Selasa, 30 Juli 2019


BAHAN AJAR


Sekolah                                                 :SMA Al Azhar 3 B. Lampung
Mata Pelajaran                    : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester                    : XII/Ganjil
Materi Pokok                       : Q.S. Ali Imran/3: 190-191, dan Q.S. Ali Imran/3: 159
Alokasi Waktu                     : 3 Minggu x 3 Jam Pelajaran @45 Menit

A.      Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
1.1       Terbiasa membaca al-Qur’an sebagai pengamalan dengan meyakini bahwa agama mengajarkan kepada umatnya untuk berpikir kritis dan bersikap demokratis
·        Terbiasa membaca al-Qur’an sebagai pengamalan dengan meyakini bahwa agama mengajarkan kepada umatnya untuk berpikir kritis dan bersikap demokratis
2.1       Bersikap kritis dan demokratis sesuai dengan pesan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan159, serta Hadis terkait
·        Bersikap kritis dan demokratis sesuai dengan pesan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan159, serta Hadis terkait
3.1       Menganalisis dan mengevaluasi makna Q.S. Ali Imran/3: 190-191, dan Q.S. Ali Imran/3: 159, serta Hadis tentang berpikir kritis dan bersikap demokratis
·        Menjelaskan cara membaca  Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 sesuai dengan kaidah tajwid;
·        Mengidentifikasi hukum bacaan (tajwid) Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·        Menterjemahkan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.
·        Menjelaskan asbabun nuzul Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·        Mengidentifikasi makna Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.
·        Menjelaskan pesan-pesan yang terkandung paqda Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait
·        Menjelaskan manfat berpikir kritis dan bersikap demokratis sesuai dengan kandungan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·        Menganalisis hukum bacaan, makna, pesan-pesan yang terdapat pada Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159
·        Menjelaskan sikap kritis dan demokratis dengan ciri orang-orang berakal (ulil albab) sesuai pesan  Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159
·        Menyimpulkan hukum bacaan, makna, pesan-pesan, hikmah dan manfaat yang terdapat pada Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159
4.1.1    Membaca Q.S. Ali Imran/3: 190-191, dan Q.S. Ali Imran/3: 159,; sesuai dengan kaidah tajwid dan makharijul-huruf

4.1.2    Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Ali Imran/3: 190-191, dan Q.S. Ali Imran/3: 159, dengan lancar

4.1.3    Menyajikan keterkaitan antara sikap kritis dengan ciri orang-orang berakal (ulil albab) sesuai pesan Q.S. Ali Imran/3: 190-191
·        Mendemonstrasikan bacaan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159, sesuai dengan kaidah tajwid dan makharijul huruf.
·        Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 dengan fasih dan lancar.
·        Menyajikan hukum bacaan yang terdapat pada Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·        Menyajikan makna Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.
·        Menyajikan pesan-pesan, hikmah dan manfaat yang terkandung dalam  Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait
·        Menyajikan paparan keterkaitan antara sikap kritis dengan ciri orang-orang berakal (ulil albab) sesuai dengan pesan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 serta hadits terkait.
·        Menyajikan paparan keterkaitan antara sikap demokratis dengan kandungan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.

B.      Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:
·         Terbiasa membaca al-Qur’an sebagai pengamalan dengan meyakini bahwa agama mengajarkan kepada umatnya untuk berpikir kritis dan bersikap demokratis
·         Bersikap kritis dan demokratis sesuai dengan pesan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan159, serta Hadis terkait
·         Menjelaskan cara membaca  Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 sesuai dengan kaidah tajwid;
·         Mengidentifikasi hukum bacaan (tajwid) Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·         Menterjemahkan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.
·         Menjelaskan asbabun nuzul Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·         Mengidentifikasi makna Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.
·         Menjelaskan pesan-pesan yang terkandung paqda Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait
·         Menjelaskan manfat berpikir kritis dan bersikap demokratis sesuai dengan kandungan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·         Menganalisis hukum bacaan, makna, pesan-pesan yang terdapat pada Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159
·         Menjelaskan sikap kritis dan demokratis dengan ciri orang-orang berakal (ulil albab) sesuai pesan  Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159
·         Menyimpulkan hukum bacaan, makna, pesan-pesan, hikmah dan manfaat yang terdapat pada Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159
·         Mendemonstrasikan bacaan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159, sesuai dengan kaidah tajwid dan makharijul huruf.
·         Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 dengan fasih dan lancar.
·         Menyajikan hukum bacaan yang terdapat pada Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159.
·         Menyajikan makna Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.
·         Menyajikan pesan-pesan, hikmah dan manfaat yang terkandung dalam  Q.S. Ali Imran/3: 190-191 dan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait
·         Menyajikan paparan keterkaitan antara sikap kritis dengan ciri orang-orang berakal (ulil albab) sesuai dengan pesan Q.S. Ali Imran/3: 190-191 serta hadits terkait.
·         Menyajikan paparan keterkaitan antara sikap demokratis dengan kandungan Q.S. Ali Imran/3: 159 serta hadis terkait.













C.      Materi Pembelajaran

‘BERPIKIR KRITIS DAN BERSIKAP DEMOKRATIS’
Makna Berpikir Kritis
Berpikir kritis, sifat ini adalah sikap dan perilaku yang berdasarkan data dan fakta yang valid (sah) serta argumen yang akurat. Warga negara yang demokrat hendaknya selalu bersikap kritis, baik terhadap kenyataan empiris (realitas sosial,budaya, dan politik) maupun terhadap kenyataan supraempiris (agama, mitologi, dan kepercayaan). Sikap kritis juga harus ditujukan pada diri sendiri. Sikap kritis pada diri sendiri itu tentu disertai sikap kritis terhadap pendapat yang berbeda.
Makna Bersikap Demokratis
Pengertian demokrasi dapat dilihat dari tinjauan (etimologis) dan istilah (terminologis).Dalam agama islam, sejatinya tidak dikenal istilah demokrasi. Orang-orang islam hanya mengenal kebebasan (al-hurriyah) yang merupakan pilar utama demokrasi yang diwarisi semenjak zaman nabi Muhammad saw., termasuk didalamnya kebebasan memilih pemimpin, mengelola negara secara bersama-sama (syura), kebebasan mengkritisi penguasa, dan kebebasan berpendapat.
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah swt-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, dan apabila kamu telah membulatkan tekad maka berdakwahlah kepada Allah swt, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali Imran: 159).Surah Ali ‘Imran ayat 159 membahas tentang tata cara melakukan musyawarah. Ayat ini diturunkan sebagai teguran terhadap sikap para sahabat Rasulullah Saw. yang telah menyepakati keputusan musyawarah dalam menerapkan strategi Perang Uhud, tetapi mereka melanggar kesepakatan tersebut. Oleh karena sikap melanggar dari keputusan musyawarah dalam Perang Uhud, kaum muslimin menjadi sulit mengalahkan musuh.
Ayat-ayat Alquran tentang Berpikir Kritis dan Bersikap Demokratis
1. Surah Ali ‘Imran Ayat 190-191
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
190-191رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran: 190-191).
  Dalam ayat 190 menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam tatanan langit dan bumi serta keindahan perkiraan dan keajaiban ciptaan-Nya juga dalam silih bergantinya siang dan malam secara teratur sepanjang tahun yang dapat kita rasakan langsung pengaruhnya pada tubuh kita dan cara berpikir kita karena pengaruh panas matahari, dinginnya malam, dan pengaruhnya yang ada pada dunia flora dan fauna merupakan tanda bukti yang menunjukan keesaan Allah Awt., kesempurnaan pengetahuan dan kekuasaannya.

  2. Surah Ali ‘Imran Ayat 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُعَنْ
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah swt-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, dan apabila kamu telah membulatkan tekad maka berdakwahlah kepada Allah swt, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali Imran: 159).
Surah Ali ‘Imran ayat 159 membahas tentang tata cara melakukan musyawarah. Ayat ini diturunkan sebagai teguran terhadap sikap para sahabat Rasulullah Saw. yang telah menyepakati keputusan musyawarah dalam menerapkan strategi Perang Uhud, tetapi mereka melanggar kesepakatan tersebut. Oleh karena sikap melanggar dari keputusan musyawarah dalam Perang Uhud, kaum muslimin menjadi sulit mengalahkan musuh.
Asababun nuzul turunnya ayat 190-191 :Ath-Thabrani dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “orang-orang Quraisy mendatangi orang-orang Yahudi dan bertanya kepada mereka, apa tanda-tanda yang dibawa Musa kepada kalian?” orang-orang Yahudi itu menjawab “Tongkat dan tangan yang putih bagi orang-orang yang melihatnya.” Lalu orang-orang Quraisy itu mendatangi orang-orang Nasrani, lalu bertanya kepada mereka, “apa tanda-tanda yang diperlihatkan Isa?.” Mereka menjawab, “Dia dulu menyembuhkan orang yang buta, orang yang sakit kista dan menghidupkan orang mati.” Lalu mereka mendatangi Nabi SAW. lalu berkata kepada beliau, “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk mengubah bukit shafa menjadi emas untuk kami’’. ayat ini turun karena kejahilan orang-orang Quraisy yang meminta bukti kenabian Rasulullah dan kebenaran ketuhanan ALLAH. Kemudian ALLAH menurunkan ayat ini untuk menajdai jawaban bagi Rasulullah bagi orangorang quraisy.
Isi Kandungan Al-Qur'an Surat Ali Imran: 190-191.
  Tujuan dari ayat ini adalah sebagai pembuktian tentang tauhid, keesaan, dan kekuasaan Allah Swt. Hukum-hukum alam yang melahirkan kebiasaan-kebiasaan pada hakikatnya ditetapkan dan diatur oleh Allah Swt Yang Maha Hidup lagi Qayyum (Maha Menguasai dan Maha Mengelola segala sesuatu). sesungguhnya dalam penciptaan, yakni kejadian benda-benda angkasa seperti matahari, bulan, dan jutaan gugusan bintang –bintang yang terdapat di langit, terdapat tanda-tanda kemahakuasaan allah bagi ulul yakni orang-orang yang memiliki akal yang murni.
Isi Kandungan Al-Qur'an Surat Ali Imran Ayat 159
  Ayat di atas menjelaskan bahwa meskipun dalam keadaan genting, seperti terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam perang Uhud sehingga menyebabkan kaum muslimin menderita kekalahan, tetapi Rasulullah saw. tetap lemah lembut dan tidak marah terhadap para pelanggar, bahkan memaafkan dan memohonkan ampun untuk mereka. Seandainya Rasulullah bersikap keras, tentu mereka akan menaruh benci kepada beliau. Dalam pergaulan sehari-hari, beliau juga senantiasa memberi maaf terhadap orang yang berbuat salah serta memohonkan ampun kepada Allah Swt. terhadap kesalahan-kesalahan mereka.
Perilaku yang mencerminkan sikap berpikir kritis dan bersikap demokratis dalam hidup sehari-hari
  Selalu melalukan tafakur dan tadabur untuk mengambil hikmah dari segala ciptaan Allah Ta’ala.
  Bersikap lemah lembut dalam menyelesaikan masalah dan tidak bertindak kasar.
  Berlapang dadam,pemaaf,dan memohonkan ampun kepada Allah Ta’ala.
  Mengutamakan musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan setiap persoalan.
  Menerima dan taat dalam melaksanakan keputusan musyawarah.
  Selalu berserah diri kepada Allah Ta’ala.

Hikmah sikap berpikir kritis dan bersikap demokratis dalam hidup sehari-hari.
  Berhati-hati dalam segala aktivitas
  Tidak mudah terpengaruh oleh isu dan provokasi.
  Tidak menghina kekurangan orang lain.
  Mempunyai banyak teman.
  Menghormati pendapat orang lain.
  Mengutamakan kepentingan bersama.
  Mudah memaafkan kesalahan orang lain.
  Berserah diri kepada Allah Ta’ala dan bertawakal dalam segala urusan


2 komentar:

  1. KARNA BLOG INI NILAI SAYA MENINGKAT JAUHHH SEKALI SEPERTI LANGIT TERIMAKASIH BAPAKK:))))))

    BalasHapus
  2. KARNA BLOG INI NILAI SAYA MENINGKAT JAUHHH SEKALI SEPERTI LANGIT TERIMAKASIH BAPAKK:))))))

    BalasHapus