Senin, 22 April 2019

RPP Bab X


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Sekolah                                                 : SMA AL AZHAR 3 B L
Mata Pelajaran                    : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Kelas/Semester                    : XI / Genap
Materi Pokok                       : Prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam
Alokasi Waktu                     : 2 Minggu x 3 Jam Pelajaran @45 Menit

A.      Kompetensi Inti
·         KI-1:Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
·         KI-2: Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional”.
·         KI 3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
·         KI4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

B.      Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
1.9      Menerapkan prinsip ekonomi dan muamalah sesuai dengan ketentuan syariat Islam
·        Menerapkan prinsip ekonomi dan muamalah sesuai dengan ketentuan syariat Islam
2.9      Bekerja sama dalam menegakkan prinsip-prinsip dan praktik ekonomi sesuai syariat Islam
·        Bekerja sama dalam menegakkan prinsip-prinsip dan praktik ekonomi sesuai syariat Islam
3.9      Menelaah prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam
·        Menunjukkan contoh perilaku berokonomi berdasarkan syariat Islam.
·        Menampilkan perilaku berekonomi berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam.
·        Menjelaskan prinsip-prinsip dan praktik ekonomi Islam.
·        Menjelaskan dalil-dalil naṡ tentang prinsip-prinsip dan praktik ekonomi Islam.
·        Menganalisis prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam.
·        Menganalisis hikmah dan manfaat prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam.
·        Menyimpulkan hikmah dan manfaat prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam.
4.9      Mempresentasikan prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam
·        Menyajikan paparan tentang makna dan dalil tentang prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam.
·        Menyajikan paparan tentang hikmah dan manfaat prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam.

C.      Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:
·         Menerapkan prinsip ekonomi dan muamalah sesuai dengan ketentuan syariat Islam
·         Bekerja sama dalam menegakkan prinsip-prinsip dan praktik ekonomi sesuai syariat Islam
·         Menunjukkan contoh perilaku berokonomi berdasarkan syariat Islam.
·         Menampilkan perilaku berekonomi berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam.
·         Menjelaskan prinsip-prinsip dan praktik ekonomi Islam.
·         Menjelaskan dalil-dalil naṡ tentang prinsip-prinsip dan praktik ekonomi Islam.
·         Menganalisis prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam.
·         Menganalisis hikmah dan manfaat prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam.
·         Menyimpulkan hikmah dan manfaat prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam.
·         Menyajikan paparan tentang makna dan dalil tentang prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam.
·         Menyajikan paparan tentang hikmah dan manfaat prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam. 

D.      Materi Pembelajaran
v Prinsip-prinsip dan praktik ekonomi dalam Islam
·         Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam.
·         Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah.

E.      Metode Pembelajaran
1)  Pendekatan                             : Saintifik
2)  Model Pembelajaran            : Discovery learning, Problem Based Learning (PBL)
3)  Metode                                    : Tanya jawab, wawancara, diskusi dan bermain peran

F.       Media Pembelajaran
Media :
·         Worksheet atau lembar kerja (siswa)
·         Lembar penilaian
·         Al-Qur’an

Alat/Bahan :
·         Penggaris, spidol, papan tulis
·         Laptop & infocus

G.      Sumber Belajar
·         Buku Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas XI, Kemendikbud, tahun 2016
·         Internet
·         Buku refensi yang relevan,
·         LCD Proyektor
·         Film Tawuran Pelajar
·         Tafsir al-Qur’an dan kitab hadits
·         Kitab asbabunnuzul dan asbabul wurud
·         Lingkungan setempat

H.        Langkah-Langkah Pembelajaran

1 . Pertemuan Pertama (3 x 45 Menit)
Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)
Guru :
Orientasi
v Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan YME dan berdoa  untuk  memulai pembelajaran
v Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
v Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik  dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
Aperpepsi
v Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman peserta didik dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya
v Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
v Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan.
Motivasi
v Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
v Apabila materitema/projek ini kerjakan  dengan baik dan sungguh-sungguh ini dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi :
Ø Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam
v Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang  berlangsung
v Mengajukan pertanyaan
Pemberian Acuan
v Memberitahukan  materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu.
v Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang  berlangsung
v Pembagian kelompok belajar
v Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar  sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran.
Kegiatan Inti ( 105 Menit )
Sintak Model Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Stimulation
(stimullasi/
pemberian
rangsangan)
KEGIATAN LITERASI
Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam dengan cara :
v Melihat (tanpa atau dengan Alat)
Menayangkan gambar/foto/video yang relevan.
v Mengamati
Ø Lembar kerja materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam.
Ø Pemberian contoh-contoh materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam untuk dapat dikembangkan peserta didik, dari media interaktif, dsb
v Membaca.
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan membaca materi dari buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan dengan Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam.
v Menulis
Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam.
v Mendengar
Pemberian materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam oleh guru.
v Menyimak
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi pelajaran mengenai materi :
Ø Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam
untuk melatih rasa syukur, kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian, mencari informasi.
Problem
statemen
(pertanyaan/
identifikasi
masalah)
CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar, contohnya :
v Mengajukan pertanyaan tentang materi :
Ø Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam
yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik) untuk mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
Data
collection
(pengumpulan
data)
KEGIATAN LITERASI
Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyan yang telah diidentifikasi melalui kegiatan:
v Mengamati obyek/kejadian
Mengamati dengan seksama materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam yang sedang dipelajari dalam bentuk gambar/video/slide presentasi yang disajikan dan mencoba menginterprestasikannya.
v Membaca sumber lain selain buku teks
Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam yang sedang dipelajari.
v Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam yang sedang dipelajari.
v Wawancara/tanya jawab dengan nara sumber
Mengajukan pertanyaan berkaiatan dengan materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam yang telah disusun dalam daftar pertanyaan kepada guru.

COLLABORATION (KERJASAMA)
Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk:
v Mendiskusikan
Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket mengenai materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam.
v Mengumpulkan informasi
Mencatat semua informasi tentang materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam yang telah diperoleh pada buku catatan dengan tulisan yang rapi dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
v Mempresentasikan ulang
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi dengan rasa percaya diri Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam sesuai dengan pemahamannya.
v Saling tukar informasi tentang materi :
Ø Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam
dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga diperoleh sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelompok kemudian, dengan menggunakan metode ilmiah yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar kerja yang disediakan dengan cermat untuk mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Data
processing
(pengolahan
Data)
COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
Peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil pengamatan dengan cara :
v Berdiskusi tentang data dari Materi :
Ø Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam
v Mengolah informasi dari materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam yang sudah dikumpulkan dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi yang sedang berlangsung dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan pada lembar kerja.
v Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam.
Verification
(pembuktian)
CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil pengamatannya dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui kegiatan :
v Menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam membuktikan tentang materi :
Ø Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam
antara lain dengan : Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban soal-soal yang telah dikerjakan oleh peserta didik.
Generalization
(menarik
kesimpulan)
COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan
v Menyampaikan hasil diskusi  tentang materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam berupa kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan sopan.
v Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang materi :
Ø Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam
v Mengemukakan  pendapat  atas presentasi yang dilakukan tentanag materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam dan ditanggapi oleh kelompok yang mempresentasikan.
v Bertanya atas presentasi tentang materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam yang dilakukan dan peserta didik lain diberi kesempatan  untuk menjawabnya.

CREATIVITY (KREATIVITAS)
v Menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan berupa :
Laporan hasil pengamatan secara tertulis tentang materi :
Ø Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam
v Menjawab pertanyaan tentang materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang telah disediakan.
v Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan beberapa pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam yang akan selesai dipelajari
v Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar lerja yang telah disediakan secara individu untuk mengecek penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
Catatan : Selama pembelajaran Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam berlangsung, guru mengamati sikap siswa dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme,  disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan
Kegiatan Penutup (15 Menit)
Peserta didik :
v Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran tentang materi Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam yang baru dilakukan.
v Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam yang baru diselesaikan.
v Mengagendakan materi atau tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja yang harus mempelajarai pada pertemuan berikutnya di luar jam sekolah atau dirumah.
Guru :
v Memeriksa pekerjaan siswa  yang selesai  langsung diperiksa untuk materi pelajaran Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam.
v Peserta didik yang  selesai mengerjakan tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja dengan benar diberi paraf serta diberi nomor urut peringkat,  untuk penilaian tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja pada materi pelajaran Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam.
v Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran Dalil-dalil al-Qur’ān dan hadis tentang Ekonomi Islam kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.

2 . Pertemuan Kedua (3 x 45 Menit)
Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)
Guru :
Orientasi
v Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan YME dan berdoa  untuk  memulai pembelajaran
v Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
v Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik  dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
Aperpepsi
v Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman peserta didik dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya
v Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
v Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan.
Motivasi
v Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
v Apabila materitema/projek ini kerjakan  dengan baik dan sungguh-sungguh ini dikuasai dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi :
Ø Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah
v Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang  berlangsung
v Mengajukan pertanyaan
Pemberian Acuan
v Memberitahukan  materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu.
v Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang  berlangsung
v Pembagian kelompok belajar
v Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar  sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran.
Kegiatan Inti ( 105 Menit )
Sintak Model Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
Stimulation
(stimullasi/
pemberian
rangsangan)
KEGIATAN LITERASI
Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah dengan cara :
v Melihat (tanpa atau dengan Alat)
Menayangkan gambar/foto/video yang relevan.
v Mengamati
Ø Lembar kerja materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah.
Ø Pemberian contoh-contoh materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah untuk dapat dikembangkan peserta didik, dari media interaktif, dsb
v Membaca.
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan membaca materi dari buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan dengan Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah.
v Menulis
Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah.
v Mendengar
Pemberian materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah oleh guru.
v Menyimak
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi pelajaran mengenai materi :
Ø Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah
untuk melatih rasa syukur, kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian, mencari informasi.
Problem
statemen
(pertanyaan/
identifikasi
masalah)
CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar, contohnya :
v Mengajukan pertanyaan tentang materi :
Ø Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah
yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik) untuk mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
Data
collection
(pengumpulan
data)
KEGIATAN LITERASI
Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyan yang telah diidentifikasi melalui kegiatan:
v Mengamati obyek/kejadian
Mengamati dengan seksama materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah yang sedang dipelajari dalam bentuk gambar/video/slide presentasi yang disajikan dan mencoba menginterprestasikannya.
v Membaca sumber lain selain buku teks
Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah yang sedang dipelajari.
v Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah yang sedang dipelajari.
v Wawancara/tanya jawab dengan nara sumber
Mengajukan pertanyaan berkaiatan dengan materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah yang telah disusun dalam daftar pertanyaan kepada guru.

COLLABORATION (KERJASAMA)
Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk:
v Mendiskusikan
Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket mengenai materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah.
v Mengumpulkan informasi
Mencatat semua informasi tentang materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah yang telah diperoleh pada buku catatan dengan tulisan yang rapi dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
v Mempresentasikan ulang
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi dengan rasa percaya diri Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah sesuai dengan pemahamannya.
v Saling tukar informasi tentang materi :
Ø Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah
dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga diperoleh sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelompok kemudian, dengan menggunakan metode ilmiah yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar kerja yang disediakan dengan cermat untuk mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Data
processing
(pengolahan
Data)
COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
Peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil pengamatan dengan cara :
v Berdiskusi tentang data dari Materi :
Ø Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah
v Mengolah informasi dari materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah yang sudah dikumpulkan dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi yang sedang berlangsung dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan pada lembar kerja.
v Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah.
Verification
(pembuktian)
CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil pengamatannya dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui kegiatan :
v Menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam membuktikan tentang materi :
Ø Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah
antara lain dengan : Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban soal-soal yang telah dikerjakan oleh peserta didik.
Generalization
(menarik
kesimpulan)
COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan
v Menyampaikan hasil diskusi  tentang materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah berupa kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan sopan.
v Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang materi :
Ø Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah
v Mengemukakan  pendapat  atas presentasi yang dilakukan tentanag materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah dan ditanggapi oleh kelompok yang mempresentasikan.
v Bertanya atas presentasi tentang materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah yang dilakukan dan peserta didik lain diberi kesempatan  untuk menjawabnya.

CREATIVITY (KREATIVITAS)
v Menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan berupa :
Laporan hasil pengamatan secara tertulis tentang materi :
Ø Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah
v Menjawab pertanyaan tentang materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang telah disediakan.
v Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan beberapa pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah yang akan selesai dipelajari
v Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar lerja yang telah disediakan secara individu untuk mengecek penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
Catatan : Selama pembelajaran Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah berlangsung, guru mengamati sikap siswa dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme,  disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan
Kegiatan Penutup (15 Menit)
Peserta didik :
v Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran tentang materi Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah yang baru dilakukan.
v Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah yang baru diselesaikan.
v Mengagendakan materi atau tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja yang harus mempelajarai pada pertemuan berikutnya di luar jam sekolah atau dirumah.
Guru :
v Memeriksa pekerjaan siswa  yang selesai  langsung diperiksa untuk materi pelajaran Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah.
v Peserta didik yang  selesai mengerjakan tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja dengan benar diberi paraf serta diberi nomor urut peringkat,  untuk penilaian tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja pada materi pelajaran Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah.
v Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran Pruduk-produk ekonomi syari’ah yang ada di lembaga keuangan mikro dan makro syari’ah kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.

I.          Penilaian Hasil Pembelajaran
1.     Penilaian Skala Sikap
Berilah tanda “centang” (√) yang sesuai dengan kebiasaan kamu terhadap pernyataan-pernyataan yang tersedia!

No
Pernyataan
Kebiasaan
Selalu
Sering
Jarang
Tidak Pernah
Skor 4
Skor 3
Skor 2
Skor 1
1





2





3





4





5





6





7





8





9





10






Nilai akhir = Jumlah skor yang diperoleh peserta didik× 100
skor tertinggi 4

2.     Penilaian “Membaca dengan Tartil”
Rubrik Pengamatannya sebagai berikut:
No.
Nama Peserta Didik
Aspek yang dinilai
Jumlah Skor
Nilai
Ketuntasan
Tindak Lanjut
1
2
3
4
T
TT
R
P
1











2











Dst











Aspek yang dinilai : 1. Kelancaran                  Skor 25 → 100
                                      2. Artinya                        Skor 25 → 100
                                      3. Isi                                 Skor 25 → 100
                                      4. Dan lain-lain              Skor dikembangkan
                                      Skor maksimal….         100

Rubrik penilaiannya adalah:
1)         Kelancaran
a)       Jika peserta didik dapat membaca  sangat lancar, skor 100.
b)       Jika peserta didik dapat membaca  lancar, skor 75.
c)       Jika peserta didik dapat membaca  tidak lancar dan kurang sempurna, skor 50.
d)       Jika peserta didik tidak dapat membaca , skor 25

2)         Arti
a)       Jika peserta didik dapat mengartikan  dengan benar, skor 100.
b)       Jika peserta didik dapat mengartikan  dengan benar dan kurang sempurna, skor 75.
c)       Jika peserta didik tidak benar mengartikan, skor 50.
d)       Jika peserta didik tidak dapat mengartikan, skor 25.

3)         Isi
a)       Jika peserta didik dapat menjelaskan dengan benar, skor 100.
b)       Jika peserta didik dapat menjelaskan dengan mendekati benar, skor 75.
c)       Jika peserta didik dapat menjelaskan dengan tidak benar, skor 50.
d)       Jika peserta didik tidak dapat menjelaskan, skor 25.

4)         Dan Lain-lain
Guru dapat mengembangkan skor tersebut jika ditemui kriteria penilaian lain berdasarkan bentuk perilaku peserta didik pada situasi dan kondisi yang berkembang

3.     Penilaian Diskusi
Peserta didik berdiskusi tentang memahami makna .
Aspek dan rubrik penilaian:
1)       Kejelasan dan ke dalaman informasi
(a)     Jika kelompok tersebut dapat memberikan kejelasan dan ke dalaman informasi lengkap dan sempurna, skor 100.
(b)     Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan ke dalaman informasi lengkap dan kurang sempurna, skor 75.
(c)     Jika kelompok tersebut dapat memberikan penjelasan dan ke dalaman informasi kurang lengkap, skor 50.
(d)     Jika kelompok tersebut tidak dapat memberikan penjelasan dan ke dalaman informasi, skor 25.

Contoh Tabel:
No.
Nama Peserta didik
Aspek yang Dinilai
Jumlah Skor
Nilai
Ketuntasan
Tindak Lanjut
Kejelasan dan Kedalaman Informasi
T
TT
R
R
1








Dst.









2)       Keaktifan dalam diskusi
(a)     Jika kelompok tersebut berperan sangat aktif dalam diskusi, skor 100.
(b)     Jika kelompok tersebut berperan aktif dalam diskusi, skor 75.
(c)     Jika kelompok tersebut kurang aktif dalam diskusi, skor 50.
(d)     Jika kelompok tersebut tidak aktif dalam diskusi, skor 25.
Contoh Tabel:
No.
Nama Peserta didik
Aspek yang Dinilai
Jumlah Skor
Nilai
Ketuntasan
Tindak Lanjut
Keaktifan dalam Diskusi
T
TT
R
R
1








Dst.









3)       Kejelasan dan kerapian presentasi/ resume
(a)     Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan/resume dengan sangat jelas dan rapi, skor 100.
(b)     Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan/resume dengan jelas dan rapi, skor 75.
(c)     Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan/resume dengan sangat jelas dan kurang rapi, skor 50.
(d)     Jika kelompok tersebut dapat mempresentasikan/resume dengan kurang jelas dan tidak rapi, skor 25.
Contoh Tabel:
No.
Nama Peserta didik
Aspek yang Dinilai
Jumlah Skor
Nilai
Ketuntasan
Tindak Lanjut
Kejelasan dan Kerapian Presentasi
T
TT
R
R
1








Dst.









4.     Remedial
Peserta didik yang belum menguasai materi (belum mencapai ketuntasan belajar) akan dijelaskan kembali oleh guru. Guru melakukan penilaian kembali dengan soal yang sejenis atau memberikan tugas individu terkait dengan topik yang telah dibahas. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan, contoh: pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu, atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah jam pelajaran selesai).

CONTOH PROGRAM REMIDI

Sekolah                                    : ........................
Kelas/Semester                       : ........................
Mat Pelajaran                        : ........................
Ulangan Harian Ke               : ........................
Tanggal Ulangan Harian      : ........................
Bentuk Ulangan Harian       : ........................
Materi Ulangan Harian        : ........................
(KD/Indikator                         : ........................
KKM                                        : ........................

No
Nama Peserta Didik
Nilai Ulangan
Indikator yang Belum Dikuasai
Bentuk Tindakan Remedial
Nilai Setelah Remedial
Ket.
1






2






3






4






dst,







5.     Pengayaan
Dalam kegiatan pembelajaran, peserta didik yang sudah menguasai materi  sebelum waktu yang telah ditentukan, diminta untuk soal-soal pengayaan berupa pertanyaan-pertanyaan yang lebih fenomenal dan inovatif atau aktivitas lain yang relevan dengan topik pembelajaran. Dalam kegiatan ini, guru dapat mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan.

6.     Interaksi Guru dengan Orang Tua
Interaksi guru dengan orang tua perlu dilakukan, salah satunya adalah, guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Membaca dengan Tartil” dalam buku teks peserta didik kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf.
Dapat juga dengan mengunakan buku penghubung kepada orang tua tentang perubahan perilaku peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung, dengan pernyataan tertulis atau lewat telepon tentang perkembangan kemampuan terkait dengan materi.





                            Bandar Lampung, 27 Juli 2018           

Kepala SMA Al-Azhar 3 Bandar Lampung




Drs. Hi. Ma’arifudin Mz,M.Pd.I
NIP.19680317 200003 1 006
Guru Mapel




Rahmattulloh,S.Pd.I



Selasa, 09 April 2019

MATERI : PATUH KEPADA ORANGTUA DAN GURU

Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Di Dalam Al-Quran

Definisi Ihsan
Al-Azhari meriwayatkan dari al-Laits bahwa ia berkata, “Hasan (baik) adalah sifat bagi sesuatu yang baik. Engkau katakan, “Sesuatu itu baik.” Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Artinya, “Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia,”
Ada juga yang membacanya,
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حَسَنًا
Alasan dua bacaan ini adalah bahwa yang dimaksud bacaan dengan harakat fathah ialah perkataan yang baik, sedangkan yang dimaksud bacaan dengan harakat dhammah dan sukun ialah mashdar (kata dasar) dari fi’il (kata kerja) hasuna yahsunu husnan hingga bisa berarti lebih umum daripada yang dibaca dengan harakat fathah.[1]
Sedangkan definisi Ihsan menurut istilah adalah antonim dari kata isa’ah (berbuat jahat). Saat Nabi Saw. ditanya tentang Ihsan dalam hadits Jibril as., beliau mendefinisikannya sebagai “engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia melihatmu.”[2] Ibnu Rajab rahimahullah menafsiri bagian hadits ini bahwa yang dimaksud dengan Ihsan dalam hadits tersebut adalah seorang hamba selalu merasa diawasi oleh Tuhannya setiap berbicara atau berbuat sesuatu, seakan-akan dia berada di hadapan Allah Swt. yang dari sana bisa melahirkan rasa takut, khawatir, ikhlas, dan memberikan pesan dalam beribadah secara umum.[3]
Di dalam al-Quran al-Karim banyak tersurat kata Ihsan dengan aneka ragam arti; terkadang bersamaan dengan kata Iman, terkadang bersamaan dengan kata Islam, dan terkadang pula bersamaan dengan kata Takwa atau amal shaleh.[4] Juga, bersamaan dengan arti-arti yang lain.
Saya hanya akan membahas tentang Ihsan yang berhubungan dengan kedua orang tua. Kedudukan kedua orang tua sangat agung di sisi Allah Swt. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt. menggabungkan perbuatan baik kepada kedua orang tua dengan ibadah kepada-Nya Swt. dalam firman-Nya,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS al-Isra’ : 23).[5]
Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah dengan cara menggauli mereka dengan baik, merendahkan diri di hadapan keduanya, melaksanakan perintah mereka, mendoakan mereka supaya diampuni dosa-dosanya ketika mereka sudah meninggal dunia, menyambung hubungan dengan orang-orang yang mereka kasihi,[6] berbakti kepada keduanya, menjaga keduanya, menghilangkan kesulitan keduanya, serta tidak bertindak kasar terhadap keduanya.[7] Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abdullah, dia berkata, “Saya bertanya kepada Nabi Saw., ‘Perbuatan apa yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya.’ Dia bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Dia bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Jihad fi sabilillah.’”[8]
Al-Qurthubi berkata, “Beliau Saw. memberitahukan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah perbuatan yang paling utama setelah shalat, yang merupakan tiang penyangga terbesar dalam Islam. Beliau Saw. juga menggunakan kata sambung ‘kemudian’ yang memberikan faidah berurutan.”[9]

Perhatian al-Quran al-Karim terhadap bakti kepada kedua orang tua
Tampak jelas perhatian al-Quran al-Karim terhadap bakti kepada kedua orang tua dalam beberapa hal:
Pertama, saat Allah Swt. memerintahkan makhluk-Nya untuk beribadah kepada-Nya, Dia menggabungkan bakti kepada kedua orang tua dengan ibadah kepada-Nya. Allah Swt. berfirman,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS al-Isra’ : 23).
Ibnu Katsir berkata, “Dia (Allah) juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.”[10]
Firman Allah Swt.,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا
Artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,” (QS an-Nisa’ : 36)
Kedua, Allah Swt. mengaitkan antara syukur kepada kedua orang tua dengan syukur kepada-Nya. Firman Allah Swt.,
وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Artinya, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman : 14).
Ketiga, berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua tidak terbatas kalau mereka berdua orang Islam, tapi juga walaupun mereka berdua adalah orang kafir. Firman Allah Swt,
لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Artinya, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah : 8).
Sebuah hadits shahih menafsiri ayat yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Asma’ binti Abu Bakar ra., dia berkata, “Ibuku yang masih musyrik datang kepadaku pada masa Quraisy.” Mereka pun membuat perjanjian dengan Nabi Saw. bersama ayahnya. “Saya minta fatwa kepada Nabi Saw. dan berkata, ‘Ibuku datang kepadaku dan dia mengharapkan sesuatu, apakah aku boleh menghubungkan ikatan kekeluargaan dengannya?’ Beliau bersabda, ‘Ya, hubungkanlah ikatan dengan ibumu.’”[11]
Dalil yang lebih kuat dari ini tentang bakti kepada kedua orang tua yang masih kafir adalah firman Allah Swt.,
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
Artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,” (QS Luqman : 15).
Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan dalil berbakti kepada kedua orang tua padahal mereka masih kafir dengan cara memberikan harta kepada mereka saat mereka dalam keadaan fakir, berkata lembut, dan mengajak mereka untuk masuk Islam dengan lembut.”[12]
Keempat, Allah Swt. telah memerintahkan umat-umat terdahulu untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Itu menunjukkan keagungan hak mereka dan ketinggian kedudukan mereka berdua. Allah Swt. berfirman,
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلا قَلِيلا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ
Artinya, “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (QS al-Baqarah : 83).
Al-Qurthubi berkata, “Firman Allah, ‘Berbuat baiklah kepada ibu bapa’, maksudnya adalah : dan kami perintahkan mereka berbuat baik kepada kedua orang tua. Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla menggabungkan hak kedua orang tua dengan tauhid. Itu karena yang pertama berasal dari Allah Swt., sedangkan yang kedua – pendidikan – berasal dari pihak kedua orang tua.[13]
Ibnu Katsir berkata, “Ini merupakan hak paling tinggi dan paling agung; yaitu hak Allah Tabaraka wa Ta’ala untuk disembah tanpa ada sekutu bagi-Nya, kemudian setelah itu hak para makhluk, sedangkan yang paling utama adalah hak kedua orang tua. Karena itulah Allah Swt. menggabungkan antara hak-Nya Swt. dan hak kedua orang tua.”[14] Yang dimaksud dengan penggabungan antara hak Allah Swt. dan hak orang tua seperti yang terdapat dalam ayat ini, surat al-Isra’, an-Nisa’, dan lain-lain adalah perintah untuk beribadah hanya kepada Allah Swt. semata, kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua. Begitu pula dalam persoalan syukur kepada Allah Swt. dan penggabungannya dengan syukur kepada kedua orang tua dalam firman Allah Swt.,
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Artinya, “Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman : 14).
Kelima, Allah Swt. menjadikan kedurhakaan kepada kedua orang tua setara dengan syirik dalam firman-Nya,
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Artinya, “Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]”. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (QS al-An’am : 151)
Pada ayat ini Allah Swt. melarang berbuat syirik kepada Allah Swt., kemudian Dia mengikutinya dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, sedangkan perintah terhadap sesuatu menuntut larangan terhadap kebalikannya, yaitu pengharaman meninggalkan perbuatan baik. Ketika meninggalkan berbuat jahat terhadap kedua orang tua tidak cukup hanya dengan berbuat baik kepada keduanya, Dia memerintahkan berbuat baik kepada keduanya supaya mencakup kedua hal ini; pelarangan berbuat jahat terhadap keduanya dan perintah berbuat baik kepada mereka.[15]
Nabi Saw. memberitahukan bahwa durhaka kepada kedua orang tua adalah termasuk tujuh hal yang membinasakan seperti yang terdapat dalam hadits shahih.
Keenam, perintah untuk mendoakan keduanya dan memohon ampun bagi mereka berdua. Allah Swt. berfirman,
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS al-Isra’ : 24).
Al-Qurthubi berkata, “Firman ini ditujukan kepada Nabi Saw., tetapi yang dimaksud adalah umatnya, karena pada saat itu beliau Saw. sudah tidak memiliki orang tua.”[16]
Allah Swt. mengabadikan sikap Nabi Ibrahim as. bersama kedua orang tuanya di dalam al-Quran. Firman Allah Swt.,
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
Artinya, “Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS Ibrahim : 41).
Para ahlil ilmi menuturkan bahwa sikap Nabi Ibrahim as. ini sebelum jelas baginya bahwa ayahnya adalah musuh Allah Swt.
Ada juga sikap lain Nabi Ibrahim as. terhadap ayahnya; yaitu ketika beliau membalas keburukan dari ayahnya dengan perbuatan baik. Firman Allah Swt.,
قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
Artinya, “Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”(QS Maryam : 47).
Ibnu Katsir berkata, “Perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu,’ maksudnya adalah aku tidak akan menyakitimu, itu sebagai penghormatan kepada seorang ayah. Sedangkan perkataan Ibrahim, ‘Aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku,’ berarti akan tetapi aku akan meminta kepada Allah supaya memberimu hidayah dan mengampuni dosamu. Ibrahim telah memohonkan ampun untuk ayahnya dalam waktu yang cukup lama. Kaum Muslimin juga memohonkan ampun untuk para kerabat dan keluarga mereka yang masih musyrik pada permulaan Islam demi mengikuti Nabi Ibrahim as. hingga Allah Swt. menurunkan firman-Nya,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ لأسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Artinya, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali.” (QS al-Mumtahanah : 4).
Maksudnya, kecuali tentang perkataan ini. Maka dalam hal ini kita tidak boleh mengikutinya. Kemudian Allah Swt. menerangkan bahwa Nabi Ibrahim as. menarik kembali perkataannya tersebut. Allah Swt. berfirman,
وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ إِلا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأوَّاهٌ حَلِيمٌ
Artinya, “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi Penyantun.” (QS at-Taubah : 114).[17]
Sebelum Nabi Ibrahim as. Nabi Nuh as. juga memohon ampun bagi dirinya, kedua orang tuanya, dan kaum mukminin. Firman Allah Swt.,
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلا تَبَارًا
Artinya, “Ya Tuhanku! ampunilah Aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahKu dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (QS Nuh : 28).
Sebagian ahlul ilmi menuturkan bahwa kedua orang tuanya adalah muslim.[18]
Ketujuh, Allah Swt. memaparkan kepada kita dalam al-Quran beberapa contoh kebaktian para Nabi as. terhadap orang tua mereka supaya kita bisa menirunya. Ini termasuk bentuk perhatian terhadap persoalan kedua orang tua. Di antaranya adalah:
  1. Sikap Yahya bin Zakariya as. terhadap kedua orang tuanya. Firman Allah Swt.,
وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا
Artinya, “Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (QS Maryam : 14).
Itu merupakan gambaran tentang kebaktian dan perbuatan baik, serta menjauhi kedurhakaan.
Ibnu Katsir berkata, “Ketika Allah Swt. menyebutkan ketaatannya (Yahya as.) terhadap Tuhannya, dan bahwasanya Allah Swt. menciptakannya dengan penuh kasih sayang, kesucian diri, dan ketakwaan, Allah Swt. meneruskannya dengan ketaatan dan baktinya kepada kedua orang tuanya, serta keengganannya mendurhakai kedua orang tua baik ucapan maupun perbuatan, baik perintah maupun larangan. Karena itu Allah Swt. berfirman,
ولم يكن جبارا عصيا
Artinya, “Dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.”
Kemudian setelah menyebutkan sifat-sifat yang bagus ini, sebagai balasan baginya atas sifat-sifat tersebut Allah Swt. berfirman,
وَسَلامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا
Artinya, “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.” (QS Maryam : 15).
Maksudnya, beliau mendapatkan kesejahteraan di dalam tiga fase ini.[19]
  1. Sikap Isa as. terhadap ibunya as. Firman Allah Swt.,
وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا
Artinya, “Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS Maryam : 32).
Bakti Isa as. terhadap ibunya disebutkan setelah zakat yang dilakukannya secara terus menerus, kemudian datanglah peringatan atas baktinya terhadap ibunya. Ini termasuk perbandingan antara ketaatan terhadap Tuhan Swt. dan ketaatan kepada kedua orang tua.
Ibnu Katsir berkata, “Firman Allah, ‘dan berbakti kepada ibuku,’ maksudnya adalah bahwa Allah memerintahkanku untuk berbuat baik kepada ibuku. Itu disebutkan setelah menyebut ketaatan terhadap Tuhannya, karena seringkali Allah Swt. menggabungkan antara ibadah kepada-Nya dan taat kepada kedua orang tua.”
Sedangkan firman Allah Swt., “Dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka,” maksudnya adalah bahwa Allah Swt. tidak menjadikanku seorang yang menyombongkan diri dengan tidak mau beribadah kepada-Nya dan tidak bersedia menaati-Nya, serta berbakti kepada ibuku. Jika aku melakukannya, maka aku akan celaka.”[20]
  1. Sikap Ismail as. terhadap ayahnya Ibrahim as. Firman Allah Swt.,
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (١٠١)فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (١٠٢)فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (١٠٣)وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (١٠٤)قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (١٠٥)إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ (١٠٦)وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (١٠٧)وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ (١٠٨)
Artinya, “Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ), dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian,” (QS ash-Shaaffaat : 101 – 109).
Kedelapan, petunjuk al-Quran untuk memberikan nafkah kepada kedua orang tua. Allah Swt. berfirman,
يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Artinya, “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.” (QS al-Baqarah : 215).
Ayat ini menjelaskan tempat-tempat untuk menyalurkan nafkah.
Ibnu Maimun bin Mahran setelah membaca ayat ini berkata, “Ini adalah tempat-tempat menyalurkan nafkah. Di dalamnya tidak disebutkan gendang, seruling, gambar-gambar kayu, juga tidak tutup ikan.”[21]
Di dalam sebuah hadits disebutkan penjelasan tentang hal itu, yaitu: ibumu, ayahmu, saudarimu, kemudian yang lebih dekat, dan lebih dekat lagi.
Kesembilan, penyebutan ibu secara khusus setelah menyebut kata-kata umum karena adanya suatu kepentingan. Firman Allah Swt.,
وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS al-Ahqaf : 15).
Ibu telah menanggung banyak ujian, rasa lelah, dan kesulitan karena mengandung. Ayat ini menegaskan tentang dua hal sulit yang dialami seorang ibu, yaitu; pertama, mengandung. Kedua, melahirkan.
Dan sunah yang shahih juga telah menegaskan bahwa orang yang paling berhak untuk diperlakukan dengan baik adalah ibu sebanyak tiga kali, kemudian baru ayah.
Kesepuluh, al-Quran menjelaskan tata cara bergaul dengan kedua orang tua. Al-Quran menerangkan bahwa keturunan atau anak-anak ada dua jenis:
Pertama, keturunan yang taat dan berbakti kepada kedua orang tua.
Kedua, keturunan yang celaka dan durhaka kepada kedua orang tua.
Jenis yang pertama dicontohkan dalam sikap-sikap para Nabi as. seperti Nuh as., Ibrahim as., Yahya as., Isa as., Ismail as., dan Yusuf as., yang tercermin dalam doa mereka kepada kedua orang tua, berkata lembut kepada keduanya, mengakui kebaikan orang tua, dan lain sebagainya yang termasuk jenis kebaktian dan perbuatan baik kepada kedua orang tua.
Adapun jenis yang kedua dicontohkan dalam dua kategori:
  1. Perilaku anak Nabi Nuh; kaburnya dari ayahnya, tidak mau mendengar dan menaati ayahnya, hingga ia termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
  2. Perilaku yang kedua dicontohkan dalam perilaku setiap orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya dan mendustakan kebenaran. Al-Quran menggambarkan tentang hal ini dalam firman Allah Swt.,
وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ (١٧)أُولَئِكَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ (١٨)
Artinya, “Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, Apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. lalu Dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”. Mereka itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan (azab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.”(QS al-Ahqaf : 17 – 18).