang diamalkan jadi amal jariyah. “Jika manusia mati, terputus amalnya kecuali 3: ...ilmu yang bermanfaat” HR. Muslim.  

Muda + berilmu = pemimpin umat. Pemuda Ashabul Kahfi, Muhammad Al-Fatih taklukkan Konstantinopel usia 21 tahun.


*D. METODE & KEGIATAN PEMBELAJARAN*  

1. *Apersepsi*: Tayang gambar animasi “Penyesalan Kakek” – lihat poin E.  

2. *Inti*: Tadarus Q.S. Al-Mujadalah:11, diskusi kelompok: “Kalau aku gak kuliah, 10 tahun lagi jadi apa?”  

Kamis, 02 April 2026

kelas 12

 

MATERI AJAR PAI

Topik: Pentingnya Belajar di Masa Muda menurut Ali bin Abi Thalib
Nama Guru: Rahmattulloh
Kelas: XII (Dua Belas)
Mata Pelajaran: Pendidikan Agama Islam (PAI)


A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pentingnya menuntut ilmu di masa muda.
  2. Memahami hikmah perkataan Ali bin Abi Thalib tentang belajar.
  3. Menunjukkan sikap semangat belajar dan menghargai waktu muda.
  4. Mengaitkan pentingnya ilmu dengan kehidupan sehari-hari.

B. Materi Pembelajaran

1. Pengertian Belajar di Masa Muda

Belajar di masa muda adalah proses menuntut ilmu yang dilakukan sejak usia dini hingga dewasa, ketika kondisi fisik dan mental masih kuat serta daya ingat masih optimal.


2. Perkataan Ali bin Abi Thalib

Salah satu nasihat beliau:

“Ilmu di waktu kecil bagaikan ukiran di atas batu.”

Makna:

  • Ilmu yang dipelajari sejak muda akan melekat kuat dalam ingatan.
  • Masa muda adalah waktu terbaik untuk membangun fondasi ilmu dan karakter.

3. Pentingnya Belajar di Masa Muda

  • Daya ingat masih kuat → mudah memahami ilmu.
  • Waktu lebih panjang → kesempatan belajar lebih luas.
  • Membentuk karakter → disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras.
  • Menentukan masa depan → ilmu menjadi bekal kehidupan.

4. Hikmah dari Perkataan Ali bin Abi Thalib

  • Jangan menyia-nyiakan masa muda.
  • Ilmu adalah investasi jangka panjang.
  • Kesuksesan dimulai dari kebiasaan belajar sejak dini.

5. Contoh Penerapan dalam Kehidupan

  • Rajin belajar dan mengulang pelajaran.
  • Mengatur waktu antara belajar dan bermain.
  • Menghormati guru dan orang tua.
  • Aktif mencari ilmu dari berbagai sumber.

C. Contoh Gambar Ilustrasi

1. Ilustrasi Belajar di Masa Muda

📚 Seorang pelajar sedang membaca buku dengan penuh semangat di meja belajar.

2. Ilustrasi Ukiran di Batu

🪨 Gambar ukiran di batu sebagai simbol ilmu yang kuat dan tidak mudah hilang.

3. Ilustrasi Masa Depan Cerah

🎓 Seorang siswa lulus dengan bahagia karena rajin belajar sejak muda.

Jumat, 23 Januari 2026

PAI KELAS 12

  Nama Penyusun : Rahmattulloh, S.Pd.I, M.Pd.

Satuan Pendidikan : SMA Al-Azhar 3 Bandar Lampung

Kelas/Fase : XII (Dua Belas) F

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

1.     Capaian Pembelajaran


 Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan dapat:

  1. Menjelaskan pengertian Ilmu kalam.
  2. Mengidentifikasi ruang lingkup ilmu kalam.
  3. Menyebutkan penertian menurut tokoh ulama.
  4. Menunjukkan tujuan ilmu kalam

A. Pengertian Ilmu Kalam

Ilmu Kalam adalah cabang ilmu dalam Islam yang membahas akidah atau keimanan dengan menggunakan dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadis) serta dalil aqli (akal/logika).
Ilmu ini bertujuan untuk mempertahankan dan menjelaskan keyakinan Islam dari berbagai keraguan, kesesatan, dan pemikiran yang menyimpang.

Kata kalam berarti “pembicaraan” atau “diskusi”, karena ilmu ini banyak menggunakan dialog dan argumentasi dalam membahas masalah ketuhanan.


B. Sumber Ilmu Kalam

Sumber Ilmu Kalam terdiri dari beberapa hal berikut:

  1. Al-Qur’an
    Merupakan sumber utama yang berisi ajaran tentang keesaan Allah, sifat-sifat-Nya, para rasul, hari akhir, dan perkara gaib lainnya.

  2. Hadis Nabi Muhammad ﷺ
    Menjelaskan dan memperinci ajaran akidah yang terdapat dalam Al-Qur’an.

  3. Akal (Rasio)
    Digunakan untuk memahami dan memperkuat dalil naqli agar dapat diterima secara logis.

  4. Ijma’ Ulama
    Kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu kebenaran dalam masalah akidah.


C. Tujuan Ilmu Kalam

Tujuan mempelajari Ilmu Kalam antara lain:

  1. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT dan ajaran Islam.

  2. Membela akidah Islam dari serangan pemikiran yang menyesatkan.

  3. Menjelaskan ajaran tauhid secara rasional dan sistematis.

  4. Menumbuhkan keyakinan yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis.

  5. Membimbing umat Islam agar tidak mudah terpengaruh paham yang menyimpang.


D. Manfaat Ilmu Kalam

Manfaat mempelajari Ilmu Kalam antara lain:

  1. Menjadikan iman lebih kuat dan mantap.

  2. Membantu umat Islam memahami akidah secara benar dan logis.

  3. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam masalah keimanan.

  4. Menjadi benteng dari aliran sesat dan pemikiran yang keliru.

  5. Menumbuhkan sikap yakin, tenang, dan percaya diri dalam menjalani kehidupan beragama.


Kesimpulan

Ilmu Kalam sangat penting dalam pendidikan agama Islam karena membantu umat Islam memahami dan mempertahankan akidah dengan dasar yang kuat, baik dari wahyu maupun akal.

Kamis, 22 Januari 2026

MATERI PAI KELAS 12

  Nama Penyusun : Rahmattulloh, S.Pd.I, M.Pd.

Satuan Pendidikan : SMA Al-Azhar 3 Bandar Lampung

Kelas/Fase : XII (Dua Belas) F

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

1.     Capaian Pembelajaran


 Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan dapat:

  1. Menjelaskan pengertian Ilmu kalam.
  2. Mengidentifikasi ruang lingkup ilmu kalam.
  3. Menyebutkan penertian menurut tokoh ulama.
  4. Menunjukkan tujuan ilmu kalam

A. Pengertian Ilmu Kalam

Ilmu Kalam adalah cabang ilmu dalam Islam yang membahas akidah atau keimanan dengan menggunakan dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadis) serta dalil aqli (akal/logika).
Ilmu ini bertujuan untuk mempertahankan dan menjelaskan keyakinan Islam dari berbagai keraguan, kesesatan, dan pemikiran yang menyimpang.

Kata kalam berarti “pembicaraan” atau “diskusi”, karena ilmu ini banyak menggunakan dialog dan argumentasi dalam membahas masalah ketuhanan.


B. Sumber Ilmu Kalam

Sumber Ilmu Kalam terdiri dari beberapa hal berikut:

  1. Al-Qur’an
    Merupakan sumber utama yang berisi ajaran tentang keesaan Allah, sifat-sifat-Nya, para rasul, hari akhir, dan perkara gaib lainnya.

  2. Hadis Nabi Muhammad ﷺ
    Menjelaskan dan memperinci ajaran akidah yang terdapat dalam Al-Qur’an.

  3. Akal (Rasio)
    Digunakan untuk memahami dan memperkuat dalil naqli agar dapat diterima secara logis.

  4. Ijma’ Ulama
    Kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu kebenaran dalam masalah akidah.


C. Tujuan Ilmu Kalam

Tujuan mempelajari Ilmu Kalam antara lain:

  1. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT dan ajaran Islam.

  2. Membela akidah Islam dari serangan pemikiran yang menyesatkan.

  3. Menjelaskan ajaran tauhid secara rasional dan sistematis.

  4. Menumbuhkan keyakinan yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis.

  5. Membimbing umat Islam agar tidak mudah terpengaruh paham yang menyimpang.


D. Manfaat Ilmu Kalam

Manfaat mempelajari Ilmu Kalam antara lain:

  1. Menjadikan iman lebih kuat dan mantap.

  2. Membantu umat Islam memahami akidah secara benar dan logis.

  3. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam masalah keimanan.

  4. Menjadi benteng dari aliran sesat dan pemikiran yang keliru.

  5. Menumbuhkan sikap yakin, tenang, dan percaya diri dalam menjalani kehidupan beragama.


Kesimpulan

Ilmu Kalam sangat penting dalam pendidikan agama Islam karena membantu umat Islam memahami dan mempertahankan akidah dengan dasar yang kuat, baik dari wahyu maupun akal.

Rabu, 21 Januari 2026

MATERI PAI KELAS 12

  Nama Penyusun : Rahmattulloh, S.Pd.I, M.Pd.

Satuan Pendidikan : SMA Al-Azhar 3 Bandar Lampung

Kelas/Fase : XII (Dua Belas) F

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

1.     Capaian Pembelajaran


 Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan dapat:

  1. Menjelaskan pengertian Ilmu kalam.
  2. Mengidentifikasi ruang lingkup ilmu kalam.
  3. Menyebutkan penertian menurut tokoh ulama.
  4. Menunjukkan tujuan ilmu kalam

A. Pengertian Ilmu Kalam

Ilmu Kalam adalah cabang ilmu dalam Islam yang membahas akidah atau keimanan dengan menggunakan dalil naqli (Al-Qur’an dan Hadis) serta dalil aqli (akal/logika).
Ilmu ini bertujuan untuk mempertahankan dan menjelaskan keyakinan Islam dari berbagai keraguan, kesesatan, dan pemikiran yang menyimpang.

Kata kalam berarti “pembicaraan” atau “diskusi”, karena ilmu ini banyak menggunakan dialog dan argumentasi dalam membahas masalah ketuhanan.


B. Sumber Ilmu Kalam

Sumber Ilmu Kalam terdiri dari beberapa hal berikut:

  1. Al-Qur’an
    Merupakan sumber utama yang berisi ajaran tentang keesaan Allah, sifat-sifat-Nya, para rasul, hari akhir, dan perkara gaib lainnya.

  2. Hadis Nabi Muhammad ﷺ
    Menjelaskan dan memperinci ajaran akidah yang terdapat dalam Al-Qur’an.

  3. Akal (Rasio)
    Digunakan untuk memahami dan memperkuat dalil naqli agar dapat diterima secara logis.

  4. Ijma’ Ulama
    Kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu kebenaran dalam masalah akidah.


C. Tujuan Ilmu Kalam

Tujuan mempelajari Ilmu Kalam antara lain:

  1. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT dan ajaran Islam.

  2. Membela akidah Islam dari serangan pemikiran yang menyesatkan.

  3. Menjelaskan ajaran tauhid secara rasional dan sistematis.

  4. Menumbuhkan keyakinan yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis.

  5. Membimbing umat Islam agar tidak mudah terpengaruh paham yang menyimpang.


D. Manfaat Ilmu Kalam

Manfaat mempelajari Ilmu Kalam antara lain:

  1. Menjadikan iman lebih kuat dan mantap.

  2. Membantu umat Islam memahami akidah secara benar dan logis.

  3. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam masalah keimanan.

  4. Menjadi benteng dari aliran sesat dan pemikiran yang keliru.

  5. Menumbuhkan sikap yakin, tenang, dan percaya diri dalam menjalani kehidupan beragama.


Kesimpulan

Ilmu Kalam sangat penting dalam pendidikan agama Islam karena membantu umat Islam memahami dan mempertahankan akidah dengan dasar yang kuat, baik dari wahyu maupun akal.