Selasa, 08 September 2026

KELAS 12

  KERAS KEPALA DAN KERAS HATI

1. Identitas :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 7 September 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : A. Keras Kepala (Tanda-tanda dan Cara Menyembuhkan) B. Keras Hati (Tanda-tanda dan Cara Menyembuhkan)

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian keras kepala dan keras hati.

2.Peserta didik mampu menyebutkan dan menjelaskan dalil naqli yang berkaitan dengan keras kepala dan keras hati.

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi tanda-tanda sikap keras kepala dan keras hati.

4.Peserta didik mampu menjelaskan cara-cara menyembuhkan sikap keras kepala dan keras hati.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Baqarah (2) : 74

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya...”

QS. Ar-Ra'd (13) : 28

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Kaitan dengan materi :

QS. Al-Baqarah ayat 74 menggambarkan keadaan hati yang keras, bahkan lebih keras daripada batu, sebagai akibat dari kelalaian dan sikap menolak kebenaran. Adapun QS. Ar-Ra'd ayat 28 menjadi dalil bahwa mengingat Allah merupakan sarana utama untuk menenangkan dan melunakkan hati yang keras dan gelisah. Kedua ayat ini menjadi dasar utama dalam memahami bahaya sikap keras kepala dan keras hati, serta bagaimana cara menyembuhkannya.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Keras Kepala dan Keras Hati.

Berikut ini materinya :

A. Keras Kepala

Keras kepala (al-'inad) adalah sikap seseorang yang enggan menerima kebenaran, nasihat, atau pendapat orang lain, meskipun ia mengetahui bahwa hal tersebut benar. Sikap ini muncul karena adanya rasa sombong, merasa paling benar, dan enggan mengalah dalam berbagai keadaan.

1. Tanda-Tanda Keras Kepala

•Menolak nasihat dan kritik meskipun disampaikan dengan cara yang baik.

•Selalu merasa pendapatnya paling benar dan sulit menerima pendapat orang lain.

•Enggan meminta maaf atau mengakui kesalahan meskipun sudah jelas keliru.

•Sulit diajak berdiskusi karena selalu ingin menang sendiri.

•Mudah tersinggung apabila pendapatnya dibantah atau dikoreksi.

2. Cara Menyembuhkan Keras Kepala

•Membiasakan diri untuk introspeksi (muhasabah) dan menerima bahwa setiap manusia bisa salah.

•Berlatih mendengarkan pendapat orang lain dengan lapang dada sebelum menanggapi.

•Mendekatkan diri kepada Allah melalui doa agar diberikan kelembutan hati dan sikap rendah hati (tawadhu').

•Bergaul dengan orang-orang saleh yang dapat memberikan nasihat dan teladan yang baik.

•Membiasakan diri mengucapkan terima kasih dan menerima kritik sebagai bahan perbaikan diri.

B. Keras Hati

Keras hati (qaswatul qalb) adalah kondisi hati yang tidak lagi mudah tersentuh oleh nasihat, ayat-ayat Allah, atau peringatan, sehingga seseorang menjadi acuh terhadap kebenaran, malas beribadah, dan tidak takut berbuat dosa. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 74, hati yang keras bahkan digambarkan lebih keras daripada batu.

1. Tanda-Tanda Keras Hati

•Tidak tersentuh atau tergerak hatinya ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an atau nasihat agama.

•Malas dan enggan melaksanakan ibadah, meskipun mengetahui kewajibannya.

•Tidak merasa bersalah atau takut ketika melakukan perbuatan dosa.

•Kurang memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

•Sering lalai mengingat Allah dan lebih disibukkan dengan urusan duniawi semata.

2. Cara Menyembuhkan Keras Hati

•Membaca Al-Qur'an secara rutin disertai dengan tadabbur (merenungkan maknanya).

•Memperbanyak zikir dan mengingat Allah, sesuai QS. Ar-Ra'd ayat 28 yang menjelaskan bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

•Mengingat kematian dan akhirat agar hati kembali lunak dan tidak terlena dengan dunia.

•Memperbanyak istighfar dan bertaubat atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

•Bergaul dengan orang-orang saleh dan aktif mengikuti majelis ilmu untuk menjaga kelembutan hati.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan menjadi motivasi bagi kalian untuk menjauhi sikap keras kepala dan keras hati, serta senantiasa melembutkan hati melalui zikir dan kedekatan kepada Allah.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

1.Jelaskan pengertian keras kepala dan keras hati menurut pemahamanmu!

2.Sebutkan minimal tiga tanda-tanda sikap keras kepala!

3.Sebutkan minimal tiga tanda-tanda hati yang keras (qaswatul qalb)!

4.Jelaskan cara menyembuhkan sikap keras kepala berdasarkan uraian materi di atas!

5.Jelaskan cara menyembuhkan hati yang keras, disertai dalilnya!

 Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

Senin, 07 September 2026

kelas 12

 KERAS KEPALA DAN KERAS HATI

1. Identitas :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 7 September 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : A. Keras Kepala (Tanda-tanda dan Cara Menyembuhkan) B. Keras Hati (Tanda-tanda dan Cara Menyembuhkan)

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian keras kepala dan keras hati.

2.Peserta didik mampu menyebutkan dan menjelaskan dalil naqli yang berkaitan dengan keras kepala dan keras hati.

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi tanda-tanda sikap keras kepala dan keras hati.

4.Peserta didik mampu menjelaskan cara-cara menyembuhkan sikap keras kepala dan keras hati.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Baqarah (2) : 74

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya...”

QS. Ar-Ra'd (13) : 28

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Kaitan dengan materi :

QS. Al-Baqarah ayat 74 menggambarkan keadaan hati yang keras, bahkan lebih keras daripada batu, sebagai akibat dari kelalaian dan sikap menolak kebenaran. Adapun QS. Ar-Ra'd ayat 28 menjadi dalil bahwa mengingat Allah merupakan sarana utama untuk menenangkan dan melunakkan hati yang keras dan gelisah. Kedua ayat ini menjadi dasar utama dalam memahami bahaya sikap keras kepala dan keras hati, serta bagaimana cara menyembuhkannya.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Keras Kepala dan Keras Hati.

Berikut ini materinya :

A. Keras Kepala

Keras kepala (al-'inad) adalah sikap seseorang yang enggan menerima kebenaran, nasihat, atau pendapat orang lain, meskipun ia mengetahui bahwa hal tersebut benar. Sikap ini muncul karena adanya rasa sombong, merasa paling benar, dan enggan mengalah dalam berbagai keadaan.

1. Tanda-Tanda Keras Kepala

•Menolak nasihat dan kritik meskipun disampaikan dengan cara yang baik.

•Selalu merasa pendapatnya paling benar dan sulit menerima pendapat orang lain.

•Enggan meminta maaf atau mengakui kesalahan meskipun sudah jelas keliru.

•Sulit diajak berdiskusi karena selalu ingin menang sendiri.

•Mudah tersinggung apabila pendapatnya dibantah atau dikoreksi.

2. Cara Menyembuhkan Keras Kepala

•Membiasakan diri untuk introspeksi (muhasabah) dan menerima bahwa setiap manusia bisa salah.

•Berlatih mendengarkan pendapat orang lain dengan lapang dada sebelum menanggapi.

•Mendekatkan diri kepada Allah melalui doa agar diberikan kelembutan hati dan sikap rendah hati (tawadhu').

•Bergaul dengan orang-orang saleh yang dapat memberikan nasihat dan teladan yang baik.

•Membiasakan diri mengucapkan terima kasih dan menerima kritik sebagai bahan perbaikan diri.

B. Keras Hati

Keras hati (qaswatul qalb) adalah kondisi hati yang tidak lagi mudah tersentuh oleh nasihat, ayat-ayat Allah, atau peringatan, sehingga seseorang menjadi acuh terhadap kebenaran, malas beribadah, dan tidak takut berbuat dosa. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 74, hati yang keras bahkan digambarkan lebih keras daripada batu.

1. Tanda-Tanda Keras Hati

•Tidak tersentuh atau tergerak hatinya ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an atau nasihat agama.

•Malas dan enggan melaksanakan ibadah, meskipun mengetahui kewajibannya.

•Tidak merasa bersalah atau takut ketika melakukan perbuatan dosa.

•Kurang memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

•Sering lalai mengingat Allah dan lebih disibukkan dengan urusan duniawi semata.

2. Cara Menyembuhkan Keras Hati

•Membaca Al-Qur'an secara rutin disertai dengan tadabbur (merenungkan maknanya).

•Memperbanyak zikir dan mengingat Allah, sesuai QS. Ar-Ra'd ayat 28 yang menjelaskan bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

•Mengingat kematian dan akhirat agar hati kembali lunak dan tidak terlena dengan dunia.

•Memperbanyak istighfar dan bertaubat atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

•Bergaul dengan orang-orang saleh dan aktif mengikuti majelis ilmu untuk menjaga kelembutan hati.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan menjadi motivasi bagi kalian untuk menjauhi sikap keras kepala dan keras hati, serta senantiasa melembutkan hati melalui zikir dan kedekatan kepada Allah.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

1.Jelaskan pengertian keras kepala dan keras hati menurut pemahamanmu!

2.Sebutkan minimal tiga tanda-tanda sikap keras kepala!

3.Sebutkan minimal tiga tanda-tanda hati yang keras (qaswatul qalb)!

4.Jelaskan cara menyembuhkan sikap keras kepala berdasarkan uraian materi di atas!

5.Jelaskan cara menyembuhkan hati yang keras, disertai dalilnya!

 Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

KELAS 10

 MATERI AJAR

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI

Menghindari Perilaku Hidup Berfoya-foya

Satuan Pendidikan : SMA / SMK

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Kelas / Semester : X (SEPULUH) / Ganjil

Materi Pokok : A. Menghindari Hidup Berfoya-foya

Hari / Tanggal : Senin, 7 September 2026

Alokasi Waktu : 2 x 45 menit (1 pertemuan)

Guru Mata Pelajaran : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr.

A. Kompetensi Inti (KI)

KI-1: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

KI-2: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan proaktif melalui keteladanan, pemberian nasihat, dan penguatan, sebagai wujud kemampuan menyelesaikan masalah dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

KI-3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora.

KI-4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri.

B. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti proses pembelajaran melalui pengamatan, diskusi, tanya jawab, dan penugasan, peserta didik mampu:

1.Menjelaskan pengertian hidup berfoya-foya (israf/tabzir) menurut ajaran Islam dengan tepat.

2.Mengidentifikasi contoh-contoh perilaku hidup berfoya-foya dalam kehidupan sehari-hari.

3.Menganalisis ciri-ciri perilaku hidup berfoya-foya.

4.Menguraikan dampak negatif perilaku hidup berfoya-foya bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

5.Menunjukkan dalil naqli (Al-Qur'an dan Hadis) yang berkaitan dengan larangan hidup berfoya-foya.

6.Menunjukkan sikap sederhana dan menghindari perilaku berfoya-foya dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud pengamalan ajaran Islam.

C. Materi Ajar

1. Pengertian Hidup Berfoya-foya

Hidup berfoya-foya (dalam istilah fikih disebut israf dan tabzir) adalah gaya hidup yang menghambur-hamburkan harta, waktu, dan tenaga untuk hal-hal yang berlebihan, tidak bermanfaat, bahkan cenderung mubazir, semata-mata untuk memenuhi hawa nafsu dan kesenangan duniawi tanpa memperhitungkan kebutuhan yang sesungguhnya. Israf berarti melampaui batas kewajaran dalam membelanjakan harta, sedangkan tabzir berarti menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tidak bermanfaat atau bahkan haram.

2. Contoh Perilaku Hidup Berfoya-foya

•Menghabiskan uang untuk membeli barang-barang mewah hanya demi gengsi, bukan karena kebutuhan.

•Sering makan dan minum secara berlebihan hingga terbuang sia-sia (mubazir).

•Berpesta secara berlebihan dengan menghabiskan biaya besar tanpa tujuan yang jelas.

•Gemar berbelanja pakaian, gawai, atau kendaraan baru hanya untuk mengikuti tren tanpa mempertimbangkan kebutuhan.

•Menghambur-hamburkan waktu untuk hiburan yang berlebihan hingga melalaikan ibadah dan kewajiban belajar/bekerja.

•Berutang demi memenuhi gaya hidup mewah yang sebenarnya di luar kemampuan.

3. Ciri-ciri Hidup Berfoya-foya

•Mengutamakan kesenangan sesaat tanpa memikirkan akibat jangka panjang.

•Konsumtif, yaitu gemar membeli sesuatu bukan karena butuh, melainkan karena keinginan semata.

•Tidak memiliki perencanaan keuangan atau pengelolaan harta yang baik.

•Cenderung riya' dan ingin dipandang lebih (gengsi/pamer) di hadapan orang lain.

•Boros dalam membelanjakan harta untuk hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat.

•Melalaikan kewajiban seperti sedekah, zakat, dan menabung untuk masa depan.

4. Dampak Negatif Perilaku Hidup Berfoya-foya

a. Dampak bagi diri sendiri:

•Menimbulkan sifat sombong, riya', dan cinta dunia yang berlebihan.

•Menyebabkan penyesalan di kemudian hari karena harta habis untuk hal yang tidak bermanfaat.

•Menjauhkan diri dari sifat qana'ah (merasa cukup) dan mensyukuri nikmat Allah Swt.

b. Dampak bagi keluarga:

•Menimbulkan kesulitan ekonomi keluarga akibat pengelolaan harta yang tidak bijak.

•Memicu konflik rumah tangga karena masalah keuangan.

c. Dampak bagi masyarakat dan lingkungan:

•Menumbuhkan kesenjangan sosial karena kesenjangan gaya hidup antarindividu.

•Mendorong budaya konsumerisme yang merugikan tatanan sosial.

•Termasuk perbuatan yang dibenci Allah karena dianggap sebagai perbuatan setan (QS. Al-Isra'/17: 27).

D. Dalil Al-Qur'an tentang Larangan Hidup Berfoya-foya

1. Surah Al-A'raf (7): 31

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."

(QS. Al-A'raf/7: 31)

2. Surah Al-Isra' (17): 26-27

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (٢٦) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (٢٧)

Artinya: "Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya."

(QS. Al-Isra'/17: 26-27)

3. Surah Al-Furqan (25): 67

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Artinya: "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar."

(QS. Al-Furqan/25: 67)

4. Hadis tentang larangan berlebih-lebihan

Rasulullah Saw. bersabda yang artinya: "Makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah tanpa disertai kesombongan dan sikap berlebih-lebihan." (HR. An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Hadis ini menegaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk hidup sederhana, memenuhi kebutuhan secara wajar, serta menjauhi sifat israf (berlebih-lebihan) dan sombong dalam kehidupan sehari-hari.

E. Model, Pendekatan, dan Metode Pembelajaran

•Pendekatan: Saintifik (Scientific Approach)

•Model: Discovery Learning

•Metode: Ceramah interaktif, diskusi kelompok, tanya jawab, dan penugasan

F. Kegiatan Pembelajaran

1. Kegiatan Pendahuluan (10 menit)

•Guru membuka pelajaran dengan salam dan berdoa bersama.

•Guru memeriksa kehadiran dan kesiapan belajar peserta didik.

•Guru melakukan apersepsi dengan mengaitkan materi pada kehidupan sehari-hari peserta didik, misalnya bertanya tentang kebiasaan berbelanja atau jajan berlebihan.

•Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan garis besar kegiatan yang akan dilaksanakan.

2. Kegiatan Inti (70 menit)

Aktivitas 1 — Mengamati dan Berdiskusi Kelompok (35 menit)

•Peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil (4-5 orang).

•Setiap kelompok diberikan sebuah studi kasus/ilustrasi gambar tentang perilaku hidup berfoya-foya (misalnya kisah seseorang yang boros dalam berbelanja atau berpesta).

•Peserta didik mendiskusikan: pengertian, ciri-ciri, dan dampak negatif dari perilaku dalam studi kasus tersebut, serta mengaitkannya dengan dalil Al-Qur'an yang telah dipelajari.

•Guru berkeliling membimbing dan memfasilitasi jalannya diskusi tiap kelompok.

Aktivitas 2 — Presentasi dan Tanya Jawab (25 menit)

•Perwakilan tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas.

•Kelompok lain diberi kesempatan untuk menanggapi, bertanya, atau menambahkan pendapat.

•Guru memberikan penguatan (konfirmasi) atas hasil diskusi dan meluruskan konsep yang masih keliru.

Aktivitas 3 — Menghafal dan Menganalisis Dalil (10 menit)

•Peserta didik secara bergantian membaca dan mengartikan QS. Al-Isra'/17: 26-27 dan QS. Al-A'raf/7: 31 dengan bimbingan guru.

•Peserta didik menuliskan satu kesimpulan pribadi tentang hikmah menghindari hidup berfoya-foya berdasarkan dalil yang telah dibaca.

3. Kegiatan Penutup (10 menit)

•Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran hari ini.

•Guru melaksanakan pemeriksaan pemahaman singkat (post-test lisan/tulisan).

•Guru menyampaikan rencana tindak lanjut dan tugas mandiri.

•Guru menutup pelajaran dengan pesan moral, doa, dan salam.

G. Pemeriksaan Pemahaman (Formatif)

Peserta didik menjawab pertanyaan berikut secara lisan atau tertulis singkat sebagai bentuk pengecekan pemahaman:

7.Jelaskan dengan bahasamu sendiri apa yang dimaksud dengan hidup berfoya-foya (israf/tabzir)!

8.Sebutkan minimal dua contoh perilaku hidup berfoya-foya yang sering terjadi di lingkunganmu!

9.Sebutkan dua ciri utama yang menunjukkan seseorang memiliki gaya hidup berfoya-foya!

10.Jelaskan satu dampak negatif hidup berfoya-foya bagi diri sendiri dan satu dampak bagi masyarakat!



Bandar Lampung, 7 September 2026

Guru Mata Pelajaran PAI




Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr.


Kamis, 03 September 2026

kelas 12,pertemuan ke 7

                                 KERAS KEPALA DAN KERAS HATI 

1. Identitas            :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Kamis/ 3 Setember 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : A. Keras Kepala (Tanda-tanda dan Cara Menyembuhkan) B. Keras                                            Hati (Tanda-tanda dan Cara Menyembuhkan dengan Al-Qur'an)

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian keras kepala dan keras hati.

2.Peserta didik mampu menyebutkan dan menjelaskan dalil naqli yang berkaitan dengan keras kepala dan keras hati.

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi tanda-tanda sikap keras kepala dan keras hati.

4.Peserta didik mampu menjelaskan cara-cara menyembuhkan sikap keras kepala dan keras hati, khususnya melalui Al-Qur'an.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Baqarah (2) : 74

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya...”

QS. Ar-Ra'd (13) : 28

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

QS. Al-Isra' (17) : 82

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman...”

Kaitan dengan materi :

QS. Al-Baqarah ayat 74 menggambarkan keadaan hati yang keras, bahkan lebih keras daripada batu, sebagai akibat dari kelalaian dan sikap menolak kebenaran. Adapun QS. Ar-Ra'd ayat 28 dan QS. Al-Isra' ayat 82 menjadi dalil bahwa mengingat Allah dan Al-Qur'an merupakan obat penenang serta penyembuh bagi hati yang keras dan gelisah. Ketiga ayat ini menjadi dasar utama dalam memahami bahaya sikap keras kepala dan keras hati, serta bagaimana Al-Qur'an berperan sebagai sarana penyembuhannya.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Keras Kepala dan Keras Hati serta Dalilnya.

Berikut ini materinya :

A. Keras Kepala

Keras kepala (al-'inad) adalah sikap seseorang yang enggan menerima kebenaran, nasihat, atau pendapat orang lain, meskipun ia mengetahui bahwa hal tersebut benar. Sikap ini muncul karena adanya rasa sombong, merasa paling benar, dan enggan mengalah dalam berbagai keadaan.

1. Tanda-Tanda Keras Kepala

•Menolak nasihat dan kritik meskipun disampaikan dengan cara yang baik.

•Selalu merasa pendapatnya paling benar dan sulit menerima pendapat orang lain.

•Enggan meminta maaf atau mengakui kesalahan meskipun sudah jelas keliru.

•Sulit diajak berdiskusi karena selalu ingin menang sendiri.

•Mudah tersinggung apabila pendapatnya dibantah atau dikoreksi.

2. Cara Menyembuhkan Keras Kepala

•Membiasakan diri untuk introspeksi (muhasabah) dan menerima bahwa setiap manusia bisa salah.

•Berlatih mendengarkan pendapat orang lain dengan lapang dada sebelum menanggapi.

•Mendekatkan diri kepada Allah melalui doa agar diberikan kelembutan hati dan sikap rendah hati (tawadhu').

•Bergaul dengan orang-orang saleh yang dapat memberikan nasihat dan teladan yang baik.

•Membiasakan diri mengucapkan terima kasih dan menerima kritik sebagai bahan perbaikan diri.

B. Keras Hati

Keras hati (qaswatul qalb) adalah kondisi hati yang tidak lagi mudah tersentuh oleh nasihat, ayat-ayat Allah, atau peringatan, sehingga seseorang menjadi acuh terhadap kebenaran, malas beribadah, dan tidak takut berbuat dosa. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 74, hati yang keras bahkan digambarkan lebih keras daripada batu.

1. Tanda-Tanda Keras Hati

•Tidak tersentuh atau tergerak hatinya ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an atau nasihat agama.

•Malas dan enggan melaksanakan ibadah, meskipun mengetahui kewajibannya.

•Tidak merasa bersalah atau takut ketika melakukan perbuatan dosa.

•Kurang memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

•Sering lalai mengingat Allah dan lebih disibukkan dengan urusan duniawi semata.

2. Cara Menyembuhkan Keras Hati dengan Al-Qur'an

•Membaca Al-Qur'an secara rutin disertai dengan tadabbur (merenungkan maknanya), sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Isra' ayat 82 bahwa Al-Qur'an adalah penawar bagi hati.

•Memperbanyak zikir dan mengingat Allah, sesuai QS. Ar-Ra'd ayat 28 yang menjelaskan bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

•Mengingat kematian dan akhirat agar hati kembali lunak dan tidak terlena dengan dunia.

•Memperbanyak istighfar dan bertaubat atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

•Bergaul dengan orang-orang saleh dan aktif mengikuti majelis ilmu untuk menjaga kelembutan hati.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan menjadi motivasi bagi kalian untuk menjauhi sikap keras kepala dan keras hati, serta senantiasa melembutkan hati melalui Al-Qur'an dan zikir kepada Allah.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

5.Jelaskan pengertian keras kepala dan keras hati menurut pemahamanmu!

6.Sebutkan minimal tiga tanda-tanda sikap keras kepala!

7.Sebutkan minimal tiga tanda-tanda hati yang keras (qaswatul qalb)!

8.Jelaskan cara menyembuhkan sikap keras kepala berdasarkan uraian materi di atas!

9.Jelaskan bagaimana Al-Qur'an dapat menjadi obat bagi hati yang keras, disertai dalilnya!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

Rabu, 02 September 2026

kelas 12 pertemuan minggu ke 7

                                 KERAS KEPALA DAN KERAS HATI 

1. Identitas            :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Rabu/ 2 September 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : A. Keras Kepala (Tanda-tanda dan Cara Menyembuhkan) B. Keras                                            Hati (Tanda-tanda dan Cara Menyembuhkan dengan Al-Qur'an)

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian keras kepala dan keras hati.

2.Peserta didik mampu menyebutkan dan menjelaskan dalil naqli yang berkaitan dengan keras kepala dan keras hati.

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi tanda-tanda sikap keras kepala dan keras hati.

4.Peserta didik mampu menjelaskan cara-cara menyembuhkan sikap keras kepala dan keras hati, khususnya melalui Al-Qur'an.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Baqarah (2) : 74

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya...”

QS. Ar-Ra'd (13) : 28

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

QS. Al-Isra' (17) : 82

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman...”

Kaitan dengan materi :

QS. Al-Baqarah ayat 74 menggambarkan keadaan hati yang keras, bahkan lebih keras daripada batu, sebagai akibat dari kelalaian dan sikap menolak kebenaran. Adapun QS. Ar-Ra'd ayat 28 dan QS. Al-Isra' ayat 82 menjadi dalil bahwa mengingat Allah dan Al-Qur'an merupakan obat penenang serta penyembuh bagi hati yang keras dan gelisah. Ketiga ayat ini menjadi dasar utama dalam memahami bahaya sikap keras kepala dan keras hati, serta bagaimana Al-Qur'an berperan sebagai sarana penyembuhannya.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Keras Kepala dan Keras Hati serta Dalilnya.

Berikut ini materinya :

A. Keras Kepala

Keras kepala (al-'inad) adalah sikap seseorang yang enggan menerima kebenaran, nasihat, atau pendapat orang lain, meskipun ia mengetahui bahwa hal tersebut benar. Sikap ini muncul karena adanya rasa sombong, merasa paling benar, dan enggan mengalah dalam berbagai keadaan.

1. Tanda-Tanda Keras Kepala

•Menolak nasihat dan kritik meskipun disampaikan dengan cara yang baik.

•Selalu merasa pendapatnya paling benar dan sulit menerima pendapat orang lain.

•Enggan meminta maaf atau mengakui kesalahan meskipun sudah jelas keliru.

•Sulit diajak berdiskusi karena selalu ingin menang sendiri.

•Mudah tersinggung apabila pendapatnya dibantah atau dikoreksi.

2. Cara Menyembuhkan Keras Kepala

•Membiasakan diri untuk introspeksi (muhasabah) dan menerima bahwa setiap manusia bisa salah.

•Berlatih mendengarkan pendapat orang lain dengan lapang dada sebelum menanggapi.

•Mendekatkan diri kepada Allah melalui doa agar diberikan kelembutan hati dan sikap rendah hati (tawadhu').

•Bergaul dengan orang-orang saleh yang dapat memberikan nasihat dan teladan yang baik.

•Membiasakan diri mengucapkan terima kasih dan menerima kritik sebagai bahan perbaikan diri.

B. Keras Hati

Keras hati (qaswatul qalb) adalah kondisi hati yang tidak lagi mudah tersentuh oleh nasihat, ayat-ayat Allah, atau peringatan, sehingga seseorang menjadi acuh terhadap kebenaran, malas beribadah, dan tidak takut berbuat dosa. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 74, hati yang keras bahkan digambarkan lebih keras daripada batu.

1. Tanda-Tanda Keras Hati

•Tidak tersentuh atau tergerak hatinya ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an atau nasihat agama.

•Malas dan enggan melaksanakan ibadah, meskipun mengetahui kewajibannya.

•Tidak merasa bersalah atau takut ketika melakukan perbuatan dosa.

•Kurang memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

•Sering lalai mengingat Allah dan lebih disibukkan dengan urusan duniawi semata.

2. Cara Menyembuhkan Keras Hati dengan Al-Qur'an

•Membaca Al-Qur'an secara rutin disertai dengan tadabbur (merenungkan maknanya), sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Isra' ayat 82 bahwa Al-Qur'an adalah penawar bagi hati.

•Memperbanyak zikir dan mengingat Allah, sesuai QS. Ar-Ra'd ayat 28 yang menjelaskan bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

•Mengingat kematian dan akhirat agar hati kembali lunak dan tidak terlena dengan dunia.

•Memperbanyak istighfar dan bertaubat atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

•Bergaul dengan orang-orang saleh dan aktif mengikuti majelis ilmu untuk menjaga kelembutan hati.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan menjadi motivasi bagi kalian untuk menjauhi sikap keras kepala dan keras hati, serta senantiasa melembutkan hati melalui Al-Qur'an dan zikir kepada Allah.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

5.Jelaskan pengertian keras kepala dan keras hati menurut pemahamanmu!

6.Sebutkan minimal tiga tanda-tanda sikap keras kepala!

7.Sebutkan minimal tiga tanda-tanda hati yang keras (qaswatul qalb)!

8.Jelaskan cara menyembuhkan sikap keras kepala berdasarkan uraian materi di atas!

9.Jelaskan bagaimana Al-Qur'an dapat menjadi obat bagi hati yang keras, disertai dalilnya!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

Selasa, 01 September 2026

KELAS 12 PERTEMUAN MINGGU KE 7

                                 KERAS KEPALA DAN KERAS HATI 

1. Identitas            :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Selasa/ 1 September 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : A. Keras Kepala (Tanda-tanda dan Cara Menyembuhkan) B. Keras                                            Hati (Tanda-tanda dan Cara Menyembuhkan dengan Al-Qur'an)

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian keras kepala dan keras hati.

2.Peserta didik mampu menyebutkan dan menjelaskan dalil naqli yang berkaitan dengan keras kepala dan keras hati.

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi tanda-tanda sikap keras kepala dan keras hati.

4.Peserta didik mampu menjelaskan cara-cara menyembuhkan sikap keras kepala dan keras hati, khususnya melalui Al-Qur'an.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Baqarah (2) : 74

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya...”

QS. Ar-Ra'd (13) : 28

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

QS. Al-Isra' (17) : 82

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman...”

Kaitan dengan materi :

QS. Al-Baqarah ayat 74 menggambarkan keadaan hati yang keras, bahkan lebih keras daripada batu, sebagai akibat dari kelalaian dan sikap menolak kebenaran. Adapun QS. Ar-Ra'd ayat 28 dan QS. Al-Isra' ayat 82 menjadi dalil bahwa mengingat Allah dan Al-Qur'an merupakan obat penenang serta penyembuh bagi hati yang keras dan gelisah. Ketiga ayat ini menjadi dasar utama dalam memahami bahaya sikap keras kepala dan keras hati, serta bagaimana Al-Qur'an berperan sebagai sarana penyembuhannya.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Keras Kepala dan Keras Hati serta Dalilnya.

Berikut ini materinya :

A. Keras Kepala

Keras kepala (al-'inad) adalah sikap seseorang yang enggan menerima kebenaran, nasihat, atau pendapat orang lain, meskipun ia mengetahui bahwa hal tersebut benar. Sikap ini muncul karena adanya rasa sombong, merasa paling benar, dan enggan mengalah dalam berbagai keadaan.

1. Tanda-Tanda Keras Kepala

•Menolak nasihat dan kritik meskipun disampaikan dengan cara yang baik.

•Selalu merasa pendapatnya paling benar dan sulit menerima pendapat orang lain.

•Enggan meminta maaf atau mengakui kesalahan meskipun sudah jelas keliru.

•Sulit diajak berdiskusi karena selalu ingin menang sendiri.

•Mudah tersinggung apabila pendapatnya dibantah atau dikoreksi.

2. Cara Menyembuhkan Keras Kepala

•Membiasakan diri untuk introspeksi (muhasabah) dan menerima bahwa setiap manusia bisa salah.

•Berlatih mendengarkan pendapat orang lain dengan lapang dada sebelum menanggapi.

•Mendekatkan diri kepada Allah melalui doa agar diberikan kelembutan hati dan sikap rendah hati (tawadhu').

•Bergaul dengan orang-orang saleh yang dapat memberikan nasihat dan teladan yang baik.

•Membiasakan diri mengucapkan terima kasih dan menerima kritik sebagai bahan perbaikan diri.

B. Keras Hati

Keras hati (qaswatul qalb) adalah kondisi hati yang tidak lagi mudah tersentuh oleh nasihat, ayat-ayat Allah, atau peringatan, sehingga seseorang menjadi acuh terhadap kebenaran, malas beribadah, dan tidak takut berbuat dosa. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 74, hati yang keras bahkan digambarkan lebih keras daripada batu.

1. Tanda-Tanda Keras Hati

•Tidak tersentuh atau tergerak hatinya ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an atau nasihat agama.

•Malas dan enggan melaksanakan ibadah, meskipun mengetahui kewajibannya.

•Tidak merasa bersalah atau takut ketika melakukan perbuatan dosa.

•Kurang memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

•Sering lalai mengingat Allah dan lebih disibukkan dengan urusan duniawi semata.

2. Cara Menyembuhkan Keras Hati dengan Al-Qur'an

•Membaca Al-Qur'an secara rutin disertai dengan tadabbur (merenungkan maknanya), sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Isra' ayat 82 bahwa Al-Qur'an adalah penawar bagi hati.

•Memperbanyak zikir dan mengingat Allah, sesuai QS. Ar-Ra'd ayat 28 yang menjelaskan bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

•Mengingat kematian dan akhirat agar hati kembali lunak dan tidak terlena dengan dunia.

•Memperbanyak istighfar dan bertaubat atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

•Bergaul dengan orang-orang saleh dan aktif mengikuti majelis ilmu untuk menjaga kelembutan hati.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan menjadi motivasi bagi kalian untuk menjauhi sikap keras kepala dan keras hati, serta senantiasa melembutkan hati melalui Al-Qur'an dan zikir kepada Allah.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

5.Jelaskan pengertian keras kepala dan keras hati menurut pemahamanmu!

6.Sebutkan minimal tiga tanda-tanda sikap keras kepala!

7.Sebutkan minimal tiga tanda-tanda hati yang keras (qaswatul qalb)!

8.Jelaskan cara menyembuhkan sikap keras kepala berdasarkan uraian materi di atas!

9.Jelaskan bagaimana Al-Qur'an dapat menjadi obat bagi hati yang keras, disertai dalilnya!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

Senin, 31 Agustus 2026

KELAS 12,PERTEMUAN MINGGU KE 7

                                KERAS KEPALA DAN KERAS HATI 

1. Identitas            :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 31 Agustus 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : A. Keras Kepala (Tanda-tanda dan Cara Menyembuhkan) B. Keras                                            Hati (Tanda-tanda dan Cara Menyembuhkan dengan Al-Qur'an)

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian keras kepala dan keras hati.

2.Peserta didik mampu menyebutkan dan menjelaskan dalil naqli yang berkaitan dengan keras kepala dan keras hati.

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi tanda-tanda sikap keras kepala dan keras hati.

4.Peserta didik mampu menjelaskan cara-cara menyembuhkan sikap keras kepala dan keras hati, khususnya melalui Al-Qur'an.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Baqarah (2) : 74

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya...”

QS. Ar-Ra'd (13) : 28

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

QS. Al-Isra' (17) : 82

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman...”

Kaitan dengan materi :

QS. Al-Baqarah ayat 74 menggambarkan keadaan hati yang keras, bahkan lebih keras daripada batu, sebagai akibat dari kelalaian dan sikap menolak kebenaran. Adapun QS. Ar-Ra'd ayat 28 dan QS. Al-Isra' ayat 82 menjadi dalil bahwa mengingat Allah dan Al-Qur'an merupakan obat penenang serta penyembuh bagi hati yang keras dan gelisah. Ketiga ayat ini menjadi dasar utama dalam memahami bahaya sikap keras kepala dan keras hati, serta bagaimana Al-Qur'an berperan sebagai sarana penyembuhannya.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Keras Kepala dan Keras Hati serta Dalilnya.

Berikut ini materinya :

A. Keras Kepala

Keras kepala (al-'inad) adalah sikap seseorang yang enggan menerima kebenaran, nasihat, atau pendapat orang lain, meskipun ia mengetahui bahwa hal tersebut benar. Sikap ini muncul karena adanya rasa sombong, merasa paling benar, dan enggan mengalah dalam berbagai keadaan.

1. Tanda-Tanda Keras Kepala

•Menolak nasihat dan kritik meskipun disampaikan dengan cara yang baik.

•Selalu merasa pendapatnya paling benar dan sulit menerima pendapat orang lain.

•Enggan meminta maaf atau mengakui kesalahan meskipun sudah jelas keliru.

•Sulit diajak berdiskusi karena selalu ingin menang sendiri.

•Mudah tersinggung apabila pendapatnya dibantah atau dikoreksi.

2. Cara Menyembuhkan Keras Kepala

•Membiasakan diri untuk introspeksi (muhasabah) dan menerima bahwa setiap manusia bisa salah.

•Berlatih mendengarkan pendapat orang lain dengan lapang dada sebelum menanggapi.

•Mendekatkan diri kepada Allah melalui doa agar diberikan kelembutan hati dan sikap rendah hati (tawadhu').

•Bergaul dengan orang-orang saleh yang dapat memberikan nasihat dan teladan yang baik.

•Membiasakan diri mengucapkan terima kasih dan menerima kritik sebagai bahan perbaikan diri.

B. Keras Hati

Keras hati (qaswatul qalb) adalah kondisi hati yang tidak lagi mudah tersentuh oleh nasihat, ayat-ayat Allah, atau peringatan, sehingga seseorang menjadi acuh terhadap kebenaran, malas beribadah, dan tidak takut berbuat dosa. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 74, hati yang keras bahkan digambarkan lebih keras daripada batu.

1. Tanda-Tanda Keras Hati

•Tidak tersentuh atau tergerak hatinya ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an atau nasihat agama.

•Malas dan enggan melaksanakan ibadah, meskipun mengetahui kewajibannya.

•Tidak merasa bersalah atau takut ketika melakukan perbuatan dosa.

•Kurang memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

•Sering lalai mengingat Allah dan lebih disibukkan dengan urusan duniawi semata.

2. Cara Menyembuhkan Keras Hati dengan Al-Qur'an

•Membaca Al-Qur'an secara rutin disertai dengan tadabbur (merenungkan maknanya), sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Isra' ayat 82 bahwa Al-Qur'an adalah penawar bagi hati.

•Memperbanyak zikir dan mengingat Allah, sesuai QS. Ar-Ra'd ayat 28 yang menjelaskan bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

•Mengingat kematian dan akhirat agar hati kembali lunak dan tidak terlena dengan dunia.

•Memperbanyak istighfar dan bertaubat atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

•Bergaul dengan orang-orang saleh dan aktif mengikuti majelis ilmu untuk menjaga kelembutan hati.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan menjadi motivasi bagi kalian untuk menjauhi sikap keras kepala dan keras hati, serta senantiasa melembutkan hati melalui Al-Qur'an dan zikir kepada Allah.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

5.Jelaskan pengertian keras kepala dan keras hati menurut pemahamanmu!

6.Sebutkan minimal tiga tanda-tanda sikap keras kepala!

7.Sebutkan minimal tiga tanda-tanda hati yang keras (qaswatul qalb)!

8.Jelaskan cara menyembuhkan sikap keras kepala berdasarkan uraian materi di atas!

9.Jelaskan bagaimana Al-Qur'an dapat menjadi obat bagi hati yang keras, disertai dalilnya!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

Rabu, 12 Agustus 2026

KELAS 12,PERTEMUAN KE 5

                MERAWAT ISLAM: DEFINISI, DALIL, SERTA RUKUN ISLAM

1. Identitas :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 10 Agustus 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : Merawat Islam: Definisi, Dalil, serta Rukun Islam

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian merawat Islam.

2.Peserta didik mampu menyebutkan dan menjelaskan dalil naqli yang berkaitan dengan pentingnya merawat Islam.

3.Peserta didik mampu menyebutkan dan menjelaskan rukun Islam sebagai fondasi dalam merawat keislaman.

4.Peserta didik mampu menerapkan sikap dan perilaku dalam merawat serta menjaga keutuhan ajaran Islam melalui pengamalan rukun Islam di kehidupan sehari-hari.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Ali 'Imran (3) : 102

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri).”

Hadis Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan materi :

QS. Ali 'Imran ayat 102 memerintahkan setiap mukmin untuk bertakwa dengan sungguh-sungguh dan menjaga keislamannya hingga akhir hayat, yang menunjukkan bahwa keislaman perlu dirawat dan dijaga secara terus-menerus. Adapun hadis di atas menjelaskan lima rukun Islam sebagai fondasi utama yang harus ditegakkan dan dijaga oleh setiap muslim. Dengan menegakkan rukun Islam secara konsisten, seorang muslim sesungguhnya sedang merawat dan menjaga keislamannya agar tetap kokoh.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Merawat Islam: Definisi, Dalil, serta Rukun Islam.

Berikut ini materinya :

A. Pengertian Merawat Islam

Merawat Islam adalah upaya sadar dan berkesinambungan yang dilakukan oleh setiap muslim untuk menjaga, memelihara, serta melestarikan ajaran Islam, baik dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, maupun syariat, agar tetap murni dan terjaga dari penyimpangan, kelalaian, maupun pengaruh negatif yang dapat merusaknya. Salah satu cara utama merawat Islam adalah dengan menegakkan rukun Islam secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

B. Dalil tentang Pentingnya Merawat Islam

Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ali 'Imran ayat 102, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa dan menjaga keislamannya hingga akhir hayat. Hal ini menegaskan bahwa status muslim harus terus dijaga dan dirawat melalui ketaatan yang konsisten, salah satunya dengan menegakkan rukun Islam sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

C. Rukun Islam

Rukun Islam adalah lima perkara pokok yang menjadi fondasi dan tiang bangunan keislaman seseorang. Kelima rukun tersebut adalah:

1. Mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang       berhak      disembah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

2.  Mendirikan salat lima waktu sebagai bentuk komunikasi dan ibadah utama seorang muslim kepada Allah.

3.  Menunaikan zakat bagi yang telah mencukupi syarat, sebagai bentuk kepedulian sosial dan penyucian harta.

4.  Berpuasa pada bulan Ramadan sebagai sarana melatih ketakwaan, kesabaran, dan pengendalian diri.

5.Menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi yang mampu, sebagai puncak penghambaan diri kepada Allah.

D. Kaitan Rukun Islam dengan Upaya Merawat Islam

•Syahadat menjadi fondasi akidah yang harus dijaga kemurniannya sepanjang hayat.

•Salat menjadi sarana rutin untuk senantiasa mengingat Allah dan menjaga kedekatan spiritual.

•Zakat menjaga keseimbangan sosial dan mempererat kepedulian antar sesama muslim.

•Puasa melatih pengendalian diri sehingga seorang muslim lebih mudah menjaga diri dari perbuatan yang merusak keislamannya.

•Haji menguatkan ukhuwah islamiyah dan menumbuhkan semangat untuk terus memperbaiki diri setelah kembali ke tanah air.

E. Cara-Cara Merawat Islam dalam Kehidupan Sehari-hari

•Menegakkan rukun Islam secara konsisten dan penuh kesadaran, bukan sekadar rutinitas.

•Menuntut ilmu agama secara rutin agar pemahaman keislaman semakin kuat.

•Memilih lingkungan dan pergaulan yang mendukung terjaganya nilai-nilai keislaman.

•Aktif dalam kegiatan keagamaan di sekolah maupun masyarakat.

•Menjadi teladan yang baik bagi keluarga dan lingkungan sekitar dalam menerapkan ajaran Islam.

F. Hikmah Merawat Islam

•Terjaganya keimanan dan keislaman seseorang hingga akhir hayat.

•Terbentuknya pribadi muslim yang taat, disiplin, dan bertanggung jawab melalui pengamalan rukun Islam.

•Terciptanya keseimbangan antara hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).

•Terjaganya kemurnian dan keberlangsungan ajaran Islam dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan mendorong kalian untuk senantiasa merawat keislaman melalui pengamalan rukun Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

1. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

2.Jelaskan pengertian merawat Islam menurut pemahamanmu!

3.Sebutkan dan jelaskan dalil (ayat atau hadis) yang menunjukkan pentingnya merawat Islam!

4.Sebutkan lima rukun Islam secara berurutan!

5.Jelaskan kaitan antara pengamalan rukun Islam dengan upaya merawat keislaman seseorang!

6.Berikan satu contoh nyata upaya merawat Islam melalui pengamalan salah satu rukun Islam yang pernah kamu lakukan!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

Senin, 10 Agustus 2026

KELAS 10,PERTEMUAN KE 5

                     TANDA-TANDA ORANG BERIMAN DAN DALILNYA

1. Identitas            :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 10 Agustus 2026

Kelas                 : X / Semester Ganjil

Materi                 : Tanda-Tanda Orang Beriman dan Dalilnya

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian orang yang beriman (mukmin) dan pentingnya mengenali tanda-tandanya.

2.Peserta didik mampu menyebutkan dan menjelaskan dalil naqli yang berkaitan dengan masing-masing tanda orang beriman.

3.Peserta didik mampu menguraikan empat tanda orang beriman, yaitu memiliki rasa khauf, khusyuk dalam ibadah, meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat, dan bertambah keimanannya ketika mendengar bacaan Al-Qur'an.

4.Peserta didik mampu menerapkan keempat tanda tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Anfal (8) : 2

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”

QS. Al-Mu'minun (23) : 1-3

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.”

Kaitan dengan materi :

QS. Al-Anfal ayat 2 menjelaskan dua tanda orang beriman, yaitu hati yang bergetar (khauf) ketika nama Allah disebut dan bertambahnya iman ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an. Adapun QS. Al-Mu'minun ayat 1-3 menjelaskan dua tanda lainnya, yaitu khusyuk dalam salat dan menjauhkan diri dari perkara yang tidak bermanfaat (laghwu). Keempat ayat ini menjadi dalil naqli utama yang menguraikan secara rinci ciri-ciri orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Tanda-Tanda Orang Beriman dan Dalilnya.

Berikut ini materinya :

A. Pengertian Orang yang Beriman (Mukmin)

Orang yang beriman atau mukmin adalah seseorang yang membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan segala sesuatu yang diwajibkan Allah untuk diimani. Keimanan seseorang tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui sikap hati, ibadah, dan perilaku sehari-hari. Berikut ini akan diuraikan empat tanda utama orang yang beriman.

B. Tanda Pertama: Memiliki Rasa Khauf

Dalil : QS. Al-Anfal (8) : 2 — “...apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka...”

Khauf adalah rasa takut yang muncul dalam hati seorang hamba karena menyadari kebesaran dan keagungan Allah, serta khawatir akan murka dan azab-Nya apabila ia lalai atau berbuat dosa. Orang yang beriman akan merasakan getaran di hatinya ketika nama Allah disebut, sebagai bukti kecintaan dan ketundukannya kepada-Nya. Rasa khauf ini mendorong seseorang untuk senantiasa berhati-hati dalam bersikap dan menjauhi larangan Allah.

C. Tanda Kedua: Menghadirkan Rasa Khusyuk dalam Ibadah

Dalil : QS. Al-Mu'minun (23) : 1-2 — “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya.”

Khusyuk adalah kondisi hati yang tenang, fokus, dan sepenuhnya menghadap kepada Allah saat beribadah, disertai kesadaran penuh akan makna setiap ucapan dan gerakan yang dilakukan. Orang yang beriman senantiasa berusaha menghadirkan hatinya dalam setiap ibadah, terutama salat, sehingga ibadahnya tidak sekadar gerakan fisik tanpa makna, melainkan benar-benar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.

D. Tanda Ketiga: Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat

Dalil : QS. Al-Mu'minun (23) : 3 — “dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.”

Orang yang beriman senantiasa menjaga waktu, ucapan, dan perbuatannya agar tidak sia-sia. Ia menghindari perkataan yang tidak bermanfaat, perbuatan yang membuang-buang waktu, serta pergaulan yang tidak mendatangkan kebaikan. Sikap ini menunjukkan kesadaran seorang mukmin bahwa setiap waktu dan kesempatan yang dimilikinya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

E. Tanda Keempat: Bertambah Keimanannya Setiap Mendengar Bacaan Al-Qur'an

Dalil : QS. Al-Anfal (8) : 2 — “...dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya)...”

Orang yang beriman akan merasakan bertambahnya keyakinan dan ketenangan dalam hatinya setiap kali mendengar atau membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Ia senantiasa merenungkan (tadabbur) makna ayat yang didengarnya, sehingga Al-Qur'an menjadi sumber penguat iman yang terus-menerus, bukan sekadar bacaan yang berlalu tanpa bekas dalam hati.

F. Penerapan Keempat Tanda Iman dalam Kehidupan Sehari-hari

•Membiasakan diri berhati-hati dalam bersikap dan segera bertaubat ketika menyadari kesalahan, sebagai wujud rasa khauf kepada Allah.

•Berusaha menghadirkan hati dan memahami makna bacaan saat melaksanakan salat agar tercapai kekhusyukan.

•Memanfaatkan waktu luang untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti belajar, membaca, atau membantu sesama, dan menghindari perbuatan sia-sia.

•Membiasakan diri membaca dan mentadaburi Al-Qur'an secara rutin agar keimanan senantiasa bertambah.

G. Hikmah Mengenali Tanda-Tanda Orang Beriman

•Menjadi bahan introspeksi diri (muhasabah) untuk mengukur kualitas keimanan masing-masing.

•Memotivasi diri untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak.

•Membentuk pribadi muslim yang benar-benar beriman, bukan hanya secara ucapan tetapi juga dalam sikap dan perbuatan.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan mendorong kalian untuk senantiasa berusaha menjadi pribadi yang mencerminkan tanda-tanda orang beriman.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

5.Jelaskan pengertian orang yang beriman (mukmin) menurut pemahamanmu!

6.Jelaskan pengertian khauf dan sebutkan dalilnya!

7.Jelaskan makna khusyuk dalam ibadah dan sebutkan dalilnya!

8.Mengapa orang beriman diperintahkan untuk meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat? Jelaskan disertai dalilnya!

9.Jelaskan mengapa iman seorang mukmin dapat bertambah ketika mendengar bacaan Al-Qur'an, disertai dalilnya!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

X – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

KELAS 12 PERTEMUAN KE 5

 MERAWAT ISLAM: DEFINISI, DALIL, SERTA RUKUN ISLAM

1. Identitas :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 10 Agustus 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : Merawat Islam: Definisi, Dalil, serta Rukun Islam

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian merawat Islam.

2.Peserta didik mampu menyebutkan dan menjelaskan dalil naqli yang berkaitan dengan pentingnya merawat Islam.

3.Peserta didik mampu menyebutkan dan menjelaskan rukun Islam sebagai fondasi dalam merawat keislaman.

4.Peserta didik mampu menerapkan sikap dan perilaku dalam merawat serta menjaga keutuhan ajaran Islam melalui pengamalan rukun Islam di kehidupan sehari-hari.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Ali 'Imran (3) : 102

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri).”

Hadis Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan materi :

QS. Ali 'Imran ayat 102 memerintahkan setiap mukmin untuk bertakwa dengan sungguh-sungguh dan menjaga keislamannya hingga akhir hayat, yang menunjukkan bahwa keislaman perlu dirawat dan dijaga secara terus-menerus. Adapun hadis di atas menjelaskan lima rukun Islam sebagai fondasi utama yang harus ditegakkan dan dijaga oleh setiap muslim. Dengan menegakkan rukun Islam secara konsisten, seorang muslim sesungguhnya sedang merawat dan menjaga keislamannya agar tetap kokoh.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Merawat Islam: Definisi, Dalil, serta Rukun Islam.

Berikut ini materinya :

A. Pengertian Merawat Islam

Merawat Islam adalah upaya sadar dan berkesinambungan yang dilakukan oleh setiap muslim untuk menjaga, memelihara, serta melestarikan ajaran Islam, baik dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, maupun syariat, agar tetap murni dan terjaga dari penyimpangan, kelalaian, maupun pengaruh negatif yang dapat merusaknya. Salah satu cara utama merawat Islam adalah dengan menegakkan rukun Islam secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

B. Dalil tentang Pentingnya Merawat Islam

Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ali 'Imran ayat 102, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa dan menjaga keislamannya hingga akhir hayat. Hal ini menegaskan bahwa status muslim harus terus dijaga dan dirawat melalui ketaatan yang konsisten, salah satunya dengan menegakkan rukun Islam sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

C. Rukun Islam

Rukun Islam adalah lima perkara pokok yang menjadi fondasi dan tiang bangunan keislaman seseorang. Kelima rukun tersebut adalah:

1. Mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang       berhak      disembah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

2.  Mendirikan salat lima waktu sebagai bentuk komunikasi dan ibadah utama seorang muslim kepada Allah.

3.  Menunaikan zakat bagi yang telah mencukupi syarat, sebagai bentuk kepedulian sosial dan penyucian harta.

4.  Berpuasa pada bulan Ramadan sebagai sarana melatih ketakwaan, kesabaran, dan pengendalian diri.

5.Menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi yang mampu, sebagai puncak penghambaan diri kepada Allah.

D. Kaitan Rukun Islam dengan Upaya Merawat Islam

•Syahadat menjadi fondasi akidah yang harus dijaga kemurniannya sepanjang hayat.

•Salat menjadi sarana rutin untuk senantiasa mengingat Allah dan menjaga kedekatan spiritual.

•Zakat menjaga keseimbangan sosial dan mempererat kepedulian antar sesama muslim.

•Puasa melatih pengendalian diri sehingga seorang muslim lebih mudah menjaga diri dari perbuatan yang merusak keislamannya.

•Haji menguatkan ukhuwah islamiyah dan menumbuhkan semangat untuk terus memperbaiki diri setelah kembali ke tanah air.

E. Cara-Cara Merawat Islam dalam Kehidupan Sehari-hari

•Menegakkan rukun Islam secara konsisten dan penuh kesadaran, bukan sekadar rutinitas.

•Menuntut ilmu agama secara rutin agar pemahaman keislaman semakin kuat.

•Memilih lingkungan dan pergaulan yang mendukung terjaganya nilai-nilai keislaman.

•Aktif dalam kegiatan keagamaan di sekolah maupun masyarakat.

•Menjadi teladan yang baik bagi keluarga dan lingkungan sekitar dalam menerapkan ajaran Islam.

F. Hikmah Merawat Islam

•Terjaganya keimanan dan keislaman seseorang hingga akhir hayat.

•Terbentuknya pribadi muslim yang taat, disiplin, dan bertanggung jawab melalui pengamalan rukun Islam.

•Terciptanya keseimbangan antara hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).

•Terjaganya kemurnian dan keberlangsungan ajaran Islam dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan mendorong kalian untuk senantiasa merawat keislaman melalui pengamalan rukun Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

1. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

2.Jelaskan pengertian merawat Islam menurut pemahamanmu!

3.Sebutkan dan jelaskan dalil (ayat atau hadis) yang menunjukkan pentingnya merawat Islam!

4.Sebutkan lima rukun Islam secara berurutan!

5.Jelaskan kaitan antara pengamalan rukun Islam dengan upaya merawat keislaman seseorang!

6.Berikan satu contoh nyata upaya merawat Islam melalui pengamalan salah satu rukun Islam yang pernah kamu lakukan!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

Jumat, 07 Agustus 2026

KELAS 12,PERTEMUAN KE 4

                         MENYALAKAN IMAN SERTA PENGERTIANNYA

1. Identitas :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 3 Agustus 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : A. Menyalakan Iman serta Pengertiannya

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian iman menurut bahasa dan istilah.

2.Peserta didik mampu menjelaskan makna dan pentingnya menyalakan (menghidupkan) iman dalam kehidupan sehari-hari.

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi tanda-tanda iman yang kuat dan iman yang lemah.

4.Peserta didik mampu menerapkan cara-cara menyalakan iman agar senantiasa kokoh dan istiqamah.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Anfal (8) : 2

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”

Kaitan dengan materi :

Ayat ini menjelaskan bahwa iman bukanlah sesuatu yang tetap dan diam, melainkan dapat bertambah dan berkurang. Iman yang sejati ditandai dengan hati yang bergetar saat mengingat Allah dan bertambah keyakinannya ketika mendengar ayat-ayat-Nya. Hal ini menunjukkan pentingnya senantiasa 'menyalakan' atau menghidupkan iman agar tidak padam dan semakin kuat dari waktu ke waktu.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Menyalakan Iman serta Pengertiannya.

Berikut ini materinya :

A. Pengertian Iman

Secara bahasa, iman (al-iman) berasal dari kata amana-yu'minu yang berarti percaya atau membenarkan. Secara istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan (tashdiqun bil qalbi, wa iqrarun bil lisan, wa 'amalun bil arkan). Iman mencakup enam pokok keyakinan yang disebut rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qada dan qadar.

B. Iman Bersifat Fluktuatif (Yazidu wa Yanqusu)

Iman seorang muslim tidak selalu berada pada satu tingkatan yang sama, melainkan dapat bertambah (yazid) ketika seseorang rajin beribadah dan berbuat kebaikan, dan dapat berkurang (yanqus) ketika seseorang lalai, bermaksiat, atau jauh dari mengingat Allah. Oleh karena itu, iman perlu senantiasa dijaga, dirawat, dan 'dinyalakan' agar tidak meredup dan padam.

C. Makna Menyalakan Iman

Menyalakan iman berarti upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk menghidupkan, menguatkan, dan menumbuhkan kembali semangat keimanan dalam diri, terutama ketika iman terasa lemah, futur (menurun semangat ibadahnya), atau mulai lalai dari mengingat Allah. Sebagaimana api yang perlu terus dijaga agar tidak padam, iman juga memerlukan perawatan yang terus-menerus melalui berbagai amal saleh.

D. Tanda-Tanda Iman yang Kuat (Menyala)

•Hati merasa tenang dan bergetar ketika mendengar nama dan ayat-ayat Allah dibacakan.

•Bersemangat dan istiqamah dalam melaksanakan ibadah, seperti salat dan membaca Al-Qur'an.

•Senantiasa bertawakal dan berserah diri kepada Allah dalam segala urusan.

•Memiliki akhlak yang baik dan senang berbuat kebaikan kepada sesama.

E. Tanda-Tanda Iman yang Lemah (Padam)

•Malas dan sering menunda-nunda ibadah.

•Hati terasa keras dan tidak tersentuh ketika mendengar nasihat atau ayat Al-Qur'an.

•Mudah tergoda melakukan perbuatan maksiat tanpa rasa bersalah.

•Kurang peduli terhadap sesama dan mudah berputus asa dari rahmat Allah.

F. Cara-Cara Menyalakan Iman

•Membaca dan merenungkan (tadabbur) ayat-ayat Al-Qur'an secara rutin.

•Memperbanyak zikir dan mengingat Allah dalam setiap keadaan.

•Menjaga salat lima waktu dan memperbanyak ibadah sunnah.

•Bergaul dengan lingkungan dan teman yang saleh serta menghadiri majelis ilmu.

•Merenungkan nikmat, ujian, dan kekuasaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

•Menjauhi perbuatan maksiat dan segera bertaubat apabila melakukan kesalahan.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan menjadi motivasi bagi kalian untuk senantiasa menjaga dan menyalakan iman dalam kehidupan sehari-hari.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

5.Jelaskan pengertian iman menurut bahasa dan istilah!

6.Jelaskan mengapa iman disebut bersifat fluktuatif (dapat bertambah dan berkurang)!

7.Sebutkan minimal tiga tanda iman yang kuat dan tiga tanda iman yang lemah!

8.Uraikan minimal empat cara yang dapat dilakukan untuk menyalakan (menguatkan) iman!

9.Ceritakan satu pengalamanmu ketika berhasil mengembalikan semangat ibadah setelah merasa iman sedang lemah/futur!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – IPS 2 : 

70 % siswa mampu menjelaskan di depan kelas tentang iman walau pun masih kurang sempurna,tp sudah berani tampil untuk menjelaskan materi hari itu

Kamis, 06 Agustus 2026

KELAS 12,PERTEMUAN KE 4

                      MENYALAKAN IMAN SERTA PENGERTIANNYA

1. Identitas :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 3 Agustus 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : A. Menyalakan Iman serta Pengertiannya

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian iman menurut bahasa dan istilah.

2.Peserta didik mampu menjelaskan makna dan pentingnya menyalakan (menghidupkan) iman dalam kehidupan sehari-hari.

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi tanda-tanda iman yang kuat dan iman yang lemah.

4.Peserta didik mampu menerapkan cara-cara menyalakan iman agar senantiasa kokoh dan istiqamah.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Anfal (8) : 2

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”

Kaitan dengan materi :

Ayat ini menjelaskan bahwa iman bukanlah sesuatu yang tetap dan diam, melainkan dapat bertambah dan berkurang. Iman yang sejati ditandai dengan hati yang bergetar saat mengingat Allah dan bertambah keyakinannya ketika mendengar ayat-ayat-Nya. Hal ini menunjukkan pentingnya senantiasa 'menyalakan' atau menghidupkan iman agar tidak padam dan semakin kuat dari waktu ke waktu.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Menyalakan Iman serta Pengertiannya.

Berikut ini materinya :

A. Pengertian Iman

Secara bahasa, iman (al-iman) berasal dari kata amana-yu'minu yang berarti percaya atau membenarkan. Secara istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan (tashdiqun bil qalbi, wa iqrarun bil lisan, wa 'amalun bil arkan). Iman mencakup enam pokok keyakinan yang disebut rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qada dan qadar.

B. Iman Bersifat Fluktuatif (Yazidu wa Yanqusu)

Iman seorang muslim tidak selalu berada pada satu tingkatan yang sama, melainkan dapat bertambah (yazid) ketika seseorang rajin beribadah dan berbuat kebaikan, dan dapat berkurang (yanqus) ketika seseorang lalai, bermaksiat, atau jauh dari mengingat Allah. Oleh karena itu, iman perlu senantiasa dijaga, dirawat, dan 'dinyalakan' agar tidak meredup dan padam.

C. Makna Menyalakan Iman

Menyalakan iman berarti upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk menghidupkan, menguatkan, dan menumbuhkan kembali semangat keimanan dalam diri, terutama ketika iman terasa lemah, futur (menurun semangat ibadahnya), atau mulai lalai dari mengingat Allah. Sebagaimana api yang perlu terus dijaga agar tidak padam, iman juga memerlukan perawatan yang terus-menerus melalui berbagai amal saleh.

D. Tanda-Tanda Iman yang Kuat (Menyala)

•Hati merasa tenang dan bergetar ketika mendengar nama dan ayat-ayat Allah dibacakan.

•Bersemangat dan istiqamah dalam melaksanakan ibadah, seperti salat dan membaca Al-Qur'an.

•Senantiasa bertawakal dan berserah diri kepada Allah dalam segala urusan.

•Memiliki akhlak yang baik dan senang berbuat kebaikan kepada sesama.

E. Tanda-Tanda Iman yang Lemah (Padam)

•Malas dan sering menunda-nunda ibadah.

•Hati terasa keras dan tidak tersentuh ketika mendengar nasihat atau ayat Al-Qur'an.

•Mudah tergoda melakukan perbuatan maksiat tanpa rasa bersalah.

•Kurang peduli terhadap sesama dan mudah berputus asa dari rahmat Allah.

F. Cara-Cara Menyalakan Iman

•Membaca dan merenungkan (tadabbur) ayat-ayat Al-Qur'an secara rutin.

•Memperbanyak zikir dan mengingat Allah dalam setiap keadaan.

•Menjaga salat lima waktu dan memperbanyak ibadah sunnah.

•Bergaul dengan lingkungan dan teman yang saleh serta menghadiri majelis ilmu.

•Merenungkan nikmat, ujian, dan kekuasaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

•Menjauhi perbuatan maksiat dan segera bertaubat apabila melakukan kesalahan.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan menjadi motivasi bagi kalian untuk senantiasa menjaga dan menyalakan iman dalam kehidupan sehari-hari.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

5.Jelaskan pengertian iman menurut bahasa dan istilah!

6.Jelaskan mengapa iman disebut bersifat fluktuatif (dapat bertambah dan berkurang)!

7.Sebutkan minimal tiga tanda iman yang kuat dan tiga tanda iman yang lemah!

8.Uraikan minimal empat cara yang dapat dilakukan untuk menyalakan (menguatkan) iman!

9.Ceritakan satu pengalamanmu ketika berhasil mengembalikan semangat ibadah setelah merasa iman sedang lemah/futur!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

Rabu, 05 Agustus 2026

KELAS 12,PERTEMUAN KE 4

                            MENYALAKAN IMAN SERTA PENGERTIANNYA

1. Identitas :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 3 Agustus 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : A. Menyalakan Iman serta Pengertiannya

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian iman menurut bahasa dan istilah.

2.Peserta didik mampu menjelaskan makna dan pentingnya menyalakan (menghidupkan) iman dalam kehidupan sehari-hari.

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi tanda-tanda iman yang kuat dan iman yang lemah.

4.Peserta didik mampu menerapkan cara-cara menyalakan iman agar senantiasa kokoh dan istiqamah.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Anfal (8) : 2

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”

Kaitan dengan materi :

Ayat ini menjelaskan bahwa iman bukanlah sesuatu yang tetap dan diam, melainkan dapat bertambah dan berkurang. Iman yang sejati ditandai dengan hati yang bergetar saat mengingat Allah dan bertambah keyakinannya ketika mendengar ayat-ayat-Nya. Hal ini menunjukkan pentingnya senantiasa 'menyalakan' atau menghidupkan iman agar tidak padam dan semakin kuat dari waktu ke waktu.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Menyalakan Iman serta Pengertiannya.

Berikut ini materinya :

A. Pengertian Iman

Secara bahasa, iman (al-iman) berasal dari kata amana-yu'minu yang berarti percaya atau membenarkan. Secara istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan (tashdiqun bil qalbi, wa iqrarun bil lisan, wa 'amalun bil arkan). Iman mencakup enam pokok keyakinan yang disebut rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qada dan qadar.

B. Iman Bersifat Fluktuatif (Yazidu wa Yanqusu)

Iman seorang muslim tidak selalu berada pada satu tingkatan yang sama, melainkan dapat bertambah (yazid) ketika seseorang rajin beribadah dan berbuat kebaikan, dan dapat berkurang (yanqus) ketika seseorang lalai, bermaksiat, atau jauh dari mengingat Allah. Oleh karena itu, iman perlu senantiasa dijaga, dirawat, dan 'dinyalakan' agar tidak meredup dan padam.

C. Makna Menyalakan Iman

Menyalakan iman berarti upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk menghidupkan, menguatkan, dan menumbuhkan kembali semangat keimanan dalam diri, terutama ketika iman terasa lemah, futur (menurun semangat ibadahnya), atau mulai lalai dari mengingat Allah. Sebagaimana api yang perlu terus dijaga agar tidak padam, iman juga memerlukan perawatan yang terus-menerus melalui berbagai amal saleh.

D. Tanda-Tanda Iman yang Kuat (Menyala)

•Hati merasa tenang dan bergetar ketika mendengar nama dan ayat-ayat Allah dibacakan.

•Bersemangat dan istiqamah dalam melaksanakan ibadah, seperti salat dan membaca Al-Qur'an.

•Senantiasa bertawakal dan berserah diri kepada Allah dalam segala urusan.

•Memiliki akhlak yang baik dan senang berbuat kebaikan kepada sesama.

E. Tanda-Tanda Iman yang Lemah (Padam)

•Malas dan sering menunda-nunda ibadah.

•Hati terasa keras dan tidak tersentuh ketika mendengar nasihat atau ayat Al-Qur'an.

•Mudah tergoda melakukan perbuatan maksiat tanpa rasa bersalah.

•Kurang peduli terhadap sesama dan mudah berputus asa dari rahmat Allah.

F. Cara-Cara Menyalakan Iman

•Membaca dan merenungkan (tadabbur) ayat-ayat Al-Qur'an secara rutin.

•Memperbanyak zikir dan mengingat Allah dalam setiap keadaan.

•Menjaga salat lima waktu dan memperbanyak ibadah sunnah.

•Bergaul dengan lingkungan dan teman yang saleh serta menghadiri majelis ilmu.

•Merenungkan nikmat, ujian, dan kekuasaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

•Menjauhi perbuatan maksiat dan segera bertaubat apabila melakukan kesalahan.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan menjadi motivasi bagi kalian untuk senantiasa menjaga dan menyalakan iman dalam kehidupan sehari-hari.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

5.Jelaskan pengertian iman menurut bahasa dan istilah!

6.Jelaskan mengapa iman disebut bersifat fluktuatif (dapat bertambah dan berkurang)!

7.Sebutkan minimal tiga tanda iman yang kuat dan tiga tanda iman yang lemah!

8.Uraikan minimal empat cara yang dapat dilakukan untuk menyalakan (menguatkan) iman!

9.Ceritakan satu pengalamanmu ketika berhasil mengembalikan semangat ibadah setelah merasa iman sedang lemah/futur!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................

Selasa, 04 Agustus 2026

KELAS 12,PERTEMUAN KE 4

 MENYALAKAN IMAN SERTA PENGERTIANNYA

1. Identitas :

Nama Guru         : Rahmattulloh, S.Pd.I., M.Pd. Gr

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hari/ Tanggal : Senin/ 3 Agustus 2026

Kelas                 : XII / Semester Ganjil

Materi                 : A. Menyalakan Iman serta Pengertiannya

2. Tujuan Pembelajaran :

1.Peserta didik mampu menjelaskan pengertian iman menurut bahasa dan istilah.

2.Peserta didik mampu menjelaskan makna dan pentingnya menyalakan (menghidupkan) iman dalam kehidupan sehari-hari.

3.Peserta didik mampu mengidentifikasi tanda-tanda iman yang kuat dan iman yang lemah.

4.Peserta didik mampu menerapkan cara-cara menyalakan iman agar senantiasa kokoh dan istiqamah.

3. Ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan materi pelajaran :

QS. Al-Anfal (8) : 2

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”

Kaitan dengan materi :

Ayat ini menjelaskan bahwa iman bukanlah sesuatu yang tetap dan diam, melainkan dapat bertambah dan berkurang. Iman yang sejati ditandai dengan hati yang bergetar saat mengingat Allah dan bertambah keyakinannya ketika mendengar ayat-ayat-Nya. Hal ini menunjukkan pentingnya senantiasa 'menyalakan' atau menghidupkan iman agar tidak padam dan semakin kuat dari waktu ke waktu.

4. Materi Pembelajaran :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Anak-anak Bapak yang saleh dan salehah, selamat pagi. Semoga kalian semua senantiasa dalam keadaan sehat dan dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiin.

Pada pertemuan kali ini Bapak akan menyampaikan materi tentang Menyalakan Iman serta Pengertiannya.

Berikut ini materinya :

A. Pengertian Iman

Secara bahasa, iman (al-iman) berasal dari kata amana-yu'minu yang berarti percaya atau membenarkan. Secara istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan (tashdiqun bil qalbi, wa iqrarun bil lisan, wa 'amalun bil arkan). Iman mencakup enam pokok keyakinan yang disebut rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qada dan qadar.

B. Iman Bersifat Fluktuatif (Yazidu wa Yanqusu)

Iman seorang muslim tidak selalu berada pada satu tingkatan yang sama, melainkan dapat bertambah (yazid) ketika seseorang rajin beribadah dan berbuat kebaikan, dan dapat berkurang (yanqus) ketika seseorang lalai, bermaksiat, atau jauh dari mengingat Allah. Oleh karena itu, iman perlu senantiasa dijaga, dirawat, dan 'dinyalakan' agar tidak meredup dan padam.

C. Makna Menyalakan Iman

Menyalakan iman berarti upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk menghidupkan, menguatkan, dan menumbuhkan kembali semangat keimanan dalam diri, terutama ketika iman terasa lemah, futur (menurun semangat ibadahnya), atau mulai lalai dari mengingat Allah. Sebagaimana api yang perlu terus dijaga agar tidak padam, iman juga memerlukan perawatan yang terus-menerus melalui berbagai amal saleh.

D. Tanda-Tanda Iman yang Kuat (Menyala)

•Hati merasa tenang dan bergetar ketika mendengar nama dan ayat-ayat Allah dibacakan.

•Bersemangat dan istiqamah dalam melaksanakan ibadah, seperti salat dan membaca Al-Qur'an.

•Senantiasa bertawakal dan berserah diri kepada Allah dalam segala urusan.

•Memiliki akhlak yang baik dan senang berbuat kebaikan kepada sesama.

E. Tanda-Tanda Iman yang Lemah (Padam)

•Malas dan sering menunda-nunda ibadah.

•Hati terasa keras dan tidak tersentuh ketika mendengar nasihat atau ayat Al-Qur'an.

•Mudah tergoda melakukan perbuatan maksiat tanpa rasa bersalah.

•Kurang peduli terhadap sesama dan mudah berputus asa dari rahmat Allah.

F. Cara-Cara Menyalakan Iman

•Membaca dan merenungkan (tadabbur) ayat-ayat Al-Qur'an secara rutin.

•Memperbanyak zikir dan mengingat Allah dalam setiap keadaan.

•Menjaga salat lima waktu dan memperbanyak ibadah sunnah.

•Bergaul dengan lingkungan dan teman yang saleh serta menghadiri majelis ilmu.

•Merenungkan nikmat, ujian, dan kekuasaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

•Menjauhi perbuatan maksiat dan segera bertaubat apabila melakukan kesalahan.

Demikian materi pelajaran hari ini, untuk penjelasan lebih detail akan Bapak sampaikan saat pembelajaran di kelas. Semoga materi ini dapat dipahami dengan baik dan menjadi motivasi bagi kalian untuk senantiasa menjaga dan menyalakan iman dalam kehidupan sehari-hari.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

5. Assessment (Mengukur ketercapaian TP) :

5.Jelaskan pengertian iman menurut bahasa dan istilah!

6.Jelaskan mengapa iman disebut bersifat fluktuatif (dapat bertambah dan berkurang)!

7.Sebutkan minimal tiga tanda iman yang kuat dan tiga tanda iman yang lemah!

8.Uraikan minimal empat cara yang dapat dilakukan untuk menyalakan (menguatkan) iman!

9.Ceritakan satu pengalamanmu ketika berhasil mengembalikan semangat ibadah setelah merasa iman sedang lemah/futur!

6. Refleksi :

(Diisi setelah selesai pembelajaran)

XII – .......... : ................................................................................................

......................................................................................................................

......................................................................................................................